Upaya Reklamasi Lanut, Di Antara Dua Bayangan: Lestari atau Tambang

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Sebegitu “akrab” pria ini dengan banjir, sempat ia memperhatikan ada sesuatu yang janggal manakala banjir itu datang.

“Saya meyakini ada pembuangan bak air besar di bagian hulu sana saat turun hujan. Adakalanya permukaan air sungai bergelombang besar layaknya air yang muntah tiba-tiba. Ada juga banjir tapi permukaan air mengalir seperti biasa, tidak bergemuruh. Banjir di desa ini anehnya seperti itu,” ungkap Nehemiah menjelaskan pengamatan sederhananya.

Dia berharap tanggul yang sedang di bangun saat ini hingga akan melewati samping rumahnya, segera cepat selesai. Sebab selain rumahnya yang kapan saja bisa banjir, di bagian belakang rumah juga ada bangunan sekolah SD dan TK.

“Kalau banjir pas hari sekolah, kan bahaya bagi anak-anak,. Di sini (Molobog) tidak hujan, tapi di hulu hujan, kami yang kebanjiran,” lanjutnya lagi mengingatkan. Meski akan di bangun tanggul, ia tetap merasa tidak yakin rumahnya bakal terlindungi dari bencana banjir yang datang tiba-tiba.

Pembangunan tanggul di sepanjang sungai Molobog sedang di bangun, diharapkan dapat mencegah luapan air sungai, 4 Mei 2026. (Foto: jurnalis Instink.net: Faisal Manoppo)

Pembangunan tanggul di sepanjang sungai Molobog sedang di bangun, diharapkan dapat mencegah luapan air sungai, 4 Mei 2026. (Foto: jurnalis Instink.net: Faisal Manoppo)

Warga Desa Molobog dan Molobog Timur adalah sedikit gambaran nyata apa yang mereka alami akibat adanya peningkatan bukaan hutan oleh aktivitas tambang di hulu pegunungan. Seperti peribahasa “tidak makan nangka tapi kena getahnya”, Molobog tidak menambang emas namun mereka menambang banjir.

1 2 3 4 5 6 7 8
Bagikan berita ini:

Leave A Reply

2

instink.net