Fay vs Anaknya Kepala BPBD Bolsel

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Kebekuan menulis sejak beberapa tahun lalu agak mencair ketika pesan berisi tautan media online dirikim oleh beberapa rekan mendarat di ponsel pintar saya, Selasa (2/2) malam. Sebentar membuka tautan berisi catatan entah siapa orang, saya mulai menyimpulkan dia masuk dalam pusaran yang diciptakannya sendiri. Dan saya akan memastikan dia tidak akan bisa keluar dari pusaran kebebalannya itu.

Segudang data dan ide mulai mengalir deras tiba diperhadapan. Tidak puas menerima cara waras saya sebagai jurnalis, saya akan tanggalkan apa yang melekat pada kaidah-kaidah itu. Sejurus, saya akan mengajak dia menyelam di alam gaya menulis bebas. Ikutilah.

Bimbang memulai apa dari sudut pandang. Sang penulis tidak sama sekali bukan dari elemen yang dituju dari sebuah artikel editorial dan catatan sebelumnya. Sekilas telisik, dia memiliki hubungan emosial sekaligus darah-daging Kepala BPBD Bolsel. Bolehlah saya duga sebelum jauh saya mengulas, posisi dia harus saya berikan identitas. Olehnya tidak salah saya melabel dia sebagai “Tuan Pembela” atas artikel—Redaksi dan saya sebagai Kolomnis di Instink.net. Baiklah, saya terima dengan menyadari itu atas kehendaknya tanpa syak wasangka lain. Pun alam demokrasi mengaminkan sikapnya.

(Saya menyebut) Herdy “Tuan Pembela” Mokodompit yang terhormat, tidak keliru buah pikir dalam catatan yang disodorkan ke media sebagai—jika boleh saya menilai—balas-tanding atas artikel Bangun Semangat Baru  dan Edisi Spesial Untuk BPBD Bolsel mempertontonkan pembelaan dangkal, sebagaimana tuan pembela telah berupaya “meluruskan” apa yang sebelumnya saya dan kami sudah lebih dari cukup paparkan.

Jika mengamati secara cerdik dan jernih, editorial “Bangun Semangat Baru” memberikan sumbangsih bagaimana Bupati Iskandar Kamaru menyikapi serpihan kegagalan sebelum sang petahana ini melanjutkan kepemimpinannya lima tahun kedepan. Mengenai “sisipan” BPBD Bolsel sebagai contoh masalah yang cukup terang benderang, pemegang hak prerogatif di tubuh ekskutif, bupati perlu melakukan pembenahan. Dalam kasus ini, saya melihat ada yang terjebak ulah kegaduhan tuan pembela. Sampai di sini, saya menaruh harap pemahaman yang cukup tinggi dan sesadar-sadarnya tuan pembela.

Liputan saya dengan rekan-rekan jurnalis di lapangan selama masa musibah alam itu, saya cukup menyaksikan petugas relawan yang dikerahkan BPBD telah berkerja siang-malam. Itu tidak bisa saya nafikan. Anak buah patuh, siaga dan sigap ketika instruksi turun dari pimpinan. Hanya saja, saya menyayangkan memperhatikan kerja keras mereka berada pada tempat yang kurang tepat hanya karena manajerial pimpinan BPBD Bolsel tidak terencana baik.

Saya berikan contohnya. 12 jam usai peristiwa air bah menerjang puluhan rumah penduduk di Pakuku Jaya, Bupati Iskandar Kamaru bersama beberapa rombongannya—termasuk saya dan Rahman Rahim jurnalis Kompastv—sudah masuk di lokasi penyintas bencana. Keputusan yang sangat berbahaya karena menyangkut dengan keselamatan Iskandar Kamaru dan rombongan, berhasil menerobos lokasi banjir dengan melewati punggungan bukit. Saya ingin bertanya, sedang apa Kepala BPBD Bolsel tidak berada di lokasi titik kritis bencana saat itu.

Tiga hari pascabencana, saya dengan rekan jurnalis tv nasional kembali menerobos lokasi desa terisolir terdampak banjir. Betapa menyayat menyaksikan  Sulaiman Nento (45), satu di antara puluhan rumah yang diterjang air bah di Desa Pakuku Jaya, dengan peralatan seadanya membersihkan material tanah lumpur setinggi pangkal paha menimbun isi rumah. Dia dibantu oleh relawan SAR Hidayatullah mengeluarkan tanah lumpur dari dalam rumah. Saat itu, di mana Tim BPBD Bosel? Sementara di hari yang sama, saat mengunjungi posko induk di lapangan Molibagu, banyak tim dan relawan terparkir di sana.

Selama perjalan ke lokasi terisolir, kami banyak menggali informasi dan mengamat situasi. Pengendara bermotor mengeluh dikenakan pungutan yang tidak sedikit untuk menyeberang di jembatan darurat yang dibangun oleh warga; juga relawan Mahasiswa Pecinta Alam UDK diminta bertahan oleh warga penyintas agar tidak segera pulang karena kekurangan tenaga manusia untuk mengangkut bantuan; dan tengoklah komunitas pemuda Peredam bagaimana mereka secara proaktif dan mandiri membantu pemerintah dalam penanganan bencana.

Tugas-peran utama BPBD kala bencana wajib mengetahui dan menguasai apa yang sudah dan sedang berlangsung di pusat lokasi dan sekitar terdampak bencana. Harus sigap dan cekat melihat kondisional sekecil apapun bentuknya. Faktanya, hal disebut itu jauh dari ekspetasi.

Menumpu sekaligus melibatkan peran Sekretaris Daerah Bolsel pada tugas-tugas yang diemban Kepala BPBD Daanan Mokodompit sebagai ujung tombak dalam penanganan bencana dan pascabencana, pada fakta yang terjadi ketika itu, adalah kesalahan besar. Saya nyaris yakin, Sekda tidak ingin membuang waktu berdebat panjang hanya sebab kurang peka dan sigap Kepala BPBD Bolsel sementara banyak soal dihadapan mesti diselesaikan. Kepala BPBD Bolsel wajib cepat dan akurat melaporkan data terkini bencana alam di Bolsel.

Oii.. Tuan Pembela, saya tidak tahu tuan ada di mana, sedang apa dan dengan siapa. Data laporan kabupaten mengenai situasi bencana sebelum sampai ke BNPB, dan juga sebelum diterima oleh bupati, telah mengalami perubahan dan perombakan besar oleh Bidang Protokoler Bupati/Wabup. Saya tidak perlu menyebut detail kekeliruan data versi BPBD yang memalukan harus saya tontonkan di sini.

Untuk membuka lembaran awal diskursus kedepan—balasan sangat saya harapkan—atas pembelaan BPBD Bolsel oleh tuan pembela, perlu saya sampaikan apa yang sejak lama saya pegang teguh: “Hadapi lawan debatmu seperti kamu menyembelihnya”. (Faisal Manoppo)

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

eleven + 7 =

instink.net