diterjang bandang. Ketika menyeberang air sungai yang hanya setinggi betis kaki, gelombang banjir bandang telah menyapu Suhardiman Patilima (58) dan Rostin Daaliwa (47) sebelum sampai di tepi. Jasad keduanya ditemukan terpisah jarak ratusan meter setelah pencairan oleh warga selama beberapa hari. “Waktu itu mereka hendak menuju ke kebun,” ucap Camat Tomini Abidin Patilima, keponakan Suhardiman.
Petaka Pakuku Jaya
Suara gemuruh terdengar kuat dari arah timur permukiman yang dihuni 109 jiwa di Desa Pakuku Jaya Sabtu (1/8), sekitar pukul 02.30 Wita dini hari. Setengah terbangun, Sutismas Tangahu (32) mendengar seperti aliran air yang sangat kuat mendorong ribuan bebatuan kali saling beradu. Ia terperanjat dari tempat tidurnya dan meraba pintu keluar kamar karena suasana mati lampu sejak petang hari. “Pintu sebelah sini, pak” ucap sang istri ikut terbangun.
Melongok ke muara yang jarak sekitar lima meter dari belakang rumah, tampak air kecoklatan mengalir deras. Lelaki tiga anak ini segera mengemas barang-barang dan pakaian sedapatnya. Beserta istri dan anak-anak, Sutismas bergegas keluar rumah. Tidak hanya keluarga nelayan ini, meski sedang hujan lebat, di jalanan yang cukup pekat juga sudah berhamburan puluhan warga lainnya.
“Istri dan anak saya bawa lari sampai di ketinggian jalan aspal ke arah Balai Sanggar Kegiatan Masyarakat,” ucap Sutisman mengenang.
Seberang jalan depan rumah Sutisman, juga diterjang banjir. Suharman Sidik (30) tidak dapat menyelamatkan harta bendanya selain pakaian yang melekat di badannya. Air dari belakang