Bolsel Masih Satu Matahari

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +
Main culas, akal dirasuki siasat sesat, gerilya senyap kasak-kusuk, tabur fitnah sana-sini… cukup hentikan itu saat ini juga. Denyut sosial yang saling bertalian dan terajut lama maka tak heran Bolsel hanya selebar daun kelor. Bau kentut di Molosipat dalam hitungan detik terendus di Iligon. 
Pembaca yang budiman, sebelum sedikit mengurai guratan kecil ini, ada perlunya diketahui, pada 15 tahun silam, saya pernah menurunkan sebuah catatan pinggir ihwal sekonyong-konyongnya seorang wakil bupati yang berlagak melebihi batas kewenangannya.
Syahdan, gelagat tak lazim ini mulai tampak diusia periode belum seumur jagung setelah pasangan pemimpin daerah ini dilantik. Gelagat ini saya urai dengan memberi judul “Ada Dua Matahari di ****** ” (sengaja tidak mencantumkan nama daerah tersebut sekadar tidak ingin membuka “luka” lama) di halaman koran di mana saya bekerja dalam bidang jurnalistik.
Catatan opini ini heboh, khususnya di internal kepemerintahan periode pertama saat itu. Tak dinyana, nada ancaman sampai di depan mata dan batang hidung saya tepat beberapa jam artikel itu tayang. Dan dua hari kemudian, satu ancaman darinya ketika itu, saya menerima teguran lisan—meski tak secara langsung—oleh sang owner perusahaan karena belakangan diketahui terafiliasi dengan subjek terkait catatan tersebut. Saya tak gamang. Toh, itu fakta dan apa adanya bukan ada apanya. Sikap tak mudah lunak saya—tentu saja didukung oleh para senior saya di keredaksian—membuat saya tetap bertahan, sampai akhir perusahaan penerbit ini harus “mengalah” tiga tahun lalu, sebab portal media digital memasuki babak eranya.
Kini, kisah yang demikian itu sepertinya terulang kembali. Namun, ada hal yang cukup menggelikan yang telampau jauh membedakan pada peristiwa lampau itu. Pemeran dan pemain ulah-ulah sok kuasa ini bukan sama sekali yang sedang berkuasa dalam mandat tinggi kepemerintahan. Alih-alih bupati atau wakil bupati, ini hanya segelintir cecunguk yang mencoba mengais sejumput kekuasaan serta memanfaatkannya demi lendir pelumasan kepentingan pribadi. Merasa dirinya mengaku semua Aku dan mengakui Aku semuanya.
Memang ini laeng. Bukan sekadar disebut agak laeng komang. Saya dibuat senyum kimpul dengan sedikit ujung bibir agak monyong ke kanan mengamat begitu kocak lagi cekak nafas birahi ambisi berkuasanya.
Sampai di sini, seperti telah diutarakan pada pembukaan di atas, hanya beberapa saja yang perlu saya catat di sini—kecuali jika pada kemudian setelah ini ada pihak yang memaksakan diri. Dengan sangat senang hati saya ladeni.
Baik. Sebelum saya akhiri suasana hati yang sedang bertabur bunga-bunga ini, saya beri saran yang cukup bijak.     Adus jo… Nikmati dan jalani saja dengan hati yang lapang dan mendalam sedalam-dalamnya serta pikiran yang jernih sejernih-jernihnya terhadap apa yang sudah diraih saat ini. Tahan.. jika perlu, kubur sedalam-dalamnya impian-impian yang coba dilahirkan dengan cara culas dan sarat siasat sesat itu. Jangan mo ta soe ulang untuk kesekian kalinya. Pupuk, pelihara dan jaga baik-baik jalinan yang (sebelumnya) sudah terajut.
Sebagaimana lima atau sepuluh tahun lalu, (dengan berat hati perlu diketengahkan) “matahari” di Bolsel masih satu, boss.. Berkhayal yang tidak-tidak saja tidak perlu, yang perlu-perlu saja nyatakan langsung. Bupati dan Wakilnya mungkin masih cukup terbuka. Mungkin…
Pesan saya terakhir di ujung kalimat ini. Kejadian-kejadian tak mengenakkan dalam tubuh kekuasaan ini, bagi saya ada hikmahnya. Bupati dan Wakil Bupati Bolsel masih ada kesempatan untuk berbenah dengan SEGERA “menjaring ikan yang mulai megap-megap di permukaan air.” Perlu “pembersihan” di jalan-jalan yang menganggu langkah sekurangnya tiga tahun ke depan. Fokus pada visi dan misi yang masih teremban, ditagih oleh rakyat Bolsel.
Terkhusus Bupati Bolsel, kepingan kekuasaan yang pernah “dibagikan”, rebut kembali lalu ambil sikap tegas dengan tatapan lurus ke depan sebagaimana yang telah dibuktikan oleh mendiang Almarhum Herson Mayulu. Saya rasa, Bupati Bolsel sekaligus juga pimpinan partai paham benar hal itu.
Besar harapan, mengawali tahun 2026, hal-hal tersebut tadi dapat direnungkan bersama juga laik sebagai bahan pembelajaran untuk menjadi sosok yang lebih baik dan berguna bagi seluruhnya.
Selamat menyongsong hari Senin pertama di tahun ini.
Cukup sekian, terima kasih. Tabe.
Penulis hanya orang biasa: Faisal Manoppo
Bagikan berita ini:

Leave A Reply

instink.net