Menurut penjelasan Arifin Kasala, Forman tim Reklamasi Lanut, kadar air sungai di lokasi JRBM Lanut berada pada ambang batas normal. Namun, lanjut Arifin, di bawah sana, ada pertemuan dua aliran sungai yang kemudian menyatu di Desa Molobog.
“Satu (sungai) dari lokasi JRBM, satunya lagi ada pertemuan aliran sungai dari lokasi tambang emas rakyat,” jelas Arifin.

Air sungai di area pascatambang Lanut JRBM tampak bening ini bermuara di Desa Molobog, Rabu 29 April 2026. (Foto: jurnalis Instink.net – Faisal Manoppo).
Pertanyaan ini tidak lantas berhenti. Rasa penasaran saya ingin berkunjung ke Desa Molobog. Jaraknya sekitar 20 menit perjalanan berkendara dari Desa Lanut.
Molobog “Menambang” Banjir
Saya menyelusuri peta digital pada aplikasi google map, ada tiga desa yang menjadi muara pertemuan antara sejumlah anak sungai dari hulu Desa Bai dan Desa Lanut juga sebagian hulu Tobongon. Yakni Desa Molobog, Desa Molobog Timur dan Desa Motongkad (di pesisir). Dua desa di antaranya yakni Molobog dan Molobog Timur lebih sering terjadi banjir.
Bencana banjir karena meluapnya permukaan sungai Molobog sering dialami warga di dua desa tersebut, satu di antaranya dirasakan Nehemiah Manongkah (68), warga Desa Molobog Timur.
Rumahnya berada di posisi rawan banjir: berdiri sangat dekat dengan sisi badan jembatan Molobog Timur yang di bangun lebih tinggi dari atap rumah Nehemiah, dan batas dinding rumah dengan pinggir sungai hanya lima meter. Saya yang melongok dari jendela rumah melihat sungai, membayangkan ketika banjir datang hanya cukup satu detik saja air bisa sampai di rumah.

Sungai Desa Molobog Timur sering meluap hingga membanjiri rumah penduduk, Senin 4 April 2026. (Foto: jurnalis Instink.net: Faisal Manoppo)
“Tahun ini sudah banyak kali banjir. Makanya rumah yang saya bangun ini terbuat dari kayu dan tripleks,” kata Nehemiah saat ditemui di kediamannya, Senin (4/5) siang, sedang merehab rumahnya. Entah sudah berapa kali mengalami banjir hingga Nehemiah sulit mengingatnya kembali.