Satu Tahun BERKAH: Masih Banyak PR Besar

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Gegap gempita masyarakat menyambut kemenangan cukup telak oleh pasangan calon Iskandar Kamaru – Deddy Abdul Hamid pada hasil Pemilukada Desember 2021. Kemenangan ini tidak lepas dibarengi dengan harapan besar masyarakat Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) memperoleh kemakmuran.

Sebelas tugas pokok pasangan Berkah (sebutan pasangan Iskandar Kamaru – Deddy Abdul Hamid) selama kepemimpinannya telah diumbar-janjikan kepada se-antro masyarakat Bolsel. Satu di antaranya yakni Program Peningkatan Sektor Perikanan dan Kelautan. Ini tidaklah mudah karena berkaitan langsung dengan kondisi klasik urgensi—hingga saat ini—yang masih dialami oleh masyarakat utama nelayan: kesejahteraan.

Lebih dari 80 persen sumber pencaharian masyarakat Bolsel sebagai nelayan adalah kenapa sektor tangkap ikan ini tepat diletakkan pada status genting, namun belum mendapatkan porsi penting oleh pemerintah. Pemberian bertahap bantuan perahu dan mesin katinting oleh pemeritah telah memberikan solusi jangka pendek bagi nelayan kecil.

Nelayan yang turun laut harian ini, (kalau) mendapat hasil untuk hari itu juga. Beberapa nelayan partisan lainnya yang tidak memiliki alat tangkap, hanya bermodal jasa tenaga di sebuah kapal besar dengan gaji harian. Karena tidak sedikit pula nelayan kecil yang bergantung pada peran usaha nelayan kelas atas yang memiliki kapal besar (pajeko).

Dinas Perikanaan Kabupaten Bolsel mendata (tahun 2018) sekurangnya tidak lebih 30 unit kepemilikan kapal pajeko yang melaut di perairan laut Maluku. Hasil tangkapan pajeko langsung dilelang atau dijual ke penadah ikan yang kemudian dibawa untuk dijual di Kota Bitung atau Manado.

Tidak ada tempat penyimpanan khusus bersuhu tertentu (cold storage) untuk menampung ikan dengan skala besar. Ketiadaan ruang clod storage ini membuat nelayan mau tidak mau harus menjual ikan ke penadah kendati harga tidak berbanding.

Pelabuhan Dudepo yang sampai dengan kini ’’tidak jelas statusnya” menahun berjalan apa adanya dengan kondisi bangunan memprihatinkan.  Ini juga sebagai tanda tidak adanya upaya serius oleh pemerintah daerah dan pemerintah Provinsi Sulut membangun-dayakan pelabuhan Dudepo menjadi sentra pelelangan ikan terbesar di Bolsel. Hal tersebut lari menghindar dari misi pemerintah dalam upaya meningkatkan hasil tangkapan ikan di kawasan Teluk Tomini.

Satu dari sebelas program utama kepemimpinan ’’BERKAH” ini belum sepenuhnya berjalan mulus. Terlebih jika merunut perjalannya sepuluh tahun ke belakang. Jual-beli bantuan nelayan; tidak tepatnya sasaran bantuan; kurang berdayanya kelompok nelayan; hingga kelompok nelayanan dadakan masih menjadi ’’PR” pemerintah Bolsel.

Tidak bisa disangkal perhatian pemerintah Bolsel begitu konsern terhadap bidang kepariwisataan (masuk program prioritas) patut diapresiasi semangatnya. Namun amat disayangkan jika semangat membangun mutu hidup nelayan juga tidak digandengi. Daya dukung kepariwisataan di Kabupaten Bolsel bernilai prospek tinggi untuk jangka panjang. Tapi bagi nelayan kecil, hidup hari ini bergantung pada pendapatan hari ini.

Belum terlambat bagi Iskandar Kamaru dan Deddy Abdul Hamid memusatkan perhatiannya perihal bagaimana keberlangsungan hidup nelayan dapat terjamin. Menjadikan ’’PR” yang besar bagi pemerintah setidaknya memberikan asa kepada masyarakat nelayan tinimbang ketiadaan langkah pasti. (Faisal Manoppo)

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

eighteen + five =

instink.net