Jumat, 3 April 2020

Belajar Toleransi di Bolsel

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Kelestarian kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Bolmong Selatan sudah berlangsung sejak lama dan hingga kini masih terpelihara dengan baik. Tidak terkecuali sikap toleransi masyarakat antar pemeluk agama satu sama lainnya juga terawat bahkan saling menopang.

Visi Kabupaten Bolmong Selatan mewujudkan masyarakat religius bukan slogan semata. Ini dibuktikan oleh pemerintah daerah dengan telah di-bangunkan-nya sarana tiga tempat ibadah yang berlainan kepercayaan; gereja, pura dan masjid didirikan saling berdekatan di pusat kantor administrasi pemerintahan tingkat kabupaten. Pembangunan tiga tempat ibadah ini menjadi simbol pemerintah bahwa Kabupaten Bolmong Selatan merupakan ‘aquarium mini’ toleransi yang ada di Sulawesi Utara. Dan ini termanivestasi hingga ke pelosok desa di Kabupaten Bolmong Selatan.

Tiga tempat ibadah yang berbeda kepercayaan didirikan berdekatan di kompleks pusat kantor kepemerintah Bolsel, di Panango. (Foto: Ayub Mooduto/Diskominfo Bolsel)

Memelihara tolerasi antar umat beragama tidak hanya membangun dari sarana saja. Pemerintah daerah telah mencanangkan Progam Ibadah Subuh Bersama (PISB) yang sudah diterapkan sejak awal 2016 lalu. Progam ini mengharuskan seluruh aparatur sipil negara baik pemeluk agama Kristen, Hindu dan Islam, mulai tingkat desa hingga kabupaten melaksanakan ibadah secara bersama-sama di masing-masing tempat ibadah yang telah ditentukan. Pun masyarakat secara bersama-sama dengan pemerintah melaksanakan ibadah. Secara tidak langsung, beribadah bersama-sama meningkatkan rasa toleransi yang tinggi di tengah masyarakat.

Berlakunya PISB tidak langsung berjalan mulus. Mulanya aturan pemerintah daerah yang mengharuskan ASN melaksanakan PISB dinilai oleh beberapa kalangan sebagai bentuk intervensi pemerintah atas hubungan manusia dengan sang Pencipta. Namun kemudian, apa yang telah dilakukan dampaknya mulai dirasakan. Masyarakat berangsur memahami manfaat dilaksanakannya PISB ini. PISB kemudian dicontohi oleh pemerintah di kota-kota besar lainnya di Indonesia, seperti di Kota Makassar dan Bandung.

Sebagaimana visi kabupaten religius yang digadang-gadang pemerintah Bolmong Selatan mulai kepemimpinan Hi Herson Mayulu-Samir Badu (periode 2010-2015) sampai dengan saat ini (Bupati Hi Iskandar Kamaru – Wabup Deddy Abdul Hamid), kehidupan beragama dan interaksi sosial keseharian di tengah masyarakat tidak menimbulkan kecemburuan. Sebaliknya, meski 90 persen masyarakat di Kabupaten Bolmong Selatan adalah kaum muslim, implementasi visi religius ini tidak sama sekali menimbulkan bentuk antipatis apalagi merusak tempat peribadatan pemeluk agama lainnya (minoritas).

Geraja yang dibangun oleh pemerintah daerah ini mulai digunakan oleh umat Kristen di Bolsel, Desember lalu. (Foto: Ayub Moodut/Diskominfo Bolsel)

Hal lainnya memberikan ruang dan kesempatan beribadah juga dibuktikan oleh pemerintah Bolmong Selatan dengan telah dilaksanakannya acara hari besar upacara keagamaan umat Kristiani dan umat Hindu yang dianggarkan oleh pemerintah daerah.

Tokoh Pemuda Muslim di Kecamatan Posigadan, Muhammad Amin Laiya, mengungkapkan begitu luasnya ruang dan kesempatan bagi pemeluk agama non muslim yang diberikan untuk membangun tempat ibadah kendati jumlah warga kaum bergama tersebut masih tergolong hanya beberapa kepala keluarga.

Tidak sampai di situ. Dalam pemilihan perwakilan warga di Badan Perwakilan Desa (BPD) di desa, seperti Desa Trans Patoa, warga mayoritas muslim tersebut memberikan kesempatan kepada warga mewakili umat pemeluk agamanya disokong masuk dalam anggota BPD. Sikap egaliter ini memberikan ruang aspirasi bagi kaum minoritas untuk menyampaikan pendapat dalam pengambilan keputusan di tingkat desa. ’’Masyarakat (mayoritas muslim) di sini sepakat dengan memilih salah satu perwakilan dari umat Kristiani di BPD,’’ ucap Amin.

Pemda Bolsel bersama umat Hindu saat bersama merayakan upacara Melasti di Pura yang di bangun oleh pemerintah daerah, September lalu. (Foto: Ayub Mooduto/Diskominfo Bolsel)

Pun sebaliknya, di desa pelosok ujung timur Kabupaten Bolmong Selatan, tergambarkan tingginya toleransi antar umat beragama pada pelaksanaan perayaan tahun baru Hijriah, kaum muslim di Desa Dumagin B Kecamatan Pinolosian Timur bersama-sama dengan umat Kristiani di Desa Dumagin A ikut merayakannya. Pada malam perayaan tahun baru Islam ini, umat Muslim dan Kristiani saling beriringan berjalan kaki membawa api obor keliling desa. Juga perayaan Tulude oleh suku Sangihe di Desa Dumagin A, bersama dibantu oleh warga muslim dari Desa Dumagin B.

’’Torang semua (muslim dan kristen) baku-baku bantu dengan gotong royong membuat obor api deng jalan kaki keliling desa,’’ ucap Imbran Mamonto, mantan camat Pinolosian Timur beberapa waktu lalu.

 

Jurnalis  : Muamar Manoppo
Editor    : Faisal M

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

5 × one =

instink.net