Beda di Molobog yang berada di bagian hilir lingkar tambang, lain pula di Desa Lanut di bagian hulu kawasan tambang emas. Desa Lanut memiliki masalah ketersediaan air bersih. Tiga tahun terakhir ini warga Lanut sulit mendapatkan air bersih.
Pipa saluran air bersih pecah di hulu, yang ditengarai akibat benturan alat ekskavator di lokasi tambang emas. Setelah sekian lama dibiarkan begitu saja, saat ini kondisinya semakin parah. Pipa-pipa saluran yang tersisa hilang entah ke mana.
“Ada yang mencuri, karena pipa tidak lagi terpakai untuk saluran air,” kata Jhonly Mongilal, warga Desa Lanut, Senin (4/5). Ia sangat menyangkan kesusahan yang dialami masyarakat tidak mendapat keseriusan baik oleh perusahan tambang atau pemerintah.
Bak beton di bangun PT JRBM pada tahun 2012 lalu—saat itu perusahaan tambang masih dikuasai PT Avocet—kondisinya terbengkalai sudah bertahun-tahun. “Avocet sudah diganti JRBM, tapi sampai sekarang belum ada bantuan air bersih,” keluh Jhonly.

Bangunan bak air bersih disiapkan oleh PT JRBM tahun 2012 kini tidak lagi berfungsi. Pipa di hulu mengalami kerusakan yang diduga akibat aktivitas ekskavator. (Foto: jurnalis Instink.net: Faisal Manoppo)
Distribusi air bersih sebelumnya melimpah di desa lingkar tambang ini, kini, menjadi komoditas komersil. Mendapatkan air bersih saja, warga Lanut selama ini harus merogoh isi kantong. Air bersih yang di ambil di bagian hulu bukit, lalu dijual kembali oleh warga yang menawarkan jasa. Satu bak air bersih 1000 liter dihargai Rp 150 ribu.
“Bagi yang tidak punya cukup uang untuk membeli air bersih, warga pergi meminta air di kampung sebelah,” tambah Wandi Mokoginta, seorang warga lainnya.
Dari banyak soal yang dialami oleh warga desa Lanut, bagi Wandi, hal yang paling krusial adalah bagaimana warga mudah mengakses air bersih. Persoalan aktivitas tambang emas, tidak adanya lahan perkebunan yang bisa digarap, memang cukup penting. Namun sulitnya air bersih sangat dirasakan warga.
“Perusahaan tambang emas tidak ada lagi kontribusinya bagi warga di lingkar tambang. Pemerintah daerah juga tidak serius apa yang dialami masyarakatnya. Selama tiga tahun ini kami susah air bersih,” kata Wandi.
Bayangan Pemerintah Boltim
Bayangan mula agak samar, mengenai langkah lanjut Pemkab Bolaang Mongondow Timur (Boltim) setelah PT JRBM menyerahkan lahan area pengguna lain seluas 182,07 hektare ini kepada pemerintah daerah.