Rabu, 5 Agustus 2020

Air Bah Landa Bolsel

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Ratusan warga di Desa Pakuku Jaya Kecamatan Tomini berhamburan keluar rumah, Sabtu (1/8/2020) sekitar pukul 02.00 Wita dini hari. Hujan lebat sejak beberapa hari lalu masih terus mengguyur se antro Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel). Listrik padam sedari petang membuat suasana pagi buta di desa pesisir itu ikut mencekam.

“So sama deng ada perang. Semua orang keluar dari rumah berteriak banjir. Kita tidak mampu bayangkan suasana itu karena gelap deng hujan keras. Semua orang so panik,” kisah Surahman Sidik, warga pengungsi bencana banjir dari Desa Pakuku Jaya saat dijumpai di Balai Kegiatan Masyarakat, lokasi pengungsian, Sabtu (1/8) malam.

Hanya sepuluh meter dari belakang rumahnya, ia masih sempat memantau jalur sungai mati yang sudah puluhan tahun kering mulai teraliri air kiriman. Jika itu terjadi, pertanda sungai besar di Desa Milangodaa meluap. Dia melihat warga lainnya mulai meninggalkan kampung menuju dataran yang lebih tinggi. Selang berapa menit kemudian air dari belakang rumah mulai masuk sampai di mata kaki. Suara arus sungai deras masih begitu kuat terdengar di tengah guyur hujan dan kesunyian malam. Surahman langsung bergegas meninggalkan rumah beserta istri dan anak semata wayangnya. Di tengah hujan deras dan malam pekat, warga berlarian menuju ke rumah Balai Sanggar Kegiatan Masyarakat berjarak 400 mter di mana datarannya lebih tinggi. Jalanan aspal penuh dengan manusia berlarian takut air bah cepat datang. 

Beberapa menit kemudian, tepatnya pukul 03.00 Wita, air bah cepat melebar dan meninggi hingga menerjang puluhan rumah dan masjid. Sungai mati itu berubah bak aliran arung jeram super ekstrem. Pohon-pohon besar mengapung ikut terseret arus. Dari dataran tinggi dekat pengusian, warga menyaksikan belasan rumah begitu mudah tergerus sungai berarus kencang. Tidak lama berselang setelah seluruh warga dievakuasi, seluruh badan jembatan trans nasional ambruk.

“Tidak sempat lagi bawa barang-barang dan pakaian dari rumah. Air di belakang rumah so besar. Pakaian yang ada bawa cuma di badan ini. Harta masih bisa dicari, tapi nyawa tidak,” tuturnya.

Saat ini dia beserta istri dan anak juga bersama puluhan warga lainnya mengungsi di Balai Sanggar Kegiatan Masyarakat Desa Pakuku Jaya. Sebagian pengungsi menumpang di rumah warga yang berada di ketinggian.

Air sungai Desa Milangodaa meluap setelah diguyur hujan selama beberapa hari. Air berwarna kecoklatan itu meluber membentuk aliran baru yang sejak tahun 1930-an tidak pernah teraliri air. Semasa sejak, itu warga memanfaatkan sebagian lahan tersebut dengan menanam pohon pisang dan jenis tanaman buah lainnya. Kini air bah membawanya serta dengan rumah penduduk.

“Tidak sangka so jadi sungai besar karena puluhan tahun tinggal di sini tidak pernah terjadi,” ucap beberapa warga pengungsi lainnya.

BPBD Kabupaten Bolsel merilis dampak pasca bencana banjir dan longsor yang berlangsung Jumat pekan lalu. Terkini terdapat tiga jembatan jalan trans nasional di mana dua diantaranya putus dan satu roboh total. Dampak ini membuat 17 desa yang berada di antara di Kecamatan Tomini dan Posigadan terisolir karena jembatan jalan trans nasional di Desa Pakuku Jaya roboh total dan jembatan di Kabupaten Bone Bolango di Provinsi Gorontalo penghubung Kabupaten Bolsel juga terputus.

Sabtu pagi setelah longsor di beberapa titik jalan nasional menuju ke Kecamatan Helumo dan Tomini terbuka, tim penyaluran bahan pokok dari pemerintah Bolsel mulai bergerak. Bupati Bolsel Hi Iskandar Kamaru memimpin langsung penyaluran bantuan tersebut.

Iringan mobil memuat bahan pokok bantuan diturunkan di kantor Kecamatan Helumo untuk kemudian disalurkan bertahap karena tiga jembatan trans nasional terputus. Kantor camat itu juga dijadikan tempat pengungsian warga Desa Halabolu. Di mana belasan rumah warga juga terendam banjir, Jumat (31/7), malam.

Selanjutnya tim pemerintah Bolsel kembali melanjutkan perjalannya ke arah barat menuju Kecamatan Tomini. Sampai di ujung jembatan terputus di Desa Bakida, Bupati Iskandar bersama rombongan berjalan kaki sampai di ujung jembatan untuk berpindah kendaraan. Tepi jembatan bagian barat yang terputus mulai terhubung dibangun oleh swadaya masyarakat setempat dengan membangun jembatan darurat dari batang pohon kelapa. Bupati Iskandar menggunakan sepeda motor yang dipinjamkan warga untuk sampai di jembatan Sinandaka yang juga terputus. Tiba di jembatan jalan trans nasional di Desa Sinandaka, kembali Bupati Iskandar beserta rombongan berpindah kendaraan menuju Desa Pakuku Jaya Kecamatan Tomini.

Suasana pasca banjir di Desa Pakuku Jaya tidak bisa ditebak mana bekas permukiman. Beberapa rumah makan di bagian dekat pantai tertutup arus sungai. Sulit membedakan karena terdapat cabang arus air menyerupai sungai hingga membelah badan jalan nasional. “Di situ sebelumnya ada tiga tempat rumah makan,” ucap seorang warga yang memandu rombongan menuju ke Desa Pakuku Jaya menujuk arah bekas bangunan tertutup arus air.

Rombongan berjalan kaki menyusuri jalan aspal yang tergenang air dan lumpur. Beberapa jam sebelumnya, jalan ini bak sungai besar. Tepi aspal menjadi patahan yang cukup dalam sisa air bah yang menyapu bersih beberapa rumah penduduk. Tiang listrik dan kabel rata di tanah.

Sekitar pukul 15.00 Wita, Bupati Iskandar beserta tim yang berjumlah sekitar 30-an orang harus melintasi perkebunan dan punggungan bukit karena jembatan nasional menghubungkan ke permukiman warga Pakuku Jaya ambruk total. Untuk sampai ke tempat pengungsian, tidak semudah yang dibayangkan. Tim menerobos kaki bukit dengan berjalan kaki penuh lumpur dan berbatu dengan menempuh waktu sekitar hampir satu jam sampai di ujung jembatan yang roboh di bagian barat. Selama perjalanan itu, di sebelah “sungai” dadakan bekas air bah tampak deretan belakang rumah penduduk dan masjid yang sebagian pondasinya menggantung akibat gerusan kencangnya arus banjir. Pemandangan tragis juga terlihat belasan bekas bangunan rumah sudah tidak tersisa lagi.

Tiba di Balai Kegiatan Masyarakat tempat pengungsian warga terdampak air bah, kedatangan Bupati Iskandar mendapat sambutan spontan riuh tepuk tangan oleh warga. Warga sebelumnya tidak menyangka sang pemimpinnya bisa tembus melalui jalur berbahaya itu.

Suasana haru sempat pecah ketika Bupati Iskandar yang dikelilingi warga pengungsi tidak mampu membendung air matanya. Dia menyatakan ikut merasakan apa yang dialami rakyatnya. Rasa ingin mengetahui bagaimana keadaan yang dirasakan rakyatnya itu yang membuat dirinya kuat melewati rintangan berbahaya sampai di tempat pengungsian. Meski ditengah kekacauan pasca bencana, Bupati Iskandar memberikan dorongan semangat kepada warganya bahwa mereka tidak sendiri merasakan dampak bencana besar ini. Dia memberikan keyakinan situasi sulit ini akan cepat berlalu dan pemerintah segera mengirimkan bantuan bahan pokok, entah itu lewat darat atau laut agar cepat sampai.

Tidak terasa, hampir dua jam berlalu, di tengah hujan deras di bawah tenda darurat Bupati Iskandar bercengkrama dengan para pengungsi. Sebelum berpamitan kembali ke ibukota, dia kembali memberikan semangat karena itu hal penting ketika menghadapi bencana. Dia juga memastikan bantuan bahan pokok dan perlengkapan memasak segera dihantarkan oleh pemerintah kabupaten esok pagi mengingat hujan deras dan hari sudah gelap.

Di tempat titik mula perjalanan masuk ke perbukitan menunggu, Camat Tomini Abidin Patilima dan beberapa aparat desa sempat dirundung cemas dan was-was manakala bupati dan rombongan dari pengungsian belum juga nampak. Jarum pendek sudah menunjuk pukul 8 malam. Arus air yang sebelumnya hanya sebatas mata kaki perlahan mulai naik hingga betis orang dewasa. Dia khawatir air bah susulan bakal datang setelah kembali hujan mengguyur deras.

Hampir satu jam menunggu, sorotan lampu senter di kegelapan malam dari arah kaki bukit mulai tampak. Camat Abidin meminta rombongan yang membawa serta bupati untuk bergegas meninggalkan area bekas air bah itu. Pakaian tim dipenuhi becek dan basah kuyup. Tidak terkecuali bupati meski badan ditutupi dengan jas hujan. Beberapa kali jatuh terpeleset karena jalan licin dan hujan menemani tim selama menyusuri pinggiran bukit di malam hari. Ada juga seorang pejabat eselon II yang menabrak pohon pisang karena gelap.

Banjir dan longsor di Kabupaten Bolsel mendapat perhatian khusus oleh pemerintah pusat. di tengah perjalanan pulang dari pengungsian, Bupati Iskandar Kamaru menerima telepon langsung dari Kepala BNPB Pusat Letjen TNI Doni Mornardo. Dia mengatakan ikut prihatin atas musibah yang dialami masyarakat Bolsel. Dalam pembicaraan lebih dari 10 menit itu, Jenderal bintang tiga ini menanyakan apa saja yang dibutuhkan oleh pemerintah Bolsel untuk penanganan pasca bencana. Armada transportasi laut dan udara dapat didatangkan untuk mempercepat  bantuan logistik ke tempat pengungsian yang terisolir. 

Perjalan dua jam lebih kembali ke jantung ibukota masih diguyur hujan. Tugas wajib dan moril pemerintah Bolsel ditengah bencana melanda sebagian besar penduduk telah menanti esok untuk segera ditunaikan. Semoga bencana ini segera usai dan masyarakat dapat memetik hikmahnya bahwa alam gunung dan hutan patut dijaga dan dilestarikan demi keselamatan dan masa depan anak cucu kelak. (tim instink.net)

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

5 × five =

instink.net