Senin, 28 September 2020

Penyintas Banjir Idap Flu dan Maag

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

BOLSEL – Penyintas pasca bencana banjir dan longsor yang saat ini mengungsi di Balai Sanggar Kegiatan Masyarakat Desa Pakuku Jaya, Kecamatan Tomini, mengidap berbagai macam penyakit. Baik orang dewasa dan balita, para pengungsi ini mengeluhkan sakit flu berat dan maag.

Korban yang selamat dari banjir sejak beberapa hari lalu diungsikan, kini mengeluhkan sakit flu dan maag. Petugas medis di Puskesmas Milangodaa, yang ditugaskan memberikan pelayanan secara khusus di Posko pengungsian, dr Fachrul Walidy mengatakan, sejumlah penyintas pasca banjir mengeluh sakit flu dan maag sejak beberapa hari setelah pengungsian.

“Hampir merata, Balita dan orang dewasa. Balita sakit flu dan dewasa mengeluh sakit maag,” ucap Fachrul kepada INSTINK.NET di Posko pengungsian di Balai Sanggar Kegiatan Masyarakat Desa Pakuku Jaya, Selasa (11/8/2020).

Baca : Tangis di Negeri Lama

Menurutnya, lokasi pengungsian yang menampung banyak orang serta kondisi sanitasi yang kurang baik menjadi salah satu faktor penyebabnya. Kondisi ini akan lebih baik dan tidak akan bertambah keluhan sakit jika pengungsi tidak berlama-lama di pengungsian. Pola makan juga mempengaruhi kesehatan pengungsi.

“Yang sakit maag mungkin karena sering makan mie instan,” imbuh dr Fachrul.

Pengungsi asal Desa Milangodaa Barat, Replin Nento (40), mengeluhkan anaknya Fahril Nento (14), yang sudah empat hari ini sakit panas. Meski sudah dua kali berobat ke posko medis, belum mengalami perubahan.

So empat hari ini masih sakit panas. Semalam anak saya sampai muntah-muntah,” ujar Replin, ditemui INSTINK.NET, Senin (10/8/2020) kemarin, di lokasi eks banjir Desa Pakuku Jaya.

Dia menginginkan petugas medis tidak hanya memeriksa dan memberikan obat sekadarnya saja. “Apakah anak saya harus dirujuk ke rumah sakit atau seperti apa,” keluhnya.

Replin, soal pelayanan kesehatan diakui terlayani. Dokter dan perawat stand by di Posko. Namun, tidak puas karena anaknya Fahri masih sakit. Saat periksa yang kedua kalinya, dokter tidak ada, hanya suster.

Baca : Brimob dan Relawan Pemuda Lakukan Tanggap Darurat Pasca Bencana di Bolsel

Di lokasi pengungsian Balai Sanggar Kegiatan Masyarakat Desa Pakuku Jaya, kehidupan keseharian pengungsi memasak masing-masing untuk kebutuhan sehari-hari. Pihak penyalur dari Posko bantuan yang dipusatkan di Desa Milangodaa Barat, hanya sekali menyalurkan makanan kemasan kotak pada malam hari. Sedangkan makan pagi dan siang dimasak sendiri oleh pengungai di dapur umum.

Nurhayati Monoarfah (43) memasak kebutuhannya sendiri dan dua orang anaknya di dapur umum. Dia mendapatkan paket sembako berupa beras, mie instan, telur, ikan kaleng dan minyak goreng, untuk kebutuhan selama tiga hari kedepan.

“Pagi dengan siang masak masing-masing dengan pengungsi lainnya. Kompor gas hanya satu. Jadi bergantian. Kalau malam dorang antar makanan masak dalam kotak,” ucap Nurhayati di tempat pengungsian, Senin (10/8/2020) kemarin.

Data yang diperoleh dari Puskesmas Milangodaa Barat, jumlah total pengungsi berusia balita, yakni 42 orang dengan rincian, Desa Milangodaa 5 orang Balita, Milangodaa Barat 20, dan Pakuku Jaya 17 Balita.

Jurnalis : Faisal Manoppo
Editor    : Rahmat Putra

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

two × three =

instink.net