Tangis di Negeri Lama

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

67 tahun lalu, air bah besar menggulung batu-batu raksasa di sungai Milangodaa, Kabupaten Bolaang Mongondow—sebelum dimekarkan menjadi tiga daerah kabupaten dan satu kota. Dalam hitungan detik banjir besar yang disertai bebatuan sungai cepat meluluhlantakkan rumah penduduk di pedukuhan.

Medio tahun 2008,  daerah ini terpisah dari Kabupaten Bolaang Mongondow menjadi daerah otonom, air bah kembali menjerjang di sungai yang menghasilkan ribuan kubik batu kali. Jembatan sepanjang 250 meter ini sebagian ambruk. Banjir bandang juga terjadi di beberapa desa di daerah ini. Banjir di mana-mana mulai ujung barat hingga timur di Kabupaten Bolsel. Ratusan rumah penduduk di beberapa kecamatan ikut terendam banjir akibat meluapnya air sungai. Bencana ini membuat warga nestapa dan terisolir. Ada empat jembatan jalan trans sulawesi putus dalam tenggat waktu yang pendek saat itu. Akses antar kabupaten dan provinsi lumpuh total selama beberapa minggu.

Banjir dan tanah longsor acap tiap tahun terjadi ketika memasuki musim penghujan. Wilayah permukiman yang sebagian besar diapit antara pegunungan dan pesisir pantai ini berteman dengan becana yang silih berganti.

Pertengahan Juli 2019 lalu, sungai terbesar di Bolsel ini telah memakan korban. Pasangan suami istri hanyut

1 2 3 4
Bagikan berita ini:

Leave A Reply

three × three =

instink.net