Relokasikan Kami, Pak…

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

pemerintah juga telah membantu warga kian dekat dengan lahan perkebunannya. Penghasilan tertinggi masyarakat Pakuku Jaya dan Milangodaa Barat bukan dari nelayan melainkan hasil perkebunan. ’’Di sana ada kelapa, kebun pisang, rica dan cengkih,’’ kata Mukhlis.

Dengan terbukanya akses baru di perkebunan itu, jalan trans Sulawesi setelah melewati jembatan Milangodaa sampai ke ujung Desa Pakuku Jaya bagian barat, akan menjadi kawasan ‘mati’ yang tidak berpenghuni lagi. Warga Desa Pakuku Jaya Dusun I dan II yang menghadap pantai, juga akan pindah karena setiap tahun ombak memakan daratan sampai dekat permukiman. Beberapa rumah yang membelakangi pantai pernah ambruk diterjang ombak.

’’Tahun 2003 pantai masih 50 meter dari rumah. Sekarang pantai so tinggal 15 meter di depan rumah. Kalau musim ombak, percikan ombak so sampai di teras rumah,’’ ucap Nikson Mokoginta (48) warga Desa Pakuku Jaya Dusun I.

Masa pemulihan pascabanjir telah tiba. Pemerintah daerah saatnya bertindak cepat sebelum warga merasakan dampak stres berkepanjangan. Tidak perlu berharap bantuan yang ada karena tidak akan bertahan lama. Penyintas tidak tahan berlama-lama tinggal di pengungsian dan khawatir kembali lagi ke rumah di tempat yang sama. Perlu ada lahan baru yang lebih aman dan nyaman bagi warga untuk bermukim.

Nurhayati Monoarfah (46) di pengunsian bersama tiga orang anaknya ingin kembali ke rumahnya, meski khawatir banjir akan datang suatu saat nanti. (Foto: Instink.net)

’’Relokasikan saja kami dari sini, pak.. Kalau hujan, torang pasti tidak bisa tidur nyenyak. Kami khawatir banjir datang lagi cepat atau lambat’’.

 

(tim Instink.net)

1 2 3 4 5
Bagikan berita ini:

Comments are closed.

instink.net