Rabu, 14 November 2018

Agni Terdesak Balairung Mendesak

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa, Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu program wajib di perguruan tinggi sebelum mahasiswa menyelesaikan studinya. Pelaksanaan KKN lazimnya di desa-desa atau tempat terpencil dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan perguruan tinggi.

Dengan program KKN, mahasiswa dapat menerapkan pengetahuannya sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajari serta ajang adaptasi berketerampilan dalam bersosialisasi dengan masyarakat.

Mahasiswa akan mendapatkan beragam hikmahnya bagaimana berproses menghadapi dunia nyata di luar kampus: membentuk kerja tim; menjaga kekompakan, menjalankan program usulan, dan kerja-kerja sosial kemasyarakatan. Lainnya, hanya bumbu-bumbu penyedap: mengenal lebih dekat antar personal mahasiswa selama ber-KKN hingga kisah romantis seperti ‘cinta lokasi’.

Akan halnya fenomena KKN di UGM yang menjadi viral di jagat maya bekalangan ini, memiliki sisi unik: seorang ‘Agni’ nama yang disamarkan oleh situs media mahasiswa UGM dalam kasus ini menjadi korban pemerkosaan oleh seorang rekan kerja tim KKN UGM di Maluku. Laman portal media kampus yang dikelola mahasiwa UGM mengungkap kesaksian Agni yang mengadvokasikan dirinya atas prilaku rekan mahasiswa yang memperlakukannya tidak senonoh. Hasil liputan tingkatan depth news oleh Balairung Press (selanjutnya ditulis Balairung) ini, terbilang exclusive karena mendapatkan keterangan langsung dari penyintas yang bersedia peristiwa ini dipublis secara detil. Terlebih kasus ini masuk dalam kategori sex crime yang rentan di dunia kemahasiswaan.

Lepas penyataan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya yang menyoal isi berita ‘Nalar Pincang UGM Atas Kasus Perkosaan’ tidak mempertimbangkan Kode Etik Jurnalis karena beraroma cabul. Betapa hasil liputan penulis Citra Maudy dan Thovan Sugandi sebagai penyunting berita, menyiratkan bentuk kegelisahan dan kekecewaan terhadap pemangku wewenang di institusi perguruan tinggi bergengsi di Jawa Tengah itu. Sesama kaum perempuan, Citra Maudy pasti sangat memahami kondisi psikologis yang dialami Agni. Keputusan penyintas memblow-up kisahnya ini secara detail, berharap diperlakukan adil dalam kasusnya. Agni mempertaruhkan reputasi dan kehormatannya tentu dengan alasan kuat. Di sisi lain, Citra Maudy juga menyadari, tugasnya sebagai jurnalis mahasiswa harus punya peran agen perubahan.

Sikap Balairung yang cenderung pro dengan penyintas cukup beralasan. Ini tergambar pada judul artikel berita lainnya dengan kasus yang serupa, ‘Malang Melintang Penanganan Pelecehan Seksual di Kampus’. Boleh jadi Balairung menganggap peristiwa Agni tidak boleh terulang dan kasus ini harus menjadi perhatian serius oleh petinggi UGM. Balairang ingin menjaga citra kampus tetap baik di mata masyarakat, tidak hanya lembaga pendidikan pencipta generasi terbaik bagi bangsa, melainkan juga menjaga institusi ini terhindar sikap ambigu masyarakat yang menilai tidak peduli menjaga kehormatan mahasiswanya.

Penulis : Faisal Manoppo

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Komentar

avatar
1000

instink.net