Relokasikan Kami, Pak…

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

dataran terendah melewati eks galian C yang baru terhenti beroperasi 7 bulan lalu karena Covid-19. Eks galian material batu kali ini membuat jalur air baru, membongkar tanaman kebun; ratusan pohon kelapa, pisang dan pala. Arus deras juga menyapu bangunan dan isi rumah sebagian penduduk desa Milangodaan Barat dan Pakuku Jaya.

“Torang so pernah ingatkan jangan pernah mengeruk batu di tepi sungai. Kalau di bagian tengah hulu atau hilir tidak masalah. Tapi mereka tidak indahkan dan tetap beroperasi,” kata Sulaiman.

Potongan kayu dari hulu yang terseret arus air bah terhampar di sungai Milangodaa. (Foto: Insintik.net)

Sabtu (1/8) sekitar pukul 01.00 Wita, air deras Sungai Milangodaa selebar 250 meter yang menyertai material bebatuan dan batang pohon besar dari hulu itu membelah setelah 200 meter melewati jembatan terpanjang di Provinsi Sulawesi Utara itu. Gulungan air membelok beberapa meter sebelum eks galian C dan masuk di antara dua sungai mati yang mengapit permukiman Desa Pakuku Jaya dan Miulangodaa Barat. Deras sungai ini membesar dan meluap hingga menyeret 29 rumah dan membongkar sebagian rumah penduduk. Tinggi air hanya sebatas dada orang dewasa. Tapi deras air ini mudah menyeret mobil seperti kapas.

Beberapa menit sebelum air bah merangsek rumah penduduk, warga mulai keluar rumah dan berhamburan di jalananan trans sulawesi. Suasana gelap pekat karena listrik padam sejak petang hari disertai hujan lebat menambah kepanikan 354 jiwa sebagian penduduk Desa Milangodaa Barat dan Pakuku Jaya.  Anak-anak menjerit dan

1 2 3 4 5
Bagikan berita ini:

Comments are closed.

instink.net