Senin, 20 Januari 2020

(Eps: II) XPALA ’’Ekspedisi Selendang Biru’’— sebuah catatan perjalanan di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Desa Bumbung, Bolmong, Indonesia

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

’’Badan boleh termakan usia. Kegigihan tolong dipertahankan karena itu yang akan menyelamatkanmu di hutan rimba’’

Faisal Manoppo

Intan Sang Dewi Fortuna

Selasa 26.11.2019, Pukul 01.00 Wita, tim ekspedisi mulai meninggalkan Kotamobagu menuju ke Desa Bumbung. Di sana, kami sudah ditunggu oleh mantan pengurus MPA Wallacea. Namanya Intan. Perempuan ini dan keluarganya telah cukup banyak membantu kami. Intan bersedia rumahnya dijadikan markas sementara sebelum kami memulai perjalanan. Tiba pukul 2 dini hari, Intan dan kedua orang tuanya sibuk mengurus kami. Memberikan kami kopi panas, makanan sekaligus tempat bermalam.

Selasa (26/11/2019) dini hari, Intan menerima tim ekspedisi di rumah kediamannya, Desa Bumbung. (Foto Capt: Faisal Manoppo)

Pagi menjelang siang, dengan motor milik Intan, Chan dan saya mengantarkan surat pemberitahuan tentang ekspedisi kami ke Koramil dan Polsek wilayah setempat. Sementara Iwan dan Intan mengantar surat pemberitahuan ke kepala desa Bumbung.

Tiba saya dan Chan di Kantor Resort TN BNW wilayah Maelang mengantar surat Simaksi, juga niat kami menyampaikan permintaan satu orang perwakilan TN BNW bisa bergabung dalam tim ekspedisi. Permintaan kami sebelumnya telah disetujui oleh Kepala Balai TN BNW di Kotamobagu. Nama yang sudah diincar oleh Chan adalah Hadi. 

Sejak awal rencana ekspedisi ini dimulai, Hadi sudah ambil bagian. Hadi memberikan kami informasi kepada kami ketika mereka mencari air terjun Selendang Biru melalui perbukitan di Desa Maelang. Hadi bukan pegawai tetap di TN BNW. Dia masih berstatus mahasiswa di UDK. Sehingganya, Chan sebagai dosennya, memilih Hadi.

Namun apalah daya, Kantor Resort TN BNW tempat Hadi ditugaskan, tidak memberikan izin. Karena lima hari ke depan, Hadi harus mengikuti pelatihan di luar daerah. Hadi tidak bisa mengambil resiko jika masih ingin tetap bekerja di TN BNW. 

Foto ini diambil saat Chan dan saya mendatangi kantor Resort TN BNW Wilayah Maelang untuk mengantarkan SIMAKSI dan meminta titik koordinat air terjun. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Perhitungan kami cukup tepat dengan menambah Panji dari KPA Manguni Green Community dalam tim ekspedisi manakala tidak ada guide satu orang warga dari desa Bumbung. Alhasil, kenyataan berbalik. Hadi yang sudah menyiapkan ransel dan perlengkapannya seminggu lalu harus meninggalkan tim. Panji menjadi pengganti Hadi.

Seberes mengantar surat Simaksi dan pemberitahuan di Polsek dan Koramil, Chan kembali mengusulkan kepada tim harus menambah satu orang dari desa yang mengetahui persis jalur menuju air terjun. Alasannya cukup masuk akal; karena diantara kami sama sekali buta jalur menuju air terjun. Adapun titik koordinat dan pengaplikasian navigasi darat bakal memakan waktu yang lebih lama. Mengingat tiga hari waktu sudah terpangkas karena mengurus izin Simaksi. Sisa waktu telah diperhitungkan. Sebab, diantara dari kami, hanya Iwan yang memiliki waktu terbatas. Pekan depan, dia harus masuk kantor setelah mengajukan izin cuti.

Usai berdiskusi kecil, Intan kembali membantu kami dengan mencari orang (guide) yang tepat. Orang pilihan yang setidaknya cukup hafal jalur menuju air terjun. Untungnya lagi, Intan yang di bulan ini bakal dilantik sebagai Ketua Pemuda Desa Bumbung, mencari orang dimaksud tidak membutuhkan waktu lama.  

Terpilihlah Papa Budi, sapaan keseharian pak Ajun Mokodompit yang tinggal hanya jarak dua rumah dari Intan. Usianya sudah lebih dari setengah abad menutup keraguan kami ketika melihat badannya yang coklat dan kekar. Saya menggambarkan sosok Mike Tyson. Seperti kelakar Boim dari KPA Rhipidura menilai kemampuan Papa Budi, satu kepalan tangannya saja bisa menutupi seluruh wajah Boim.

Papa Budi menjadi guide dalam ekspedisi Selendang Biru. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Benar saja, ransel 75 liter merk Deuter berisi seluruh perlengkapan panjat, cukup mudah dipikulnya. Dengan bekal sebilah parang dan botol plastik minuman bersoda 1 liter yang melingkar dipinggang dan ber-sandal jepit, sangat kontras dengan penampilan kami yang serba safety. Bagi Papa Budi, gaya ini sudah biasa sejak pengalamannya selama puluhan tahun ketika mencari rotan dan kayu berhari-hari di tengah hutan.

Menjelang sore hari, sebuah mobil pikap mengantar kami masuk melewati perkebunan dan bendungan di Desa Bumbung sampai di batas sungai. Di situ, perjalan ekspedisi kami dimulai.

Tim ekspedisi menyewa mobil pikap untuk diantarkan sampai di batas sungai awal perjalanan. (Foto capt; Faisal Manoppo)

25 Kali Seberangi Sungai

Baru memulai perjalanan, belum satu menit, kami sudah diperhadapkan harus memotong arus sungai. Papa Budi yang hanya beralaskan sandal jepit tanpa pikir panjang langsung menerobos air sungai setinggi pangkal betis. Kami ber-delapan mencari jalur potongan sungai yang tidak sampai lewat batas tinggi sepatu boots jungle. Oiya, di bagian ini, jangan mengira sepatu boots yang kami pakai. Sebab, resiko memakai sepatu trekking out door bakalan hancur; selain harganya mahal dan sangat sayang, kami lebih memilih tetap menyimpannya di rumah untuk trip pendakian ke gunung-gunung populer.

Atas saran baik dari senior Chan—yang sudah berpengalaman tinggal di hutan berbulan-bulan—kami menggunakan sepatu boots bahan karet yang biasa di pakai ke kebun. Secara penampilan memang kalah jauh dengan para pendaki mentereng dengan seluruh perlengkapannya mulai dari kaki sampai kepala. Di ekspedisi ini kami tidak tampil sebeken-bekennya. Toh, tidak ada pendaki lain yang akan kami jumpai selain hutan belantara, sungai berbatu besar dan satwa liar. Kami butuhkan adalah keselamatan dan kenyamanan senyaman-nyamannya.

Tim ekspedisi Selendang Biru di titik nol sebelum perjalanan dimulai. (Foto: Faisal Manoppo)

Satu sungai selebar 15 meter sudah kami lewati. Cara melewatinya berbeda-beda. Iwan rela melepas sepatu boots dan kaos kakinya hingga sampai di seberang sungai. Nasib berbeda dengan Chan, sudah cukup berhati-hati, tapi akhirnya satu sebagian sepatunya tenggelam sampai di lutut. Jojo, Aping, Rivan, Panji, Boim, dan saya berhasil menerabas aliran sungai tidak sampai air masuk ke dalam boots.

Papa Budi hanya tersenyum sebentar melihat beberapa dari kami tertawa sukses memotong jalur sungai tanpa sepatu boots tenggelam. Baru satu sungai. Tanpa kami sadari, itu hanya permulaan.

Inilah sungai pertama kami seberangi dalam ekspedisi Selendang Biru. (Foto: Faisal Manoppo)

Kami mulai menyusuri jalur perkebunan sepanjang lebih dari 3 kilo meter di mana sebagiannya berbukit. Kemudian kembali lagi memotong arus sungai sebanyak lima kali hingga akhirnya sampai di sebuah daseng pasir—tempat peristirahatan atau persinggahan petani daun nipah; pemburu; pencari rotan dan kayu. Warga menyebut daseng pasir karena tempatnya berpasir.

Waktu beranjak petang, Papa Budi menyarankan untuk bermalam di daseng pasir itu. Alasannya, tidak jauh di depan punggungan bukit setelah memotong jalur sungai, ada jalur cukup terjal berbatu licin. Di kisahkan juga, seorang warga pernah terjatuh dari jurang itu karena terpeleset dan tewas seketika di atas batu. Saran Papa Budi turut dibenarkan oleh Pak Im, pemilik daseng pasir itu.

Ada benarnya kami ikuti saran Papa Budi. Perjalanan sekitar empat jam berlalu cukup menguras energi karena beberapa kali memotong arus sungai. Dalam perjalanan itu, tidak ada yang luput dari basah. Sepatu boots tenggelam sampai di batas pangkal paha.

Sebelum sampai ke daseng pasir, kami terpaksa berbasahan menyeberangi sungai karena tidak ada jalur yang sebatas di bawah sepatu boots. (Foto: Faisal Manoppo)

Bawaan ransel di rubuhkan ke tanah berpasir. Jojo, Boim dan Rivan sigap menyiapkan logistik dan perlengkapan memasak setelah mengganti pakain kering dan menggantung pakaian dinas yang basah untuk dipakai kembali esok. Panji dan Aping ikut menyesuaikan dengan menyiapkan kayu kering untuk perapian. Tanpa komando, mereka sudah paham apa yang harus dilakukan.

Kopi hitam panas menghangatkan badan kami yang basah saat beristirahat malam pertama di daseng pasir. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Papa Budi dan Pak Im nampak berbincang mengenai lokasi air terjun yang kami tuju. Sementara Chan, Iwan dan saya sedikit berdiskusi untuk perjalanan esok hari.

Pukul 19.30 Wita, nasi baru setengah masak. Abon ikan dan mie instan sudah tersedia. Sepertinya Pak Im ingin menambah lauk untuk kami. Pria ini lantas mengambil jaring dan mengangkat batrei aki yang tergantung di daseng serta sebatang kayu berkabel dengan ujung diikat besi. ’’Sapa yang suka udang?’’. Sontak Jojo, Rivan dan lainnya ikut berdiri. ’’Ba strom udang, pak Im?’’, sahut Boim.

Sungai Desa Bumbung dikenal dengan banyak udang dan sugili berukuran jumbo. Boim, Jojo, Panji dan Aping mengekor Pak Im menyusuri pinggiran sungai. Pemandangan malam pekat itu, dari daseng pasir hanya terlihat beberapa senter kepala menyorot segala arah. Berburu udang. Sesekali mereka berebut udang mengambang karena tersengat listrik dari batrei aki. Tidak sampai setengah jam, udang-udang berukuran dua jari terkumpul. Udang goreng rica cepat tersaji. Malam ini makanan cukup beragam. Ini adalah sajian makan yang paling mewah bagi kami. (BERSAMBUNG)

Hasil tangkap setrum udang di sungai daseng pasir menambah kemewahan santap malam tim ekspedisi. (Foto capt: Faisal Manoppo)

 

Catatan sebelumnya:

• (Eps: I) XPALA ’’Ekspedisi Selendang Biru’’–sebuah catatan perjalanan di Taman Nasional Bogani  Nani Wartabone, Desa Bumbung, Bolmong, Indonesia

Bagikan berita ini:

1 Komentar

Leave A Reply

ten + 8 =

instink.net