rumah cepat naik. Istri dan anak tunggal dibawanya pergi meninggalkan rumah menuju dataran tiggi. “Harta masih bisa dicari, tapi tidak nyawa,” ucap Suharman di pengungsian Balai Sanggar Kegiatan Masyarakat Pakuku Jaya.
Dalam situasi panik di pagi buta itu, beberapa warga lainnya memaksa untuk kembali ke rumah dan menyelamatkan barang-barang lainnya. Sutisman mencoba menerobos air yang cepat naik hingga batas pinggang. Karena arus kian kuat dan air terus naik, ia tidak mampu sampai di rumah yang tinggal beberapa meter saja. Air muntahan sungai Milangodaa ini mematahkan nyali beberapa orang warga yang ingin kembali ke rumah sekadar menyelamatkan barang berharga lainnya.
Nasib mereka masih baik. Usai kembali ke tempat dataran tinggi, jembatan sepanjang 30 meter penghubung jalur selatan trans Sulawesi Utara dan Kabupaten Bone Bolango ambruk total. Beberapa menit saja warga terlambat mengungsi, mereka terjebak di tengah dua arus deras sungai besar yang meluap.
Dalam waktu 30 menit air bah menyeret bersih 29 rumah warga, 10 di antaranya bantuan rumah layak huni yang baru di huni 8 bulan. Tanaman kebun juga kena dampak. Nasar Latembo (46) juga kehilangan 300-an pohon kelapa, 500-an pohon pisang dan 100 pohon pala yang baru di tanam tiga bulan lalu ikut hanyut.
Masa pemulihan sehari pasca bencana, bantuan pangan dan sandang diturunkan oleh pemerintah daerah. Para relawan dari pelbagai lembaga dan komunitas ikut turun membantu warga membersihkan timbunan lumpur dan pasir di dalam rumah. “Tanah becek setinggi pinggang orang dewasa. Ada juga hanya pasir di dalam rumah,” ucap Murdianto, Koordinator SAR Hidayatullah di lokasi
Di tengah warga penyintas membersihkan rumahnya, tampak Bambang (56) memungut kelapa yang berserakan dan dikumpulkan kembali. Gubuk kopra miliknya terbongkar dan sebagian besar hanyut. Di dalam rumah yang tertanam lumpur sisa banjir tampak dibiarkan.
“Tidak masalah kami tinggal di mana. Tapi anak saya kuliah di Manado membutuhkan