Selasa, 17 Juli 2018

Bukan Pemarah Atawa Antikritik

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Mengawali karirnya sebagai pegawai staf bawahan, dia rajin turun di lapangan. Berbekal pengetahuan sebagai penyuluh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Kabupaten Bolaang Mongondow (sebelum dimekarkan), beradaptasi dengan masyarakat di pelosok adalah “makanan” kesehariannya.

Pun ketika akhirnya dia memutuskan berhenti sebagai pegawai dan memilih terjun ke dunia politik, kegemarannya berinteraksi dengan masyarakat tidak bisa dia dihilangkan. Disadari atau tidak, jiwa sosial ini menjadi manivestasi hingga mendorong dia tampil di tiap momentum politik di tanah Mongondow. Terpilih sebagai wakil rakyat periode 2004-2009, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menjadi wadah baginya menyaluarkan “hobi” berpolitik. Herson Mayulu harus tercebur mengarungi ombak dan gelombang politik dari masa ke masa.

Namun disini tidak mengurai bagaimana asam-garam dia mengeyam dunia politik. Menghantarkan dia hingga ke puncak kepemimpinan telah membuktikan filosofi hidup untuk berjuang melekat dekat di nadinya.

Perlu khalayak ketahui, satu yang tidak pernah ia lepas hingga saat ini adalah “kebiasaan” berkomunikasi dengan siapa pun dan di mana saja. Duduk di kursi sang pemimpin selama dua periode, sulit rasanya dia meninggalkan keinginan tetap berkomunikasi. Dia tetap turun ke bawah dan ikut meraba apa yang dirasakan.

Di bumi Bolaang Mongondow Raya ini, tidak ada satu kepala daerah yang masih meluangkan waktunya tetap berinteraksi di lingkungan luar. Bupati ini memang beda. Menjangkau warga yang jauh di pelosok tanpa batasan ruang dan waktu, Herson Mayulu memanfaatkan media sosial memantau aktivitas masyarakatnya. Tidak sampai sebatas itu. Pesan SMS, telepon hingga Whatsapp masih diberikan ruang masuk dalam jeda aktivitasnya. Herson Mayulu tidak segan langsung merespon pesan yang terbaca di layar telepon selulernya.

Being a single political fighter, hampir pasti ada yang tidak senang dengan Herson Mayulu. Teror hujatan, sindiran, bahkan caci maki, yang belakangan merebak di media sosial, menyerang pribadi Herson Mayulu. Akun-akun palsu gentayangan menyeruak. Gaya bertarung seperti ini gamblang terbaca: penyebar kebencian si penghujat, si penyindir dan si pencaci-maki kalap tingkat tinggi.

Terbukanya ruang komunikasi bagi masyarakat dengan sang pemimpin, seyogyanya digunakan dan bertujuan untuk memastikan kinerja aparatur pemerintah berjalan sebagaimana mestinya.

Meski masih jauh dari harapannya, Herson Mayulu tetap memperjuangkan dengan melakukan ekspansi akses komunikasi jaringan internet dan telepon seluler masuk di pelosok desa, seperti di Kecamatan Pinolosian Timur dan Kecamatan Posigadan.

Semestinya masyarakat patut menyadari, bukan sifat pemarah atawa antikritik yang sebenarnya ada pada Herson Mayulu. Juga patut disyukuri, masyarakat Bolsel memiliki pemimpin yang sensitif dan peduli terhadap lingkungan di sekitarnya. Problemitas yang kerap dialami rakyat yakni ketika mereka berkeluh-kesah, namun pemimpinnya sama sekali tidak menghiraukan. Alih-alih memberi bantuan, merespon status di media sosial pun ogah.

(tim redaksi instink.net)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Komentar

avatar
1000

instink.net