Tunaikan Janji-Janji Politik (Catatan Refleksi Untuk Rakyat Bolsel/-Habis)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Awal tahun 2000, betapa nestapa masyarakat Pinolosian Timur berjuang mengahadapi curam bebatuan serta lumpur jalan di lingkar selatan. Puluhan tahun warga pelosok ujung timur Kabupaten Bolmong Selatan ini merasakan getir kerasnya bertahan hidup. Jalan darat rusak mengharuskan warga menggunakan transportasi laut. Beberapa peristiwa atas kondisi tersebut terjadi. Ada wanita hamil yang melahirkan di atas perahu sebelum sampai di puskesmas sebelah kampung; ada yang berakhir tragis, janin tak bernyawa lagi kadung pecah ketuban dalam perjalanan di laut. Tidak sedikit juga anak sekolah berakhir di tengah perjalanannya. Beberapa yang bertahan, mereka harus berjalan kaki ratusan bahkan berkilo meter menuju sekolah. Puncak ‘Kenari’ di Desa Modisi Kecamatan Pinolosian Timur dikenal oleh warga sangat ekstrem karena puncak medan jalan tanah lilin berlumpur kala hujan.

Ini sebagian kecil fenomena pahit yang sudah biasa bagi mereka berjuang di sudut pelosok Kabupaten Bolsel. Listrik hanya bisa dinikmati sehari–pun itu beberapa jam saja–dalam sepekan, bahkan lebih.

Bangkit Berjuang

Awal pemekaran Kabupaten Bolsel bergerak merangkak mulai dari keterbelakangan di multi sektor. Indeks prestasi manusia (IPM) dan angka kemiskinan terpuruk di Provinsi Sulawesi Utara bermula dari daerah ini.

Era kepemimpinan Herson Mayulu-Iskandar Kamaru, perlahan pasti mulai terbenahi. Dan tahun ini akses darat menuju ujung timur Pinolosian sangat mudah. Aktivitas usaha ekonomi dan perkebunan masyarakat bergairah dengan jalan menghitam dari pelosok menuju pusat kota. Tingkat pelayanan kesehatan relatif dirasakan puas oleh masyarakat desa pelosok. Fasilitas dan pendukung pendidikan mulai terpenuhi.

Dengan program pembangunan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, angka kemiskinan ditekan oleh pemerintah Bolmong Selatan dari tahun ke tahun. Di tahun 2010—kepemimpinan pertama Herson Mayulu-Alm Samir Badu—angka kemiskinan di Kabupaten Bolsel berada ‘di titik nadir’ yakni 18,81 persen (tertinggi di kabupaten/kota Sulawesi Utara). Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam kurun delapan tahun terakhir, tren penurunan angka kemiskinan mengalami perubahan yang sangat signifikan. Di mana tingkat penurunan angka kemiskinan mulai tahun 2010-2019 mencapai 5,54 persen. Jumlah presentasi ini merupakan angka tertinggi di 15 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Utara dalam upaya pengentasan kemiskinan di daerah. Kendati Kabupaten Bolsel masih berada urutan di bawah di antara 14 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Utara, namun Kabupaten Bolsel adalah ‘juara di kelasnya’ dengan nilai rangking tertinggi pengentasan kemiskinan.

Angka kemiskinan di Kabupaten Bolsel mengalami penurunan tiap tahunnya. Bolsel peringkat terats dalam pengenasan kemiskinan se Sulut. (Sumber data primer Bappelitbang Pemda Bolsel).

Ini menunjukkan betapa serius pemerintah Bolsel keluar dari jerat jaring kemiskinan yang selama ini dilabelkan kepada Kabupaten Bolsel. Juga sekaligus, indikator terukur ini menangkis upaya segelintir oknum yang berpandangan subyektif dengan melempar isu bahwa pemerintah Bolsel lamban mengatasi kemiskinan di daerahnya. Anggapan parsial itu terpental.

Pemerintahan Berwibawa

Menggerakkan roda kepemerintahan merupakan pangkal bagaimana pembangunan di daerah Bolsel mampu berjalan. Kesiapan ASN daerah dalam menegakkan kepemerintahan yang baik dan bersih menjadi pondasi utama awal kepemimpinan Herson Mayulu di periode pertama—hingga saat ini dilanjutkan Iskandar Kamaru – Deddy Ambdul Hamid. Tidaklah mudah dengan komposisi aparatus minim sumber daya saat itu. Silih berganti menempatkan pejabat pada jabatan strategis dengan pertimbangan kompetensi di atas kepentingan golongan apalagi kerabat. Beberapa pejabat lamban tak berproduktif harus dipinggirkan demi mempercepat gerak pembangunan. Tidak heran ketika komposisi jabatan kini ditempati oleh pegawai-pegawai muda dan kreatif yang sebagian besar adalah putra-putri daerah.

Kepemerintahan Bolsel di mata publik tidak lagi dipandang sebelah mata. Satu antaranya mengenai kedisiplinan kehadiran pegawai di Bolsel patut diacungi jempol dengan melihat tren di daerah begitu rendahnya kesadaran pegawai negeri melaksanakan tugas dan kewajibannya.

Pun mengenai ketatalaksanaan administrasi dan keuangan kepemerintahan juga berjalan dengan sangat gemilang. Berurut enam kali opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dan masih tetap bertahan di tahun 2020 hanya dalam selang delapan tahun terakhir kepemerintahan diraih Herson Mayulu dan Iskandar Kamaru (-Deddy Abdul Hamid). Hampir tiga tahun dimulai sejak 2010 kepemimpinan Herson Mayulu adalah masa meletakkan bangun pondasi kepemerintahan yang berwibawa. Kewibawaan ini tercermin oleh sikap optimis dan percaya diri para ASN Bolsel meraih berbagai prestasi di bidang kepemerintahan.

Atas rentetan perjalanan kilas balik ini, sudah seyogyanya, Iskandar Kamaru – Dedd Abdul Hamid layak kembali mempimpin Kabupaten Bolsel lima tahun kedepan. Rakyat Bolsel sangat tahu persis bagaimana daerah ini bangkit dari segala keterpurukan dan keterbelakangan. Iskandar Kamaru – Deddy Abdul Hamid telah memberikan bukti nyata Bolsel mampu mengejar ketertinggalan dengan prestasi-prestasi membanggakan. Bolsel bangkit, Bolsel jaya! (red-Instink)

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

five × four =

instink.net