Rabu, 5 Agustus 2020

Kami Terpisah Jauh..(Eps: VI) XPALA’’Ekspedisi Selendang Biru’’— sebuah catatan perjalanan di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Desa Bumbung, Bolmong, Indonesia

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

’’Sekali lagi.. bukan seberapa kuat kita mendaki, berapa gunung telah didaki, melainkan seberapa besar kita menghargai alam’’

—Faisal Manoppo—

 

Hawa pagi, Sabtu 7.12.2019, tidak beda di hari pertama kami tiba di tempat terakhir ini. Lembab; riuh air sungai; kicau burung menjadi sahabat selama kami di basecamp. Bedanya, hari ini ruang batin kami sudah cukup lengkap dengan terlaksananya misi ekspedisi kami sampai di dasar air terjun Selendang Biru.

Sadar dengan segala keterbatasan kami, masih ada dua-tiga bahkan lebih tingkatan air terjun Selendang Biru belum kami capai. Saya dan seluruh tim ekspedisi masih punya tekad dan keyakinan, semoga di tahun ini (2020) bisa terwujud.

Saya kembali merekam suasana terakhir itu. Kawan-kawan masih lelap setelah melawan gelap pekatnya malam. Entah berapa lama mereka terjaga semalam. Tidak lama satu diantaranya mulai terbangun lalu diikuti dengan lainnya. Boim mulai menyeduh kopi dan Jojo meracik untuk sarapan.

Direrimbun pohon di pinggiran sungai, Rivan menunjuk sesuatu yang bergerak di atas sana. ’’Ada yaki (monyet),’’ ucap Rivan setengah berbisik. Iwan mengambil DSLR dari dalam ring bag-nya. Pun Rivan tidak mau kalah dengan android dilengkapi teropong tambahan depan lensa. Beberapa monyet mulai berdatangan. Mereka mengawasi kami sambil bergelayutan di antara dahan. Bidikan lensa Iwan tidak cukup akurat. Maklum body dan lensa 18.130mm sudah lama berjamur. Bidikan zoom jadi tidak fokus lagi.

Alhasil, jepretan android karya Rivan menjadi pemenangnya. Asyik mengambil gambar satwa liar, monyet mulai menjauh dan menghilang ke tengah hutan seolah tidak terbiasa dengan pandangan manusia. Atau mereka trauma karena ulah manusia memburunya–Yaki atau monyet hitam (Macaca nigra) ini satu dari delapan edemik jenis primata di Sulawesi yang dilindungi. Populasinya mulai berkurang karena aktivitas perburuan liar. 

Foto yaki hasil jepretan Rivan di basecamp bukit Kabela. (Foto: Rivan)

Pagi menjelang siang, seberes sarapan—kecuali saya yang sejak malam karena belum merasa lapar—kawan-kawan mulai mengemas barang. Tali jemuran dibersihkan dari batang pohon. Sampah bungkusan sisa mie instan dibakar habis. Pakaian dinas belum kering kembali menempel di badan.

Hup, masing-masing ransel melekat rapat di punggung, membayangkan kembali bakal menghadapi banyak rintangan jalur pendakian. Kali ini, beban Papa Budi lebih ringan karena ransel berisi alat panjat berganti tempat di punggung Panji.

Ransel ukuran 35 liter milik Panji nampak seperti ‘tersembunyi’ di punggung Papa Budi. ’’Wah, bakalan lari Papa Budi,’’ pikir saya. Firasat saya benar.

Chan, Papa Budi dan Boim mengawali perjalanan turun menyusuri tepi sungai. Tidak lama kemudian di susul Jojo dan Aping. Iwan, Rivan, Panji dan saya di kloter paling terakhir. Perjalanan kembali dimulai. Saya dan Iwan masih sempat melambaikan tangan ke arah basecamp. ’’Selamat tinggal. Sampai baku dapa ulang,’’ ucap Iwan penuh makna.

Tiga jam perjalanan, jalur yang di tempuh masih cukup hafal di antara kami. Saya begitu cepat melangkah; melompati di antara bebatuan di tengah sungai. Iwan terus mengikuti irama saya. Menerabas aliran sungai, mengeluarkan air dari dalam sepatu boots dan memeras kaos kaki berkali-kali kami lakukan.

Saya dan Iwan sangat berhati-hati menyeberangi sungai arus deras. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Tatapan saya terus ke depan sambil kembali mengingat jalur yang sudah dilewati sebelumnya. Meski berjalan agak cepat dan sesekali merekam, saya belum melihat Jojo dan Aping. Sepertinya mereka sudah jauh di depan. Iwan tetap di belakang saya, terkadang juga di depan saya, atau masing-masing di tepi sungai yang berbeda dan kembali lagi di jalur yang sama. Hampir begitu sepanjang jalur.

Tiga jam lebih berjalan, sampai di cabang sungai setelah melewati arus, Iwan dan saya berhenti istirahat. Cadangan air minum tinggal setengah tumbler. Mumpung berada di sungai berair bening—karena air sungai induk berwarna kecoklatan yang akan kami tempuh sepanjang ini cukup jauh  sampai pertemuan di cabang sungai berikut–Iwan dan saya mengisi penuh air ke dalam tumbler.

Saya berendam di air sungai bening di antara bebatuan. Terasa sejuk membuat saya agak berlama-lama. Bayangan matahari condong agak di belakang, pertanda sekitar pukul 1 siang.

Usai berendam, isi lambung berasa menggerutu. Sejak malam perut saya belum tersentuh makanan. Saya dan Iwan sama-sama tidak membawa logistik. ’’Tunggu. Mudah-mudahan masih ada,’’ ucap saya tiba-tiba mengingat sesuatu yang ada di dalam tas kamera yang saya bawa. Beruntung choki-choki tersisa tiga batang. Satu batang berisi selai coklat kami bagi dua. Alhamdulillah, rasa lapar sedikit terpinggirkan.

Coklat sangat berguna untuk memulihkan stamina ketika melakukan pendakian. Ide Iwan menambah cemilan choki-choki waktu memperhitungkan logistik sebelum ekspedisi sangat membantu di saat-saat seperti ini. Dua kotak choki-choki sudah dibagikan, dan saya kebagian 10 batang.

Lebih dari setengah jam beristirahat, Rivan dan Panji mulai terlihat. Saya dan Iwan berada di seberang sungai, memberikan petunjuk jalur untuk dilewati. Arus sungai cukup kuat di antara bebatuan.

Sampai Rivan dan Panji di seberang sungai, saya berharap mereka menyimpan bekal. ’’Ngoni ada bawa logistik?,’’ tanya saya. ’’Yah Ka, cuma dua bungkus mie, mar nda ada nesting (tempat memasak), cuma ada (kaleng) gas,’’ ucap Rivan dengan wajah melas. Saya mengambil satu batang choki-choki untuk mereka berbagi.

Jojo dan Aping pasti sudah jauh di depan sana meninggalkan kami. Apalagi Chan, Boim dan Papa Budi, pasti juga jauh di depan Jojo dan Aping, pikir saya. Mudah-mudahan mereka menunggu di cabang sungai. Mengingat persediaan logistik menipis, saya mesti bergegas mengejar mereka.

Setelah menyeberangi arus sungai, saya dan Iwan menanjak punggungan bukit. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Ransel sudah di pundak, Iwan ikut bersiap. Saya mengingatkan Rivan untuk menghemat batrei Handy Talkie (HT) dan saling berkomunikasi beberapa jam kemudian. Iwan dan saya mulai meninggalkan Rivan dan Panji yang tampak masih kelelahan.

Sekitar empat jam berjalan terlewati. Langit mulai dipenghujung petang. Panji dan Rivan belum terlihat di belakang kami. Selama perjalanan, beberapa kali Iwan dan saya sedikit berseberang ingatan ketika pada titik jalur di mana harus memilih. Tidak ada bekas atau penanda jalur. Apakah harus menyebrang sungai atau melewati punggungan bukit. Sampai pada titik jalur apakah harus berenang memotong arus sungai atau melewati punggungan bukit. Sungai sedalam lima meter ditambah kuatnya arus membuat saya dan Iwan mempertimbangkan resikonya.

Menurut ingatan Iwan, posisi seharusnya berada di seberang sungai. Saya sempat membantahnya karena jalur menuju arah yang ditunjuk Iwan sangat sulit. ’’Biar torang so di jalur seberang situ, mau nda mau torang harus berenang. Ngana kuat pikul dua keril bolak-balik berenang, habis itu bale ulang gendong pa kita sama deng Papa Budi ada beking tempo hari?,’’ ucap saya menyodorkan resikonya. Iwan tersenyum kecut sambil menggeleng kepala.

Kali ini saya dan Iwan sependapat melewati jalur punggungan bukit yang pernah dilewati Chan sebelumnya. Saya masih ingat. Menurut Chan ketika menghindar harus berenang, dia memilih jalur dengan naik di tebing curam dan melewati batang pohon di tepi jurang.

Memperhitungkan sebelum malam pekat datang, saya dan Iwan segera naik di atas bebatuan besar sampai di punggungan bukit. Tiba saya di jalur tepi jurang sambil bergantungan di batang pohon. Iwan menunggu di belakang. Karena mulai gelap, arah pandangan saya sulit mencari celah jalur di tepi jurang bekas dilewati Chan. Jalur ini sangat sempit dan berjurang. Mustahil dilewati dengan memikul ransel. Iwan mengingatkan saya jangan mengambil resiko. Terpaksa saya urungkan niat menerobos di antara batang pohon yang sangat sempit di bibir jurang. Kaki dan tangan saya dikerumuni semut karena bergantung di pohon. Pasrah karena tidak didapatinya jalur itu, Iwan menyarankan untuk bermalam.

Akhirnya kami kembali di tepi sungai dan mencari tempat bermalam yang cukup aman dan nyaman. Di tepi sungai, saya dan Iwan menaiki batu besar. Di antara batu ada gua dangkal dengan dataran yang—hanya—cukup digelar satu matras. Mengamati sekitar, tidak ada tempat lain. ’’Di sini jo’’ kata Iwan. Ransel kami simpan menempel di celah pinggiran batu karena tidak ada ruang lagi.

Posisi kami memang cukup rawan. Kami berada di bawah lereng batu dan satu depa di atas tepi sungai. Khawatir longsor batu dari atas atau binatang melata besar dan panjang datang dari celah batu. Berfikir akan hal itu, segera saya dan Iwan mengumpulkan ranting-batang pohon dan daun-daun yang cukup kering. Selain bisa menghangatkan badan, api berfungsi mengusir hewan buas. Lampu pijar portabel juga dipasang cukup menerangi sekitar.

Sesaat sebelum saya tertidur, Iwan berjaga sambil membuat perapian tidak padam. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Satu matras dibentang hanya sebagian bisa masuk di celah gua batu. Api sedang cukup menghangatkan kaki dan tangan kami setelah mengganti pakaian kering. Tidak ada makanan atau setidaknya minuman panas kopi untuk menemani lembabnya malam di tengah hutan. Malam ini saya dan Iwan benar-benar lapar. Choki-choki sisa sebatang dipersiapkan untuk perjalanan esok. Masih beruntung ada sebungkus dji sam soe.

Sesaat sedang menambah kayu perapian, teringat mereka, Panji dan Rivan. Saya mengaktifkan HT dan mengontek Rivan. Beberapa kali tekan tombol PTT, tidak ada jawaban. Sambil menghangatkan badan, saya dan Iwan memikirkan keberadaan Panji dan Rivan. ’’So di mana dorang, kang?,’’ tanya saya meski saya tahu Iwan tidak tahu juga.

Beberapa saat kemudian, tampak sorotan cahaya senter cukup jauh dari arah air terjun. Itu pasti Panji dan Rivan. HT saya terdengar suara Rivan memonitor. Saya membalasnya dan menanyakan posisi mereka. ’’Kita cuma sendiri ini, Ka. Panji so lebeh dulu,’’ balas Rivan. Duh.. Kok terpisah?!

Rupanya, Panji meninggalkan Rivan beserta kedua ranselnya yang masih di cabang air ke dua. Posisi itu saya dan Iwan sudah lewati sekitar pukul empat sore. Wah, mereka masih jauh.

Berarti, cahaya senter itu adalah Panji. Sambil menunjukkan keberadaan kami dengan mengarahkan senter, saya dan Iwan terus mengamati sorotan cahaya senter yang perlahan mendekat. Sorotannya tidak beraturan, mengarah ke atas kanan dan kiri. Di malam pekat, Panji mencari jalur mengarah ke saya dan Iwan.

Panji sampai. Badannya basah kuyup. Alat harness masih menggantung di pinggangnya. ’’Waktu turun di jalur terjal torang pakai tali panjat, kita lepas karabiner dari harness kong ba lumpa ka kuala,’’ cerita Panji sambil menahan gigil. Saya berfikir, entah di jalur bagian mana Rivan dan Panji melewati jalur curam sehingga harus menggunakan tali panjat. Sementara saya dan Iwan sama sekali tidak melewati jalur seperti itu. Mungkin karena sudah malam, mereka kehilangan arah jalur.

Iwan merasa iba dan memberikan Panji sebatang rokok. ’’Sedap sekali eh.. Torang so habis akang rokok,’’. Seperti perokok sejati Panji mengisap dalam tembakau kretek.

Kedatangan Panji saat meninggalkan Rivan sempat membuat saya dan Iwan khawatir. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Saya kembali memonitor Rivan yang sedang sendiri di tengah hutan. Meski enggan menyebut rasa takut, Rivan meminta Panji untuk segera kembali. ’’Minta tolong Ka, bilang akang pa Panji cepat bale kamari, cuma sandiri kita,’’ suara Rivan di HT yang juga di dengar Panji. Rivan menceritakan mereka sempat memasak mie instan dengan memotong kaleng gas kosong sebagai ‘pancinya’ karena tidak ada nesting. Ini berarti bekal makanan sudah habis.

Jam sudah pukul 9 malam. Sebatang habis, sebelum meninggalkan kami, Panji meminta beberapa batang rokok untuk dibawa. ’’Biar nda ada makanan yang penting masih ada rokok, Ka’’. Panji kembali menuju posisi Rivan. Wujudnya perlahan mulai tenggelam di tengah pekatnya malam hingga menyisakan sorotan cahaya senter, kemudian hilang di balik bukit. Saya kembali mengabarkan Rivan, Panji sudah meninggalkan kami.

Dengan HP china yang memiliki aplikasi HT, saya dan Rivan saling memonitor. (Foto capt: Faisal Manoppo)

Tersisa saya dan Iwan di tengah perapian. Paruh malam ini, saya mendapat giliran tidur pertama dan Iwan berjaga. Entah sudah berapa lama, tiba-tiba saya terperanjat bangun seperti sehabis mimpi tidak mengenakkan. Tampak Iwan tertidur bersandar di tebing batu. Saya membangunkannya untuk berganti posisi. Perapian sisa bara mengasap. Mengusir kantuk saya mencari ranting di sekitar. Malam kian larut, mata tidak bisa lagi menahan. Saya menyisip dibagian kaki Iwan yang tertidur membulat karena dingin. Se-matras kami tertidur. Kami tidak menghiraukan lagi apakah hewan buas di sekitar mengawasi atau tiba-tiba turun hujan. Alhamdulillah, tidur kami cukup pulas sampai pagi datang. Semoga demikian Rivan dan Panji yang jauh di belakang kami. (BERSAMBUNG)

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

twenty − ten =

instink.net