Rabu, 5 Agustus 2020

Hujan Membawa Luka

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Hujan deras mengepung iringan mobil tim pemerintah daerah Kabupaten Bolmong Selatan dalam perjalanan pulang setelah mengantarkan bantuan ke desa-desa terdampak banjir di Kecamatan Pinolosian Tengah dan Timur, Jumat (31/7/2020) sekitar pukul 19.30 Wita. Banjir setinggi satu meter bahkan lebih menggenangi ratusan rumah penduduk di ujung timur daerah berpesisir ini, dua hari lalu. Bantuan beras dan bahan pokok lainnya baru masuk ke desa pelosok itu ketika timbunan material tanah berbatu dan batang pohon yang menghambat dibeberapa titik akses jalan trans nasional ini sudah terbuka.

Dua jam lamanya perjalanan dari lokasi pengiriman bantuan, Bupati Iskandar Kamaru akhirnya tiba di rumah dinasnya di Desa Toluaya. Curah hujan semakin deras. Tim dari satuan perangkat daerah kembali ke rumah masing-masing. Anggota DPR RI Hi Herson Mayulu yang sudah beberapa hari ini meninjau lokasi banjir dan longsor bersama bupati, juga kembali ke pondoknya di bukit perkebunan Kima, Pinolosian.

Beberapa dari rombongan tadi yang tersisa yakni kepala dinas pariwisata, masih di rudis bupati bersama pewarta yang sempat meliput penyaluran bantuan sosial. Hidangan sisa pagi tadi usai salat Idul Adha kini berlanjut menjadi santap malam. Tersebab makan siang yang tertunda, tim kelaparan.

Tidak lebih dari dua menit, Bupati Iskandar keluar dari dalam rumah kembali ke teras setelah berganti baju. Ia tidak lantas istirahat sepelas perjalanan seharian penuh meninjau desa terdampak bencana. Kedua tangannya dikalungkan kebelakang, dia berdiri dekat tirisan air menatap langit pekat. Hujan deras kian kencang. Roman wajahnya tidak bisa disembunyikan menyimpan kecemasan. Telepon seluler tidak lepas di tangannya menerima kabar situasi terkini dari desa. Sesekali tersenyum sebentar mensilakan tawaran tim lainnya yang sedang bersantap. Sang istri mendekat mengantarkan gelas berisi air putih hangat. Dia seperti tidak lapar. Mungkin rasa cemasnya lebih besar menimbun nafsu makannya. Memikirkan nasib yang bakal menimpa rakyatnya mengingat beberapa hari lalu tergenang banjir. Satu orang warganya hanyut terseret arus sungai yang sampai hari ini belum ditemukan jasadnya.

Setelah isi perut tercukupi dan sedikit berbincang mengenai langkah esok, tim berpamitan. Bupati Iskandar masih berdiri di ujung teras kemudian menghantarkan tim yang hendak kembali pulang. Tampak ia tidak beranjak di undakan teras sampai bayangan rombongan tim menghilang ditengah guyuran hujan deras.

Banjir mengakibatkan jembatan di Desa Sinandaka, Kecamatan Tomini, amblas.

Tidak jauh dari Rudis, Ayub Mooduto (32) mengambil senter dan menyoroti permukaan sungai yang hanya beberapa meter dari tempat tinggalnya. Sungai selebar hampir sepuluh meter ini mengalir deras, beberapa jengkal lagi air meluber. Hampir tiap jam dia terus memantau tepian sungai. Istri dan anak ikut terjaga malam itu. Pakaian dan barang berharga sudah dalam siap kemas supaya segera bergegas mengungsi sebelum air merangsek masuk ke dalam rumah. Namun nasib naas menimpa tetangga belakang rumah yang tanah lebih rendah tergenang banjir. Mereka diungsikan ke tempat lebih aman. Air sungai meluap sampai batas pinggang orang dewasa.

Banjir di Desa Toluaya dan sekitarnya pernah terulang tahun lalu disaat musim penghujan. Ratusan rumah tergenang air setinggi lebih dari satu meter. Bencana tidak hanya satu dua kali saja. Banjir dan longsor silih berganti hampir sepanjang tahun sejak puluhan tahun lalu. Bencana ini bukan tanpa sebab.

Tercatat, eks pengelola (Hak Pengguna Hutan (HPH) PT Sandijaya dan PT Barito sudah beroperasi mulai tahun 1980 sampai 2003. Pengelolaan hutan di era order baru tidak dapat terkendali. Akhirnya terbentuklah para penolak HPH dari kalangan masyarakat dalam forum Gerak Aspirasi Bolaang Uki (Gebuk) yang dimotori oleh Dhjuhair Pontoh dan Sidik Gobel antara tahun 2002-2003. Sehingga terjadi kesepakatan antara Gebuk dan perusahaan HPH yakni di antaranya tidak menebang pohon berdiameter 50 cm dan di dekat kawasan daerah aliran sungai hingga radius 200 meter.

Kini masyarakat Bolsel merasakan dampaknya. Pipa air bersih yang mengairi 1200 penduduk di Desa Motandoi putus terseret longsor; ratusan rumah di Kecamatan Pinolosian Tengah dan Timur terendam; 32 titik longsor berat menutup jalan trans di perbukitan Tapakukintang; pagi ini 26 rumah terseret arus di Kecamatan Tomini dan 64 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal; tiga jembatan trans sulawesi di tiga desa putus diterjang arus sungai; dua tanggul bendungan untuk mengairi 30-an hektar sawah jebol di Desa Salongo. Dan masih banyak lagi derita yang dialami rakyat Bolsel.

Apa yang terjadi hari ini tidak terlepas atas dosa-dosa para pengelola HPH. Tidak terkecuali kondisi itu diperparah oleh para penebang liar dari luar Kabupaten Bolsel yang memperluas kebun di kawasan cagar alam di perbukitan Tonsile dan Matayangan-Tapak Kulintang. Alam sedang tidak bersahabat karena kerakusan ulah perusak hutan. Masih ada kesempatan untuk segera berbenah dengan melakukan reboisasi di kawasan hutan sebagai penyangga air sebelum memakan lebih banyak korban. Selama itu belum dilakukan, rakyat Bolsel tidak bisa tidur nyenyak kala musim penghujan tiba.

Tim instink.net

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

six − six =

instink.net