Troi 4 Series Paragliding Bolsel: Mulai Peserta Cewek Cantik, Pilot Usia 13 Tahun dan Gairah UMKM

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Ajang olahraga ekstrem paragliding dalam iven Troi (trip of Indonesia) 4th series di Desa Momalia Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), mulai 15-17 Juli 2022, telah sukses gemilang mengemas segala pesona dan keunikan tersendiri. Seluruh yang terlibat dan yang berada di sekitar arena ini punya pengalaman yang tak cukup dibilang menarik saja.

Paragliding dalam iven Troi (trip of Indonesia) 4th series di Desa Momalia Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).

Melibatkan 90 peserta paragliding dari 12 provinsi di Indonesia tentu saja menjadi daya magnet yang kuat terselenggaranya olahraga angkasa yang baru kali pertama muncul di Bolaang Mongondow Raya (BMR) ini. Paragliding masih tergolong olahraga yang baru di BMR selain mewah tentunya.

Cuaca mendung sehabis hujan semalaman di hari pertama tidak membuat surut semangat peserta paragliding menjajal ruang angkasa di Bolsel. Juga masyarakat ikut antusias tampak tidak sabar menunggu aksi para pencakar langit ini beratraksi. Di momen ini juga tidak disia-siakan oleh para pedagang UMKM sekitar yang memanfaatkan keramaian ini untuk mendulang keuntungan dagangannya.

Gairah pedagang UMKM di lokasi arena paragliding Bolsel.

Lebih dari setengah lapangan Momalia ini dikelilingi oleh puluhan pedagang basis kerakyatan ini, mulai jajanan bakso, buah-buahan, gorengan, minuman dingin, kopi, dan olahan komoditi khas daerah yang dipamerkan oleh pedagang home industri lokal minyak goreng kampung, misalnya.

Titin Lambiu (43) warga Desa Momalia mengaku hasil dagangannya mendapatkan berkah yang cukup melimpah sepanjang hari iven itu. Sehari saja keuntungannya bisa mencapai dua kali lipat dari hari biasa. “Sampai siang ini sudah 200 pisang molen terjual,” aku ibu dua anak ini.

Tidak hanya warga lokal, pengusaha kopi barista dari ibukota Bolsel, Bolaang Uki, memboyong perangkat olahan biji kopinya ke lokasi ini. Dia tidak menyangka, setengah hari saja stok biji kopi sudah ludes terjual.
“Besok mau bawa lagi stok yang lebih banyak,” kata Upik, owner Cafe Tanpa Sekat ini, Jumat (15/7).

Pengunjung juga berdatangan dari luar daerah, seperti Kotamobagu, Bolmong hingga Gorontalo. Fira Tangahu, misalnya, bersama tiga temannya, dia datang jauh-jauh dari Kota Gorontalo hanya untuk menyaksikan paragliding. “Saya tahu acara ini dari teman yang ada di sini (Bolsel),” ucapnya.

Cantik dan Termuda

Sisi pesona dan unik juga memberi warna beda dalam iven taraf nasional ini. Dari sekian puluhan peserta penerbang, warga acap terkesima dengan penampilan seorang gadis berparas cantik yang menggendong tas parasut berbobot belasan kilogram ini. Dibalik daya tariknya itu dia bukan perempuan biasa.

Jurnalis BMR foto bareng dengan atlit cantik asal Bandung, Sekar Tresnapuspa.

Sekar Tersnapuspa Adizelita adalah satu di antara puluhan atlit penerbang lainnya yang mengundang banyak pasang mata meliriknya. Gadis asal Bandung ini sudah cukup terbiasa mengembangkan parasut di angkasa Nusantara. Kali ini dia mengeksplor ketangkasannya di iven Troi seri ke empat di Bolsel.

“Saya suka mencoba di arena yang baru. Di Bolsel ini adalah tantangan tersendiri bagi saya karena belum banyak yang mencobanya,” terang penggemar makan bakso ini. Gadis berusia 21 tahun ini juga penasaran dengan bentang area groundnya yang cukup terbatas disamping panorama samudera dan pegunungan.

Beda dengan si cantik Sekar, Muhammad Rakha Syah Mahardika yang hadir tampak sepintas sekadar pelancong biasa karena tergolong masih sangat muda belia. Dia satu di antara 97 atlit paragliding yang tidak boleh dianggap remeh. Di usianya 13 tahun ini sekurangnya sudah 120 kali.

Rakha Terjun Paralayang Sejak Setahun Terakhir

“Sebelumnya tandem dengan Ayah saya. Sekarang sudah bisa sendiri. Doain sukses, ya,” ucapnya polos didampingi sang Ayah yang juga atlit paralayang asal Malang, Jawa Timur.

Jurnalis Instink.Net berswafoto dengan atlit paralayang termuda, Moh. Rakha Syah Mahardika.

Menurut Pengurus Besar FASI Tomi mengatakan, area paragliding di Bolsel sudah cukup representatif untuk dijadikan iven nasional seperti Kerjunas. Meski masih terdapat beberapa kekurangan yakni akses menuju take off di bukit.

“(Kerjunas) bisa banget, tinggal dibenahi aja akses ke lokasi take off-nya karena area landing sudah sangat baik,” kata Bendahara PB FASI ini.

Bendahara PB FASI, Tomi.

Tiga hari lomba paragliding sudah berlangsung dengan sukses, namun para atlit masih merasa belum puas. Di hari ke empat, masa extant momentum terjun lepas dan bebas. Mereka memiliki kesempatan dan waktu seharian untuk menikmati penuh panorama alam dari ketinggian di Bolsel. Kepala Dinas Pariwisata Bolsel Yayuk Kadullah bersama tim tetap semangat memfasilitasi para atlit ini hilir-mudik mengangkut mereka naik di bukit Berkah, tempat take-off paragliding.

Event Paragliding Troi 4th Series resmi ditutup oleh Danladusri Sulawesi Utara, Marsma TNI AU Muhammad Satriyo Utomo SH.

Event Paragliding Troi 4th Series resmi ditutup oleh Danladusri Sulawesi Utara, Marsma TNI AU Muhammad Satriyo Utomo SH, yang juga selaku Ketua Federasi Aero Sport Indonesia Daerah (Fasida), Senin (18/7). Penyaber rekor 1000 jam terbang pesawat tempur Hawk MK-53 ini berharap setelah iven ini, pemerintah Bolsel dapat menghasilkan atlit paralayang lokal yang nantinya dapat berkompetisi mewakili Kabupaten Bolsel dan Sulut. (faisal manoppo)

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

eleven − six =

instink.net