Keberlangsungan hidup burung Maleo (Marcrochepalon maleo) di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) kian terancam eksistensinya. Di sisi lain, burung satwa endemik khas Pulau Sulawesi ini tampak hanya simbolis semata hanya demi mengangkat nama daerah, namun kenyataannya habitat ini ditinggalkan.
PEREDAM (Persatuan Relawan Muda Molibagu) mendeklarasikan dengan menyeret diri mereka menjadi pihak yang “bertanggungjawab” atas nasib burung Maleo.
Bukan tanpa sebab. Kehadiran gabungan dari sejumlah komunitas pemuda di ibukota Bolsel ini lantang berdiri di garda terdepan di tengah banyak pihak—yang seyogyanya juga menjadi tanggungjawabnya dalam pelestarian burung Maleo—mulai melupakan tentang bagaimana masa depan burung Maleo bisa berlangsung dari generasi ke generasi.
Bentuk dan sikap keprihatinan ini dimulai dengan sebuah gebrakan Peredam mengusung “Gerakan Seribu Rupiah untuk Maleo” dalam gelar diskusi publik yang melibatkan WCS (Wildlife Conservation Society), Dinas Kehutanan, Taman Nasional Bogani Nani Warta Bone (TNBNW), aktivis lingkungan, pemuda dan masyarakat pada acara hari lahir ke-5 Peredam 29 Juli 2025 lalu.
Namun amat sangat disayangkan, aksi Peredam belum mendapat respons baik di ruang publik belakangan ini. “Kami telah membuka kotak ‘Gerakan Seribu Rupiah untuk Maleo’ di beberapa titik ibukota, dan sepertinya (aksi) ini masih belum cukup dengan memperhatikan bagaimana nasib burung Maleo saat ini,” ucap Wiranto Makalalag dengan mimik wajah tampak gelisah. Kegelisahan mantan Ketua Peredam ini juga terasa mewakili atmosfer rekan-rekan lainnya di tubuh Peredam.
Saya cukup mengenal kawan-kawan Peredam dengan segala geliat dan motivasinya. Mereka peka terhadap problematika kedaerahan, isu-isu lokal, teristimewa terkait dengan soal-soal kebencanaan dan lingkungan. Dilahirkan di masa kritis dan suram, ketika bencana banjir bandang melanda di Bolsel sepanjang Juli – Agustus 2020, Peredam berjibaku membantu warga di desa-desa yang diterjang air bah dan longsor saat itu. Mereka meletakkan masing-masing ego komunitas kemudian bersatu demi dan atas nama kemanusian.
Saya pribadi mengagumi kreativitas dan semangat Peredam yang dimiliki masing-masing personalnya, seolah tak pernah usai. Saling mengisi dan melengkapi, di kedua tangan dan sumber daya tersimpan, Peredam bersikeras mengangungkan sikap berdikari dengan segala keterbatasan.
Ini bukan ungkapan hiperbola untuk menggambarkan iklim Peredam mulai dan hingga saat ini. Aura energi positif akrab saya rasakan di sekitarnya.

PEREDAM terus menunjukkan eksistensinya terhadap tantangan masa depan burung Maleo di Batumanangis. (Foto: PEREDAM)
Semangat menggeliat inilah kemudian menghantarkan Peredam pada titik terang; PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) mulai masuk dalam lingkaran energi positif itu. Pertemuan PT JRBM dengan Peredam di Kotamobagu pada Januari lalu, berbuah kunjungan oleh para petinggi PT JRBM di lokasi habitat burung Maleo di Batumanangis, Desa Molibagu, Jumat 24 Februari 2025, tiga pekan usai pertemuan pertama itu.
Jangan Tinggalkan PEREDAM
Jumat siang itu, dipandu oleh Peredam, General Manager External Relation and Security PT JRBM, Andreas Saragih, bersama Manager Corporate Social Responsibility (CSR) Rudi Rumengan, datang menyusuri hutan di kawasan TNBNW, menuju lokasi habitat burung Maleo. Tidak cukup jauh melangkah dari jalan raya, namun memanjakan mata saat melewati sungai, menjejak kaki bukit yang
cukup dirimbuni hutan, mereka tiba di sebuah bangunan kubus kayu—tempat penangkaran burung Maleo.
Di antara bangunan penangkaran dan menara pantau, di bawah rerindangan pepohonan, mereka berkerumun melingkar. Ada yang duduk beralas tanah dan kursi lipat portable. Daun, ranting dan batang pohon memayungi mereka dari terik matahari. Teduh.
Peredam telah menyiapkan segalanya—dengan swadaya tentunya, mulai papan petunjuk menuju lokasi hingga makanan ubi rebus plus sambal kampung, dan kopi hitam gula aren siap menghangatkan acara penjamuan.

Rudi Rumengan menikmati makanan ubi rebus yang disajikan PEREDAM di lokasi penangkaran burung Maleo. (Foto: PEREDAM)
Tak lama, pembahasan utama dari keduanya berlangsung dengan nuansa santai namun memiliki bobot materi yang kuat. Topik “bagaimana upaya menyelamatkan burung Maleo yang eksistensinya sudah berada di ujung tanduk” inilah yang diusung oleh Peredam.
Andreas dan Rudi menyimak paparan yang dijelaskan oleh para tim Peredam. Tidak lengkap juga tanpa kehadiran sang penjaga burung Maleo, Basri Lamasese (50), dalam pertemuan itu. Basri dan Peredam kini adalah ujung tombak bagaimana nasib burung Maleo.

Andreas Siragih tampak akrab dengan Basri Lamasese saat mengabadikan keduanya bersama burung Maleo. (Foto: PEREDAM)
Tidak melewatkan momen sakral tersebut, Andreas dan Rudi didaulat untuk melepasliarkan anakan burung Maleo, yang tiga hari lalu baru menetas dalam penangkaran. Andreas dan Rudi saat itu juga menyatakan siap menyelesaikan satu soal yang cukup krusial. Meski beberapa soal lainnya masih akan ditindaklanjuti untuk dibahas pada tingkat keputusan manajemen perusahaan.
Wajah-wajah penuh asa yang lama menggelayuti anak muda Peredam tentang nasib burung Maleo, tercermin lewat gurat senyum mengembang. Roman wajah seperti inilah yang saya nantikan, menyulut kembali bara api semangat mereka yang nyaris padam. Menerangi asa mereka yang sebelumnya samar.
Tapi tunggu, cerita ini belum berakhir. Ini baru sepenggal perjalanan dari rentetan tahapan nasib keberlanjutan burung Maleo ke depan. Untuk hal itu, saya masih setia menunggu dan tidak sabar menyaksikan langsung kegemilangan demi kegemilangan Peredam esok.
Kreativitas, semangat juang, kekompakan, solidaritas, gotong royong, yang menjadi bahan bakar Peredam terus berevolusi, masih belum cukup untuk segera menyelamatkan burung Maleo dari keteracaman. Peredam perlu mendapati dukungan oleh multi pihak, tidak terkecuali PT JRBM.
Dan saya menilai, Andreas dan Rudi patut pula membawa serta efek semangat dan harapan Peredam bermuara ke meja kerja petinggi PT JRBM.
Jangan biarkan tujuan mulia anak-anak muda ini di tengah upaya menyelamatkan habitat burung Maleo di Batumanganis mengalir tak bermuara. Kering lalu hilang di tengah perjalannya.
Jangan tinggalkan Peredam yang sedang melaju meniti eksistensinya. Di saat burung Maleo mulai ditinggalkan, sebaliknya, Peredam pasang badan mengembalikan dan mengangkat kembali pesona burung Maleo.
Penulis: Faisal Manoppo, warga Kotamobagu.