Sisi utara bekas jalan yang runtuh itu, terlihat potongan-potongan raksasa di bukit bekas kerukan eksavator. Lebih menakutkan lagi, jarak bukit yang dijadikan pengolahan tambang emas itu tidak cukup jauh dari rumah penduduk yang dibangun sejajar dengan badan jalan. Syahdan, cukup dekat pula dari jalan putus itu. Jaraknya hanya sepelamparan batu. Saya bergumam dalam hati, apakah mereka tidak takut rumahnya ikut runtuh dengan struktur tanah yang tampak labil itu?

Aktivitas tambang emas rakyat di Desa Lanut menjadi pemandangan “tersendiri” belakang rumah warga, Senin 4 Mei 2026. (Foto: tim Instink.net)
Perubahan panorama alam berganti ketika iringan mobil mulai memasuki kawasan tambang JRBM. Jalan aspal berganti tanah merah berbatu. Menurun dan menanjak. Rusak. Mobil yang kami tumpangi memang disiapkan guna menjawab tantangan medan jalan, meraung tangguh.
20 menit sebelum tiba di lokasi yang dituju, sepanjang jalan kami disajikan pemandangan yang tidak kalah “hebatnya”. Manakala pandangan menoleh ke kanan, mata dimanjakan hamparan pepohonan tegak berdaun rapat merefleksikan hijau yang menentramkan hati siapa saja yang melihatnya. Namun, sebaliknya, ketika mata beralih ke arah kiri, pemandangan menyajikan bongkaran-bongkaran besar material tanah sisa pengerukan ekskavator; sayat-sayat perbukitan yang berubah menjadi tebing-tebing telanjang tanpa vegetasi, tampak rapuh, rawan longsor.

Alat berat ekskavator di lokasi tambang rakyat beroperasi di sekitar batas kawasan reklamasi Lanut JRBM, Rabu 29 April 2026. (Foto: tim Instink.net)Alat berat ekskavator di lokasi tambang rakyat beroperasi di sekitar batas kawasan reklamasi Lanut JRBM, Rabu 29 April 2026. (Foto: tim Instink.net)
Pemandangan mata yang tidak biasa bagi saya, ketika melihat beberapa orang melakukan aktivitas mendulang emas di tepian sungai dangkal berwarna coklat pekat. Menurut pengakuan sejumlah warga, pendulang emas tradisional ini, mereka mengais bebatuan sisa buangan dari aktivitas tambang emas di hulu sungai Lanut.
“Hanya bisa dengan cara seperti ini. Mudah-mudahan bisa dapat emas lagi,” ucap Atini, warga Desa Lanut, Senin (4/5) siang. Sejak pagi itu, Atini Mamonto (70) duduk di bebatuan tepian aliran kecil sungai sembari memilah satu-satu bebatuan seukuran kepalan bayi.Tangannya yang sudah kerut tampak pucat karena lama berendam dengan air. Atini seperti sudah terbiasa duduk berlama-lama di tepi aliran sungai yang bermuara di Desa Molobog dan Motongkat.
Ia sepenuhnya sadar, aliran sungai ini rentan terkontaminasi bekas campuran zat sianida dengan sisa material hasil buangan olah tambang emas di hulu Lanut. Baginya, setengah gram emas yang pernah dia dapatkan tempo hari lalu, begitu berharga.
“Kalau pulang ke rumah, langsung mandi pakai sabun, sudah bersih,” ucapnya berseloroh.

Mendulang emas. Atini Mamonto (70) memilah bebatuan di sungai bekas buangan aktivitas tambang emas rakyat di hulu perbukitan Desa Lanut, Senin 4 Mei 2026. (Foto: Jurnalis Instink.net – Faisal Manoppo)