Rabu, 5 Agustus 2020

Tanjakan Edan (Eps: III) XPALA Ekspedisi Selendang Biru— sebuah catatan perjalanan di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Desa Bumbung, Bolmong, Indonesia

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

’’Hutan dan seisinya adalah sesuatu yang sangat berharga sebagaimana yang ada di dalam rumah kita. Jaga dan rawatlah’’

Faisal Manoppo

 

Esoknya, Rabu 27.11.2019, pagi menjelang siang, cahaya mentari terhalau bukit dan pohon hutan di depan daseng pasir. Pakaian dinas yang basah kemarin, belum cukup kering. Jojo yang sudah terbangun sedang menghangatkan sisa makanan semalam. Seberes makan dan packing barang, kami mulai melanjutkan perjalanan. Pakaian dinas setengah basah kembali melekat di badan. Ini memang sangat tidak nyaman. Namun begitu cara kami untuk efisiensi perjalanan ekspedisi ini. Sehingganya, pakaian tidak harus di bawa banyak. Cukup satu set (baju-celana) pakaian dinas, dan dua set pakaian kering untuk di pakai tidur.

Baru memulai perjalanan, dengan sepatu boots di tenteng sementara, kembali kami harus memotong arus sungai dan kemudian—kembali memakai boots—menanjak punggungan bukit di antara rimbunan pepohonan. Lima menit menanjak, jalur batu curam dan licin sudah di depan mata.

Dengan seutas tali rotan–entah sudah beralama–kami mendaki di atas permukaan batu di lereng punggungan bukit. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Benar di katakan Papa Budi, kemarin. Hanya saja, informasi dari Papa Budi ketika kami mendengar kata ‘curam’ dan ‘berbahaya’ apalagi ada yang pernah tewas, tidak seseram yang kami dibayangkan. Jalur harus melewati batu lebar berukuran empat daun pintu dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

Di tengah jalur, ada seutas tali rotan sebagai alat bantu. Meski satu per satu harus menanjak jalur terjal berbatu licin itu, cukup lancar kami lewati. Sekitar berjalan 40 meter setelahnya, kami harus melewati jalur selebar hampir dua jengkal dan juga di bagian tertentu kaki berpijak di akar pohon yang di bawahnya terdapat jurang sedalam 20 meter.

Di tebing jalur sepanjang lima meter itu, juga terdapat kabel bekas seukuran telunjuk orang dewasa sebagai pemandu jalur yang dibentangkan oleh warga. Dahulu jalur ini sangat ekstrem. Satu orang warga pernah terjatuh dan tewas. Alhamdulillah, awal perjalan di hari kedua berjalan mulus.

Siang itu, langit mendung. Rinai hujan berlangsung cukup lama membasahi seluruh pakain kami. Selama tiga jam perjalanan, kami terus menyusuri punggungan bukit dengan mengikuti jalur sungai di bawahnya. Terkadang menanjak terjal, mengangkangi batang pohon besar yang tumbang di kelerengan, sesekali melewati rintangan tanaman berduri dan ‘berbisa’. Saya menyebut tanaman berbisa ini karena jika terentuh kulit akan terasa sangat perih dan gatal. Kulit seperti terbakar. Saya mengalami ruam kulit ini karena lupa menggunakan arm protector agar terhindar dari kontak langsung dengan tanaman berbisa atau berduri. Kedua tangan saya seperti digigit ratusan semut merah. ’’Iko taruh deng tanah (langsung gosok dengan tanah)’’. Seru Iwan yang berada di belakang saya. Tanpa pikir panjang, saya langsung membalur kedua pergelangan tangan dengan tanah. Kemudian membersihkannya dengan batang pisang. Ini satu diantara cara lain bagaimana menghilangkan rasa sakit terkena daun berbisa.

Nama lokal jenis tumbuhan ini disebut ‘Sosoro’ atau bernama latin Dendrocnide Microstigma. Tanaman berbisa ini banyak tumbuh di hutan bagian timur Indonesia. Tingginya antara satu hingga dua meter. Pada tangkai daun berbulu putih halus.

Tanaman ‘Sosoro’ atau bernama latin Dendrocnide Microstigma, banyak di jumpai di hutan tropis di Indonesia Timur. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Rasa pedis dan gatal di kedua lengan saya agak berangsur pulih meski sesekali rasa itu tetap muncul. Sulitnya jalur sedikit ‘melupakan’ rasa ruam. Dari punggungan bukit selama perjalanan, acap saya menikmati pemandangan alur sungai yang berbatu besar dan di apit tebing-tebing tinggi juga, mengalihkan rasa ruam di lengan.

Di depan jalur yang ditebas terbuka, Chan, Boim dan Papa Budi cukup jauh meninggalkan saya dan Iwan.  Membuka jalur dengan menebas dahan dan tanaman berduri, menjadi tugas Papa Budi. Di antara kami tidak ada yang membawa parang. Saya dan Iwan hanya membawa pisau Rambo yang tersimpan di sisi ransel untuk berjaga-jaga.

Jalur kini berganti menyusuri tepian sungai yang penuh dengan batu-batu berukuran raksasa. Di satu tempat, Papa Budi menunggu kami yang masih di belakang. Sesampainya tempat papa Budi menunggu, saya sempat takjub dengan dua batu sebesar rumah tipe 36 di tepi sungai. Di antara batu raksasa itu, terpapar satu papan kayu sepanjang dua meter sebagai penghubung ke dua batu tersebut. Mungkin karena papan tidak panjang, satu di ujung papan kayu hanya disandarkan pada irisan pinggiran batu hanya lebar sekitar 5 cm. Di balik papan kayu jurang berbatu menganga setinggi lebih dari lima meter.

Cukup nekat yang saya lakukan untuk melewati papan maut ini. Rasa penasaran menutupi rasa takut saya. (Foto capt: Faisal Manoppo)

’’Nda mo ta lapas ini papan?’’(papan ini tidak terlepas?), tanya saya ragu. ’’Lewat jo..nda papa itu,’’ jawab Papa Budi enteng. Saya menarik nafas panjang sembari berjalan seolah di atas telur; penuh kehati-hatian agar papan tidak patah atau bergeser dan terlepas dari ujung sandaran di antara dua batu raksasa. Tap..tap..tap… Akhirnya, saya sudah berdiri di seberang batu raksasa ke dua. Di atas batu cukup lapang dan bisa didirikan sebanyak tiga tenda ukuran 4 orang. Saya memandang ke arah sungai menuju air terjun, terdapat terjunan air sedang dan aliran sungai yang cukup dangkal berbatu. Sisi sungai banyak bebatuan berukuran setengah dari batu raksasa. Tepat di seberang sungai batu di mana saya berdiri, nampak tebing batu tinggi menambah keangkeran suasana itu.

Perasaan ‘ganjil’ saya benar. Papa Budi mengisahkan tempat ini bernama Gada. Nama ini diambil dari nama seseorang yang konon punya ilmu memanggil sugili (sidat) raksasa. Menurut legenda warga Desa Bumbung, sugili raksasa ini memiliki ‘telinga’ seukuran daun talas. Di kisahkan, dua pria berilmu tinggi beradu ‘kemampuan’ siapa yang sanggup memanggil sugili raksasa. Lelaki bernama Gada ini akhirnya bisa mendatangkan sugili yang lebih besar dari pesaingnya. Ketika mahluk ini ditarik keluar dari sungai, Gada mendapat perlawanan dari sugili raksasa kemudian terpental ke sungai dan akhirnya di makan oleh sugili raksasa itu.

Perjalanan masih berlanjut. Kami berjalan menyusuri pinggiran sungai berbatu dan beberapa kali harus menyeberang sungai. Puluhan kali juga kami harus membuka sepatu boots berisi air dan memeras kaos kaki. Saya tidak tahu persis sudah berapa kali menyeberang sungai. Di hari pertama saja sekurangnya 6 kali menyeberang sungai. Dan hari ke dua, lebih dari 10 kali menyeberang sungai. Semakin jauh kami memasuki batas zona TN BNW ke zona inti, air sungai cukup dalam dan deras. Bahkan ada yang sampai kedalaman tujuh meter.

Sampai di jalur yang kembali menyeberangi sungai—kali ini sangat dalam. Belum pasti berapa dalamnya. Satu ujung bambo panjang lima meter yang digunakan membawa rakit tidak sampai ke dasar sungai. Saya cemas. Papa Budi mengambil rakit yang ada di seberang sungai. Dua-sampai tiga orang naik di atas rakit dari bambu. Sementara Papa Budi mengemudikan rakit dengan berenang.

Chan dan Iwan di pandu oleh Papa Budi menyeberangi sungai dengan rakit. (Foto Capt: Faisal Manoppo)

Memasuki jalur Cemara—karena di tumbuhi cukup banyak pohon Cemara—setelah menyeberangi beberapa sungai, Papa Budi menunjuk ke arah tebing batu di seberang sungai menuju air terjun. Di balik ujung tebing batu tersebut, terdapat sebuah satu tapak kaki berukuran besar. Papa Budi menyebutnya bekas tapakan kaki Bogani. Sayang saya tidak bisa melihat langsung atau mendokumentasi tapak kaki menurut legenda suku Mongondow adalah kesatria pemimpin sebuah kelompok. Untuk sampai ke lokasi yang di tunjuk Papa Budi, saya harus berenang sejauh 50 meter di sungai yang sangat tenang. Sungai tenang pasti sangat dalam. Keinginan saya melihat tapak kaki Bogani akhirnya pupus.

Sebuah bekas tapak kaki Bogani berada di sebelah tebing batu ini. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Papa Budi sangat berjasa dalam ekspedisi ini. Tiba di jalur menyeberang sungai sedalam lima meter, dia harus berenang melawan arus serta membawa delapan ransel satu demi satu untuk sampai di seberang sungai. Jojo, Panji, Iwan, Rivan, Boim, Aping, sangat santai dan lihai menyeberang dengan berenang. Tidak ingin basah kuyup, Chan memilih jalur darat dengan memanjat tebing dan meraih akar-akar pohon sampai di punggungan bukit lalu menuruni satu persatu bebatuan besar. Sementara saya hanya tahu teknik berenang gaya jangkar, dengan terpaksa saya rela digendong papa Budi berenang menyeberangi sungai. Di bagian ini, Papa Budi sangat berjasa bagi saya. Dalam hati saya berniat, sepulang dari ekspedisi ini, berenang harus bisa.

Masih di hari ke dua. Rintangan menuju air terjun belum habis sampai di situ. Setelah dua jam perjalanan jalur pendakian semakin ekstrem. Saya menyebutnya ‘tanjakan edan’—gila. Mengapa saya sebut jalur edan? Ya karena memang edan. Kami harus memanjat bukit setinggi 30 meter seraya mencari dan meraih dengan mencengkram di sela batu serta berpijak di celah batu di tebing yang kemiringannya sampai 75 derajat. Tidak ada jalur lain. Adapun seutas tali rotan di jalur itu bukan semata dijadikan alat bantu yang menjamin keselamatan. Kami tidak ingin menggantungkan nyawa dengan seutas tali rotan. Tali rotan hanya membantu menyeimbangkan badan agar tidak terjungkal ke belakang dan terjun bebas dari tebing.

Dari atas Aping membantu saya menahan tali rotan memanjat tebing tinggi. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Pendakian dimulai Papa Budi. Dengan beban ransel di belakang, sepertinya pendakian papa Budi cukup mulus, meski ada beberapa batu berukuran kepalan tangan yang tergelincir bebas karena pijakan. Kami hanya mendongak papa Budi yang meraih satu demi satu bebatuan dan akar pohon yang tersembunyi diantara bebatuan. ’’Ayo, papa Budi! Kamu bisa!’’. Kelakar Boim. Kemudian Chan terlihat cukup gesit sudah berlalu. Di susul Panji, Boim, Rivan, Jojo, Iwan, Aping dan saya.

Sesampainya di pertengahan tanjakan, saya, Iwan, Jojo dan Rivan dan Aping, masih melihat lagi tanjakan edan yang kedua. Jalur setinggi sekitar 20 meter ini berupa selokan batu berlumut dan tanah berukuran dua orang dengan kemiringan yang hampir sama dengan pendakian jalur edan pertama. Di bantu dua urat tali rotan, kami memanjat dengan tumpuan kaki di antara dua sisi dinding batu sembari menopang dan menarik badan ke atas dengan memegang erat tali rotan sampai di dataran punggungan bukit. Sesampai pendakian di ujung jalur edan kedua, Rivan berteriak melampiaskan ketegangannya.

Rivan memanjat jalur seno yang curam dengan tali rotan. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Jalur mulai berganti dengan menuruni punggungan bukit yang juga cukup terjal. Salah saja memegang akar pohon, bisa terperosok atau terjungkal ke bawah. Pun bekas batu pijakan yang terlepas dan menggelinding bebas ke bawah bisa mengenai tim yang ada di bawah. Batu sekepalan tangan sempat mengenai ujung sepatu boots saya. Karena sepatu berbahan karet, ujung jari kaki saya terasa sakit terkena benturan cukup kuat. Saya mulai sangat berhati-hati setelah kejadian itu.

Setiba di sebuah kolam air cukup besar yang dikelilingi bebatuan tinggi, kami terhenti. Cuaca terik siang dan rasa lelah ingin badan berendam di air yang cukup bening itu. Kami mulai melepas semua beban di pundak dan sepatu boots. Tidak terkecuali juga dengan pakaian yang tersisa celana sempak. Panji yang mengenakan stocking hitam bahan tipis terusan sampai di pinggang, menyisakan celana kolor lalu berpose bak penari striptis mengoyak isi perut kami.

Didorong paksa oleh Aping, Boim terjun bebas dari atas batu. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Berenang dan melakukan atraksi di atas batu besar di jadikan ‘papan’ melompat indah gaya urakan diperan-mainkan oleh Panji, Boim, Rivan dan Aping. Sementara Iwan, Chan dan saya berendam di antara bebatuan yang dialiri sejuknya air sungai. Terasa damai sekali.

Menikmati suasana sungai berkolam bening dan berbatu tinggi sempat beberapa kali kami singgahi. Belakangan kami sadar, sikap ‘santai’ kami membuat papa Budi cukup tidak sabaran untuk membawa kami sampai di air terjun. Hingga ada saat akhirnya papa Budi memakai siasatnya.

Menanjak dan turun dari punggungan bukit yang terjal, menyeberangi deras sungai, berbasah-basahan karena hujan, menjadi ‘teman setia’ selama perjalanan kami.

Menjelang petang kami sudah sampai di pos cabang dua, begitu Papa Budi menyebutnya. Nama ‘Cabang Dua’ dianalogikan dengan adanya pertemuan dua arus sungai; besar dan sedang. Arah sungai sedang merupakan jalur menuju areal ex pertambangan rakyat.

Arus sungai mulai deras dan berwarna coklat. Sepertinya hujan deras di hulu sana. Air sungai mulai naik dan melebar. Papa Budi kembali menyarankan beristirahat di pos cabang dua ini. Karena setelah ini, akan menyerangi sungai. Tentu sangat beresiko jika perjalanan dilanjutkan di malam hari. 

Seperti biasa, Panji, Jojo, Boim, Aping dan Rivan, sigap menegakkan tenda, meracik masakan dan membuat perapian. Kreatif ala Papa Budi mencari dan memilih daun woka yang cukup lebar untuk dijadikan ‘payung’ di atas perapian dan tempat kami rembuk sambil duduk ngopi di alas matras.

Di tempat kami mendirikan tenda di tepi sungai, kami khawatir bila terjadi air bah dari hulu sungai. Papa Budi membenarkan bila itu terjadi, air sungai bisa setinggi sampai dua meter. Tempat kami terancam diserang bah sungai. Namun itu terjadi di musim penghujan. ”Kalau di bulan ini hujan nda terlalu (masih wajar). Jadi masih aman,” ucap Papa Budi menenangkan kami.

Saya sempat tertidur di dalam tenda karena lelah. Sekitar sejam kemudian di bangunkan—entah suara Aping atau Boim memanggil—untuk santap malam. Di luar tenda, pemandangan penuh dengan beragam aktivitas para tim ekspedisi setelah santap malam. Di antaranya Panji dan Irvan saling bergumul dengan aroma menyengat ‘GPU’ dan ‘Cap Tawon’.  Aping, Boim dan Jojo selonjoran di matras menikmati asap ‘dji sam soe’ sambil mendengarkan musik indie dari speaker mini portable. Chan, Iwan dan saya ngobrol dengan papa Budi mengenai medan jalur selanjutnya.

Di hari kedua perjalanan ini, saya memang benar-benar kelelahan. Cukup meneguk segelas air panas jahe-gula merah, sedikit mie kuah instan, dan beberapa batang rokok, isi perut terasa cukup. Bukan karena sedikit makanan. Justru sebaliknya. Beberapa makanan yang kami bawa, papa Budi menambah menu makanan sekantung kolombi (siput) yang didapatinya di tepi sungai.

Untuk perjalan panjang besok, saya tidak bisa melahap banyak makanan. Melihat kawan-kawan lainnya begitu lahap menyantap beragam makanan, saya merasa sudah kenyang. (BERSAMBUNG)

 

Catatan sebelumnya:

• (Eps: II) XPALA ’’Ekspedisi Selendang Biru’’— sebuah catatan perjalanan di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Desa Bumbung, Bolmong, Indonesia

• (Eps: I) XPALA ’’Ekspedisi Selendang Biru’’–sebuah catatan perjalanan di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Desa Bumbung, Bolmong, Indonesia

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

3 × 3 =

instink.net