Senin, 20 Januari 2020

’’Kenapa Kalian Ribut di Tempat ‘Kami’..’’ (Eps: VII/Habis) XPALA Ekspedisi Selendang Biru— sebuah catatan perjalanan di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Desa Bumbung, Bolmong, Indonesia

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

’’…Alam menunjukkan caranya sendiri bagaimana mendidik kita. Jika kita tidak menyadari, alam pula yang menegur kita. …Belum cukupkah kita sadar?’’

—Faisal Manoppo—

 

Pagi masih terasa lembab, pukul 05.40 Wita, saya terbangun. Perapian tersisa abu. Saya membangunkan Iwan untuk bersiap. Perjalanan pulang masih panjang di mana banyak rintangan jalur di depan membayang menanti. Kembali saya dan Iwan mengganti pakaian kering dengan pakaian dinas yang masih basah. Mengalihkan rasa lapar saya minum air putih dari dalam tumbler. Rasanya cukup dingin diselimuti embun semalaman. Tidak ada secangkir kopi panas sebagaimana yang kami bayangkan ketika bangun sepagi ini. Kami harus bergegas mengejar Jojo dan Aping. Semoga mereka tidak jauh di depan sana menunggu kami dengan menyimpan sisa logistik.

Masih terlalu pagi jika mengambil jalur menyeberang dengan berenang di sungai yang dalam berarus. Sangat berisiko. Tidak ada alternativ jalur selain harus menemukan rintisan jalur yang pernah dilalui Chan tempo hari.

Ransel sudah dipundak, saya dan Iwan menanjak bebatuan besar sampai di relung  bukit dan menyusuri pinggiran vegetasi. Sampai di tepi jurang yang kemarin saya selusuri, arah jalur dapat terlihat namun sangat terjal. Saya melihat jalur harus melalui permukaan batu yang timbul dari tebing mengaga jurang sedalam sekitar delapan meter dengan dasar bebatuan. Di tengah jalur tebing sepanjang empat meter terhalang dua batang pohon menyerupai huruf V yang sempit. Tidak bisa dilalui dengan ransel menggantung di punggung.

Harus pakai tali atau akar pohon untuk menurunkan ransel sampai di dasar jurang. ’’Pa kita ada tali plastik (rafia),’’ kata Iwan ketika saya tengah mencari akar pohon. Oh, terima kasih ya Allah.. Sebut saya membatin. Untung Iwan membawa sisa tali rafia. Saya mengambil tali rafia dan menggandakan beberapa temali hingga sepanjang sepuluh bentangan kedua tangan. Dua ransel saya ikat sekaligus. ’’Nda satu-satu jo mo kase turun?’’ tanya Iwan ragu. ’’Boleh ini. Terlalu lama satu-satu,’’ timpal saya sambil mengikat kuat di bagian shoulder strap kedua ransel.

Saya menyeret dua ransel sampai di tepi jurang. Di belakang saya, Iwan berposisi sebagai belay—menahan tali tidak meluncur bebas. Perlahan dua ransel terikat diturunkan dengan tali melingkar di batang bohon sebagai ‘alat’ katrol. Saya dan Iwan mengulur tali perlahan . Alhamdulillah, kedua ransel mendarat dengan mulus.

Kedua ransel saya dan Iwan selamat mendarat di bawah jurang. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Giliran saya mengawali jalur melewati di antara dua batang pohon kemudian berjalan dengan badan menghadap rapat di sisi tebing jurang; menjejakkan kaki pada celah permukaan batu seraya meraih akar dan mencengkram batu. Akhirnya saya sampai di permukaan jalur yang cukup aman. Kemudian disusul Iwan yang terlihat sangat berhati-hati. Jemarinya kikuk meremas batu di penghujung jalur. Saya mencoba meraih tangan Iwan dan menariknya. Selamat.

Iwan saat hendak meraih akar pohon di tepi jurang. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Jalur tersisa saya dan Iwan perlahan menuruni bebatuan bertingkat sampai di dasar jurang. Alhamdulillah.. Saya dan Iwan bernafas lega. Melihat kembali di atas jurang yang kami lalui perasaan bercampur antara rasa bangga dan gila. ’’Bukan main torang pe perjalanan ini Iwan,’’ ucap saya dengan nada semangat. Tali rafia yang turut menyelamatkan kami, dimasukkan kembali ke dalam ransel Iwan. Ransel di pukul kembali dan memulai perjalanan menyusuri pinggiran sungai. Jalur ini bukan sebelumnya yang pernah di lewati. Namun setidaknya kami bisa menghindari resiko berenang menyeberangi sungai. Hanya Iwan yang cukup mahir berenang.

Melompat di antara bebatuan; lalu kembali memotong sungai sedalam batas dengkul telah dilalui selama sekian jam perjalanan. Hari menjelang siang. Beberapa kali saya sempat muntah air karena isi lambung tidak terisi makanan. Mengalihkan rasa lapar dengan minum air tidak dapat menolong banyak. Badan saya cepat letih. Sebatang coklat chok-choki terakhir beberapa jam lalu sudah habis kami berbagi. Beberapa kali saya dan Iwan saling silang soal navigasi mengandalkan ingatan. Iwan menunjuk harus menyeberang sungai, sebaliknya, saya memaksa melewati punggungan bukit. Sebenarnya jika di tengah hutan, cara itu sangat fatal. Cukup beruntung navigasi kami tidak boleh jauh dari sungai sebagai penanda navigasi alami.

Salah satu jalur curam saya dan Iwan lewati dengan dua urat tali rotan sebagai alat bantu. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Akhirnya Iwan mengalah. Kami menanjak relung bukit. Tidak ada tanda-tanda bekas jejak yang dilalui tim sesudah kami. Saya sepenuhnya sadar, ini bukan jalur sebenarnya. Rasa lapar tidak terbendung. Bahagia sesaat ketika saya mendapati pohon pisang hutan yang sudah berbuah. Ini pisang monyet. Sedikit ‘daging’, bijinya mendominasi. Rasanya sepat pula. Saya tidak bisa memakannya. Ini harus dibakar tapi tidak ada waktu lagi. Perjalanan harus terus berjalan.

Melewati dahan rapat berduri di lereng bukit membuat saya dan Iwan berjalan merangkak. Wajah, tangan, baju, acap tertancap duri merobohkan semangat saya dan Iwan. ’’So nda ada jalur di muka,’’ kata Iwan terlihat pasrah beberapa meter di depan saya. ’’Naik terus jo ke atas. Pasti mo dapa,’’ sahut saya memberi semangat.

Sampai di bagian sebelah punggungan bukit batas vegetasi, dari kejauhan Iwan melihat Jojo di bawah bukit seberang sungai. ’’Napa dorang Jojo di bawah,’’ teriak Iwan. Mendengar seperti kalimat ‘harapan dan impian’ di tengah kekalutan, saya hampir tidak yakin. ’’Ah, halusinasi sto ngana, Wan,’’ ucap saya tidak percaya. Ingin memastikan, saya mengeluarkan peluit berbentuk selongsong seukuran jari kelingking dan meniupnya. Bunyinya melengking panjang bersahutan. Mirip bunyi peliut juru langsir di stasiun kereta api tanda lokomotif segera berangkat. Di seberang sana, terdengar bunyi peluit ‘pramuka’, balasan dari Jojo. Wah, ternyata Iwan masih benar-benar sadar. Saya bersemangat.

Saya dan Iwan seperti terburu-buru. Tidak ada jalur lain yang cukup landai turun dari punggungan bukit. Terpaksa kami harus turun dari jurang pendek setinggi tiga meter lebih untuk sampai lebih dekat di spot cabang dua tempat Jojo dan Aping menunggu. Memperhatikan medan jalur, Iwan mendapati ada akar pohon dan dahan yang bisa dijadikan pegangan dan pijakan. Tali rafia kembali menjadi penyelamat daripada harus melempar ransel di atas bebatuan. Iwan yang sudah sampai di bawah, menunggu ransel yang saya turunkan dari atas. Dua ransel di terima Iwan, sisa tali rafia saya lempar ke bawah. Kemudian berhati-hati saya turun memegang akar dan dahan pohon. Sampai di bawah, tali rafia saya masukkan kembali ke dalam ransel. Jojo sedari tadi mengamati kami di atas bukit dari seberang sungai, membantu saya dan Iwan memikul ransel menyeberangi sungai sedalam sepinggang.

Akhirnya saya dan Iwan sampai di cabang dua setelah menuruni patahan tanah ini. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Tepat di tengah hari, akhirnya saya dan Iwan sampai dan bersama lagi dengan Jojo dan Aping. Mereka menanyakan keberadaan Rivan dan Panji. ’’Dorang masih di belakang. Mungkin so dekat kamari,’’ jawab Iwan. Saya mengaktifkan HT namun tidak ada jawaban dari Rivan. Pasti mereka dalam perjalanan. Mengingat yang diyakini oleh Chan, tim pilihannya adalah yang terbaik dalam survival. Dalam hati saya berdoa.

Sebagaimana diharapkan Iwan dan saya, bekal logistik yang di bawa Jojo dan Aping tersedia cukup untuk kami berenam. Mereka sudah menunggu kami sejak kemarin dan bermalam di cabang dua ini. Apa jadinya saya, Iwan, Panji, Rivan jika Jojo dan Aping terus berjalan meninggalkan kami? Keputusan Jojo bermalam untuk menunggu kami sudah sangat tepat. Tersisa, Rivan dan Panji.

Saya dan Iwan mengganti dengan pakakain bersih, Aping segera menyiapkan mie instan dan rebusan air panas batang serai dicampur bawang merah pengganti jahe yang sudah habis. Entah rasanya seperti apa, saya tidak peduli lagi. Namun racikan air panas ini cukup hangat di leher dan di badan. ’’Kita kira ada yaki di atas (bukit), Ka’’. Aping membuka percakapan. Saya dan Iwan tertawa. Ketika mereka menunggu kami, Jojo juga mendengar suara melengking panjang namun dia tidak bisa membedakan jika itu suara peluit atau burung. ’’Itu suara burung atau apa..,’’ kata Jojo menengadah sambil garuk kelapa meski tidak gatal. ’’Pemar.. Kita pe suara peluit itu’’. Kami tertawa.

Saya kemudian mengontek lagi Rivan dengan HT. Masih juga belum ada jawaban. Jojo terus mengamati di kejauhan jalur sungai arah air terjun menanti kedatangan Rivan dan Panji.

Tuhan mempertemukan kami kembali secara utuh. Sejam kemudian, Panji muncul. Badannya lunglai dan basah kuyup memilkul ransel 75lt berisi alat panjat. Beberapa menit menyusul Rivan, pun dalam kondisi basah. Beda dengan saya dan Iwan melewati punggungan bukit di seberang sungai. Rivan dan Panji tiba di jalur yang pernah dilalui.

Saya menyambut Panji dengan segelas air panas racikan tanaman. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Beberapa bungkus mie instan disajikan Aping ludes dilahap Rivan dan Panji. Mereka juga kelaparan. Kami sangat menikmati kebersamaan sambil mengisap tembakau. Bertukar kisah sejak ketika terpisah jarak. Rivan bercerita perjalanannya dengan Panji; banyak berhenti karena beban ransel yang dipikul Panji. Iwan penuh dramatis nan horor ketika bermalam di gua batu bersama saya. Pun Jojo dan Aping beratapkan fly sheet berselimut sleeping bag semalam terjaga kerap mendengar seperti ada sesuatu yang bergerak di balik semak belukar.

Sisa logistik yang di bawa Jojo dan Aping menyelamatkan saya, Iwan, Rivan dan Panji. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Suasana kemudian berganti tenang. Satu per satu mulai mengalas dengan matras merebah badan. Terutama Panji, Rivan, Iwan dan saya butuh sejenak memanjakan mata.

Waktu menunjuk pukul 3 sore. Tidur pulas sehabis makan meski hanya sebentar cukup mengembalikan stamina kami. ’’Mari jo torang dusu waktu sebelum malam sampai di daseng pasir,’’ ucap saya membangunkan lainnya. Kami mulai mengemas barang ke dalam ransel. Tempat persinggahan dibersihkan dan hanya meninggalkan jejak. Seberes itu, kami mulai melanjutkan perjalanan. Kali ini, terpatri di benak masing-masing tidak ada yang terpisah jarak. Tanpa komando, Jojo memimpin jalur.

Ketelitian Jojo merasa dan mengingat jalur cukup diandalkan. Pun saya yang berada di tengah ikut merasakan jalur ini tidak asing lagi. Perjalanan tidak begitu cepat tidak juga lambat. Ritme berjalan kami hampir sama. Jojo di depan sesekali melihat ke belakang dan berhenti sejenak sampai tidak ada yang terpisah. Terus begitu ketika menanjak relung bukit dan menyusuri sungai. Sepanjang sore hujan membasuh peluh kami.

Nyawa Selamat

Masuk di jalur batu lereng di punggungan bukit, kami berenam terhenti. Medan jalur ini sangat berbahya di saat hujan, licin. Di ujung lereng batu kemiringan 45 derajat ini, jurang setinggi 20 meter dengan dasar sungai bebatuan. Berenam kami berbaris di tepian relung bukit. Terdapat dua tali rotan yang—entah kapan—dipasang oleh warga pada sebuah pohon di jalur sebelum dan sesudah tebing batu. Harus ada perintis jalur yang lebih dahulu sampai di tengah antara tebing dan ujung tebing agar tali rotan bisa dibentang.

Dari seberang jalur curam pertama, kami bergiliran melewati jalur curam kedua dan ketiga. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Satu per satu harus melewati lereng miring itu. Jojo baru mencoba dua langkah melewati tebing batu miring namun gagal dan kembali lagi. Saya di belakang Jojo maju mencoba. Mengulang dilakukan Jojo, tangan saya meremas celah bebatuan. Kaki masih memakai sepatu boots memijak permukaan batu. Saya harus sampai di tanah datar kecil di antara tebing batu. Keberanian—boleh dibilang nekat—saya mengayun badan melempar sampai di tepian tanah datar. Hup, berhasil. Tali rotan yang diikat di pohon ujung jalur pertama dilempar Jojo ke arah tempat saya berpijak. Melewati tebing disusul Aping. Saya membelitkan tali rotan di lengan dan menarik kuat bentangan tali rotan yang akan dilalui Aping. Sangat perlahan dan penuh kehati-hatian, Aping sampai di tempat saya. Jojo, Rivan, Iwan dan Panji masih menunggu di jalur pertama.

Lagi saya memulai mencoba melewati jalur tebing yang kedua. Kali ini lereng permukaan tebing batu lebih ekstrem karena basah. Aping siaga awas berjaga saat kaki saya mulai mencari celah batu. Kedua tangan mencengkram di batu; kaki berpijak di celah kecil lereng batu; wajah dan badan dengan ransel di pundak menempel rapat di permukaan tebing. Seperti manusia laba-laba saya terjebak tidak bisa lagi bergerak. Hanya mencengkram sekuatnya agar tidak terlepas dan merosot mulus jatuh di ujung jurang. Dengan nada agak panik karena merasakan bakal terlepas dari tebing batu, saya meminta Aping menarik saya. ’’Aping! Tahan pa kita. Tahan pa kita! Refleks Aping cepat meraih dan meremas ransel saya. Mendegar komando Aping agar saya melepaskan cengkraman dari tebing batu, badan saya sedikit merosot di tebing namun dengan kuat Aping menarik saya kembali.

Di tebing curam ini nyawa saya diselamatkan Aping. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Jantung saya berdegup kencang. Sekelebat saya membayangkan jika tidak ditarik Aping, sudah pasti saya tergelincir dan terjun bebas di jurang. Sejenak saya menenangkan diri. Jojo, Iwan, Rivan dan Panji masih di jalur pertama hanya tertegun diam tidak bisa berbuat apa-apa.

Sesaat setelah saya diselamatkan Aping dari tebing ekstrem. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Tak lama Rivan mengambil giliran melewati tebing pertama. Saya dan Aping membantu dengan menarik bentang tali rotan. Rivan akhirnya sampai bersama saya dan Aping. Di jalur kecil ini hanya cukup kami bertiga. Kemudian Rivan mencoba jalur tebing yang sempat saya gagal jajaki. Namun saya menyuruh Rivan melepas ranselnya agar mendapatkan kesimbangan. Dengan bekal panjat dinding yang dimilikinya, Rivan mencari dan meraih  celah di permukaan tebing batu. Saya dan Rivan bersigap mengantisipasi. Perlahan dan pasti, Rivan akhirnya sampai di titik aman di seberang tebing batu.

Satu per satu ransel di-oper dengan tali rotan dan webbing melewati tebing curam. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Penjajakan di lereng tebing batu perlahan kami kuasai. Untuk memudahkan keseimbangan, satu per satu pengiriman ransel melalui tali rotan dan tali webbing, saya dan Aping terima dari Jojo di seberang jalur pertama. Kemudian ransel berpindah lagi ke tangan Rivan dengan tali rotan dan webbing di seberang ujung tebing jalur kedua.

Iwan mengambil posisi melewati tebing jalur pertama. Dengan tali rotan dan tali webbing mengikat di badan Iwan, saya dan Aping membantu dan meraihnya. Lalu melewati jalur tebing kedua, Iwan dibantu Rivan yang berada di seberang jalur dengan membentangkan tali rotan yang saya terima. Bentangan tali rotan disertai tali webbing ini sangat membantu setidaknya sebagai pemandu jalur atau satu-satunya ‘pengaman’ ketika terperosok. Lalu disusul Panji dan Jojo. Begitu seterusnya sampai kami berada di ujung tebing jalur kedua dengan selamat.

Waktu berpindah diujung petang. Jarak pandang mulai pendek. Senter kepala mulai dikeluarkan. Jalur-jalur ekstrem sudah di lewati. Menyeberang sungai dengan rakit bambo yang saya khatirkan, nyaris buat saya tenggelam. Panji mengendalikan rakit yang dinaiki Rivan, Aping dan Jojo belum cukup mahir hampir terbawa arus. Bukan malah panik, Iwan dan saya yang sudah sampai di seberang sungai justru tertawa melihat kekonyolan mereka.

Menyeberang sungai dengan rakit bambu, Panji, Rivan dan Aping nyaris terbawa arus. Jojo melompat berenang. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Hujan kembali mengguyur saat menyusuri punggungan bukit setelah jalur ekstrem. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Malam menyambut kami ketika sampai di seberang sungai tidak jauh dari daseng pasir. Kami sangat merasakan kebahagiaan karena perjalanan pulang terasa sudah cukup dekat—kendati masih tersisa setengah hari perjalanan lagi. Namun rintangan terakhir sebelum sampai di daseng pasir, kami harus menyeberangi sungai berarus deras karena hujan sore tadi. Disaat kritis, Rivan punya ide untuk melewati arus sungai ini. ’’Torang sama-sama baku kancing tangan, nimbole ada satu yang talapas,’’ kata Rivan. ’’Oiyo. Betul itu’’ sahut lainnya meng-iya-kan.

Formasi masih tetap sama. Diikuti lainnya secara perlahan meraba jalur sungai. Posisi saya setelah Jojo yang memimpin pertama memotong sungai dengan agak menyerong mengikuti arus sungai dengan badan menghadap arus. Baru setengah di antara kami masuk di sungai, Jojo nyaris masuk di sungai yang cukup dalam dan hampir terbawa arus. Seketika itu kami saling mengencangkan ikatan tangan dan menarik satu sama lainnya, sampai Jojo berdiri stabil dan kembali ke tepi sungai. Saya membayangkan jika satu terlepas atau barisan rapat tadi rubuh terbawa arus, celakalah saya tidak bisa berenang.

Jurus pola merantai tangan satu dengan tangan yang lain berjejer merapat kami berenam pada uji pertama cukup ampuh. Kami mengulang kembali namun pindah mencari jalur sungai yang lain.

Kini Panji menggantikan posisi Jojo. Belajar pengalaman sebelumnya, kami saling merapat mengencangkan lengan saling mengait erat, perlahan turun memotong arus sungai. Setelah semua barisan masuk di arus deras sebatas di atas perut, posisi saya sudah di tengah arus, tiba-tiba pijakan Panji tergelincir dan hilang keseimbangan karena beban ransel. Kami kompak saling memberikan komando, ’’..Tahan kuat!! Jangan sampai ada yang talapas!’’. Tangan kanan dan kiri saya semakin kuat mengancingkan lengan Iwan dan Jojo. Panji mendapatkan posisi keseimbangan kembali lalu terus berjalan menyamping menghadap arus. Benteng pertahanan barisan kami menahan arus hampir rapuh.

Sampai akhirnya Panji sudah cukup dekat di tepi sungai dan mendapat keseimbangan penuh, lalu menarik kami yang masih tersisa di tengah arus. Alhamdulillah ya Allah… Kami semua selamat. Suasana tegang berubah menjadi plong. Kami sampai di daseng pasir. Hanya kami berenam. Sejak di seberang sungai, kami tidak melihat tanda ada orang di sana. Chan, Papa Budi dan Boim pasti sudah sampai di desa, rumah Intan. Mereka lebih awal mendapatkan kenyamanan di sana. Namun, dengan sampai saja di daseng pasir, kami sudah sangat bahagia dan penuh syukur.

Selepas melewati ketegangan, kami memilih untuk bermalam di daseng pasir. Sebab, jalur di depan sana, masih sekitar lima kali lagi memotong sungai. Berharap malam ini tidak turun hujan sampai di hulu agar esok harinya perjalanan kami tidak ada hambatan. Semoga.

Puji syukur kembali kami panjatkan. Di daseng pasir terdapat sejumlah bekal berupa mie instan, beras dan kopi, lengkap dengan sekantung tembakau yang ditinggalkan Chan. Mereka tahu kami kekurangan logistik.  Tidak hanya itu, sepiring udang dan siput rica tergantung di atas perapian. Ini pasti masakan Boim yang super pedas.

Sejumlah bekal yang ditinggalkan Chan di daseng pasir. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Makanan makin melimpah ketika Panji mendapati panci di sisi ujung daseng berisikan cah sayur kangkung. Seperti baru di masak dan sama sekali belum tersentuh. Panji punya naluri bahwa sayur masak sebanyak ini juga pasti ditinggalkan oleh Chan, bukan pemilik daseng pasir. Tidak mungkin ditinggalkan semalaman karena besok sayur ini akan basi. Firasat kami sejalan dengan naluri Panji yang cukup logis. Menu kami lengkap sudah. Tinggal menanak nasi dan membuat minuman kopi.

Kami kembali merasakan kebahagian yang utuh telah bersama-sama sampai di daseng pasir tanpa terpisah lagi. Pakaian basah digantung. Badan merasakan nyaman-hangat dengan pakaian bersih dan kering. Nasi sudah masak, kami bersantap sangat lahap. Panji, Aping tambah sampai tiga porsi piring. Lagi-lagi, saya hanya sedikit makan karena tidak begitu lapar. Mungkin perasaan bahagia ini menggeser nafsu makan saya.

Aping lahap menyantap makan malam di daseng pasir. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Malam cukup larut. Seusai makan besar, masing-masing melakukan aktivitasnya sendiri. Panji dan Iwan menggosok badannya dengan minyak GPU. Saya menikmati lagu-lagu indie dari speaker mini portabel sambil memeriksa hasil rekaman di kamera. Jojo, Rivan dan Aping duduk santai dekat perapian sambil menikmati kepulan asap tembakau. Malam itu terasa damai. Langit cukup cerah meski tak banyak bintang bermunculan. Semoga ini pertanda baik, tidak akan turun hujan. Sampai kami mengambil posisi masing-masing menikmati malam yang sangat bersahabat.

Minggu, 7.12.2019, pukul 08.30 Wita, hari ketujuh perjalanan ekspedisi menemui titik puncaknya. Kami sudah terbangun. Cuaca cukup cerah sejak tadi malam. Air sungai surut dan tenang tak sederas semalam. Pagi ini cukup dengan ‘sarapan’ kopi panas. Seperti biasa namun di hari terakhir, pakaian dinas masih basah melekat di badan tidak terfikirkan lagi—karena terbiasa—terasa cukup nyaman. Sisa setengah hari perjalanan dengan medan jalur cukup landai meski lumayan panjang. Itu juga tidak masalah bagi kami.

Setelah menyusuri dan lima kali memotong arus sungai, perjalanan mulai melewati batas vegetasi hutan berganti kawasan perkebunan ladang jagung dan kelapa. Kami cukup santai berjalan sebaris agak merapat seperti pasukan baris berbaris. Selama perjalanan saya membayangkan pada kawan-kawan setiba di sana makan buah-buahan segar. ’’Hayooo..Cemangaattt.. Buah semangka dan melon menanti!’’ seru saya. Membayangkan kerongkongan akan terasa sangat nikmat dibasahi buah semangka dan melon dingin.

Satu kali beristirahat di perkebunan kelapa sambil bercerita sisa perjalanan semalam. Sepertinya cukup seru untuk dijadikan dongeng kepada anak cucu kelak. Di situlah kisah mistik Iwan dan Rivan di bukit Kabela diungkapkan kepada kami. ’’Wah..kenapa tidak bilang sejak itu?,’’ seloroh saya. Rivan dan Iwan tidak menjawab dan mengalihkan fokus cerita. Kami melanjutkan perjalanan.

Setengah perjalanan dilalui tepat tengah hari. Sampai di penyeberangan sungai terakhir, di mana titik pertama perjalanan ekspedisi awal dimulai, kami tiba kembali. Genap tujuh hari perjalanan ekspedisi kami seperti laiknya telah purna terlaksana. Wajah para tim memancarkan kepuasan.

Dekat tepi sungai tempat kami menunggu jemputan, tampak sejumlah petani kopra sibuk mengupas serabut dari batok kelapa. Ada sekitar sepuluh sepeda motor diparkir sudah pasti milik mereka. Tidak sabar ingin cepat sampai, saya menawarkan menyewa kendaraan mereka untuk mengantarkan ke tengah kampung. ’’Om, satu motor boleh mo sewa 10 ribu sampai ke kampung?,’’ ucap saya menawarkan. Mereka saling bertatapan kemudian beranjak dari tempat penampungan kopra. ’’Boleh..boleh’’ jawab seorang pria di antara mereka.

Tidak lama berselang, Boim datang di bonceng oleh seorang pemuda desa. Papa Budi, Chan dan Boim sudah sampai di kampung sejak kemarin. ’’Ka Chan so pulang ke kota Ka, mo ambe oto pikap,’’ ucap Boim.

Disusul Boim, enam motor yang kami sewa membawa Iwan, Jojo, Rivan, Panji, Aping dan saya, keluar dari area perkebunan melewati irigasi besar mengarah bendungan dan kemudian ke arah barat masuk ke tengah kampung, Desa Bumbung. Di sana Intan menunggu.

Intan sudah mengira kedatangan kami dengan menyiapkan makanan. Hal pertama yang kami lakukan adalah mandi sebersih-bersihnya. 7 hari 7 malam sama sekali kami tidak pernah mandi sebersih dan seharum ini. Seusai makan siang jelang sore, sambil menunggu Chan dengan membawa serta jemputan mobil pikap dari Kotamobagu, kami reriungan di bawah pohon mangga besar depan rumah Intan. Tidak lama hidangan es nutri sari dan tiga buah semangka tersaji di tengah kami. Ini adalah ekspetasi saya ketika terjebak dan kelaparan di tengah hutan. Seperti disulap, semangka ludes.

Buah segar menu lezat yang kami tunggu-tunggu setelah perjalanan ekspedisi. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Waktu masuk Maghrib, Chan tiba dengan Ita, istrinya, dan dua mahasiswa. Mobil pikap sudah siap. Kami belum langsung beranjak pulang. Perbincangan di bagian-bagian ‘seru’ dan menantang kembali mengulang kisah perjalan kami berenam seksama didengarkan Chan. ’’Kalau ngoni belum sampai, tim SAR somo turun semua,’’ selorohnya mengejek kami berenam. Chan mengingatkan kami soal logistik yang sengaja ditinggalkannya di daseng pasir karena dia sangat yakin kami tidak menyimpan cukup bekal. ’’Kita suru pa Boim kase masak akang makanan dengan kase tinggal semua logistik pa dorang kalau so sampai di daseng pasir,’’ ucap Chan menceritakan.

Hampir satu jam kami ngobrol, waktu menunjuk pukul 7 malam. Segera kami berpamitan dengan Intan dan keluarganya karena sudah menerima-menjamu kami. Juga mampir untuk pamit ke rumah Papa Budi dan anaknya, Budi, yang mirip dengan bapaknya.

Ransel sudah teratur rapih di bagian sisi depan bak pikap. Sisa ruang kami bertujuh mengisi penuh. Chan mengambil posisi driver bersama Ita membawa kami melaju kembali ke Kotamobagu.

Seluruh ransel di-loading di atas bak mobil pikap bersiap pulang ke Kotamobagu. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Baru setengah jam mobil pikap mengaspal, tepat di ibu kota Lolak kami diguyur hujan. Pakaian kering jadi basah kuyup. Anggap saja ini ‘sapaan’ terakhir kepada kami sebelum sampai di Kotamobagu.

Akhirnya kami tiba. Mobil langsung mengarah ke rumah saya di mana tempat kami memulai ekspedisi ini. Parkir tepat di depan teras rumah, sebagian ransel diturunkan dari bak mobil. Melihat kedatangan kami, istri saya, Indah, menyiapkan kopi panas. Indah sempat kaget melihat badan saya turun drastis. Wajah saya agak bulat kini menjadi tirus. Kulit terbakar matahari. ’’So terakhir ini ee..ekspedisi. So jadi kurus bagini no..,’’ ucap Indah prihatin. ’’Besok mo turun ulang,’’ timpal saya disambut tawa kawan-kawan lainnya.

Kami menyantap makanan nasi ayam padang yang di pesan Indah via layanan Gojek lalu berlanjut ngopi dan ngobrol masih seputar perjalanan ekspedisi. Indah datang mendekat di samping saya dan duduk di atas meja kayu kecil ikut menyimak cerita kami. Lantas saya mengingat kisah mistik yang dialami Iwan dan Rivan sewaktu bermalam di Bukit Kabela. Rasa penasaran mengenai bunyi seruling dari alam lain itu, saya membuka aplikasi Youtube di android dan mengetik kata kunci ‘alat musik Mongondow’ pada kolom pencarian. Satu demi satu video saya ‘klik’ seraya memastikan kepada Iwan seperti apa nada seruling waktu itu. ’’Yang begini, Wan?’’ tanya saya. ‘’’Itu (nada seruling) yang pertama,’’ ucap Iwan disamping kanan saya. Lalu saya mencari lagi video lainnya. ’’Kalau ini?’’. Kali ini wajah Iwan benar-benar sangat yakin. ’’Nah, itu dia persis. Merinding kita,’’ ucapnya seraya mengusap lengan kirinya.

Baru sebentar kami mendengarkan suara musik Mongondow dengan bunyi serulingnya, saya melihat Indah badannya seperti mengikuti alunan musik. Sorot matanya tiba-tiba kosong dan seketika.. ’’Wuaaaaaa…!’’ Tubuh Indah mengejang dan memberontak jatuh di lantai. Indah terus berteriak. Saya langsung memeluk Indah kuat namun tangan dan kaki begitu kuat meronta. Pot bunga pecah di tendangnya. Ita ikut membantu menahan kaki Indah. Iwan menyentuh jemari kaki kejang Indah seraya membacakan ayat suci Al-qur’an. Indah terus meronta di lantai dan saya semakin kuat memeluknya. Jojo, Panji, Rivan dan Boim lari panik sampai ke luar pagar rumah.

Mendengar keributan di depan teras, Ibu mertua saya, datang berlari kecil menghampiri dan menyentuh kepala Indah sambil membacakan ayat Kursi. Hampir semenit proses mengeluarkan ‘sesuatu’ yang merasuki jiwa Indah menciptakan situasi tegang sulit dikendalikan. Sampai diakhir surah ayat Kursi dibacakan ibu mertua saya, seketika itu juga tubuh Indah melemas. Perlahan Indah mulai sadar. Rambutnya acak. Tangan-badannya terasa ngilu dan keram. Bajunya hampir tersingkap namun cepat saya tutupi.

Situasi agak kembali normal meski nuansa mencekam masih tetap terasa. Sorotan mata para saksi di teras terpusat pada Indah. Indah meneguk air putih yang disodorkan dan menenangkan diri duduk di kursi. ’’So ‘dia’ itu tadi. ” ‘Dia’ ba iko,’’ ucap saya bersuara rendah. 

Beberapa saat kemudian, Indah mencoba mengingat hal yang menimpa dirinya. Mulanya dia hampir kehilangan kesadaran saat mendengar suara seruling dari video Youtube yang saya buka. Tidak berdaya Indah terhanyut dalam dan tidak sadarkan diri. ’’Kita pe mulu rupa mo ba carita mar nda dapa keluar’’ ucap Indah. Wajahnya terlihat agak pucat berkeringat.

Lalu Indah berucap, ’’‘Dia’ kata mo bilang, ‘kiapa ngoni ba ribut di tampa pa kita’’ ’. Suasana mendadak hening. Kami saling bertatapan. Jojo, Panji, Rivan dan Boim kembali mendekat di teras rumah.

Saya berupaya mengingat kembali saat itu; di malam pertama dan kedua di basecamp Bukit Kabela. Sepertinya kami tidak begitu kuat mengeluarkan suara dalam obrolan malam. Sesekali diselengi gurau dan tawa namun tidak sampai lepas tak terkontrol. Saya yang punya kebiasaan berbicara kuat dan tertawa lepas, anehnya, malam itu saya lebih banyak diam.

Mungkin saja keberadaan kami saat itu terasa asing karena tidak pernah ada manusia bermalam di tempat itu.

Saya meminta Indah untuk masuk ke dalam rumah. Hawa kami baru pulang dari hutan masih terasa kuat. Saya mengatakan kepada Iwan akan membahas soal itu lebih dalam lagi di kemudian hari. Hanya mengangguk, Iwan mengiyakan. Peristiwa tegang barusan mengubah obrolan kami sebelumnya menjadi lebih berhati-hati berucap. Jojo, Panji, Rivan dan Boim banyak terdiam. Sejam kemudian kawan-kawan pamit pulang.

Kembali ke rumah dengan kondisi sehat dan selamat tanpa kurang satu apa pun. Namun memori selama perjalanan ekspedisi sampai kembali di teras rumah saya, akan terus terbawa sampai akan datang.

Beberapa hari kemudian saya bertemu kembali dengan Iwan. Dia menceritakan, bahwa sepulang mereka dari rumah saya, Ita, istri Chan, malam itu juga bermimpi bertemu dengan seorang perempuan yang sangat cantik. Mungkinkah perempuan itu sama seperti yang ada dalam mimpi Iwan di malam kedua di basecamp bukit Kabela? Wallahu’alam bishawab.

 

Tim Ekspedisi Selelendang Biru diapit oleh dua mahasiswa UDK. Lokasi depan rumah Intan. (Foto: Faisal Manoppo)

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

13 − nine =

instink.net