Sang “Imam Samudera” di Teluk Tomini

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Buumm..!! Permukaan air kebiruan seketika membuncah menghantar hentakan super kuat dari dasar laut di suatu malam Laut Maluku perairan Teluk Tomini. Jarum jam panjang belum berpindah ke satu titik telah tampak sekumpulan beragam ikan mengapung seperti terkena wabah beracun. Titik sumber bunyi tidak jauh dari bibir pantai di bagian barat daerah yang dikenal menghasilkan tuna berkualits tinggi itu. Dari kegelapan malam muncul seorang dari atas perahu mulai mendekat ke tengah kerumunan ikan yang sudah tidak bernyawa. Diraihnya dan dikumpulkan dengan jaring.

Ratusan kilogram ikan tadi kemudian ditampung di dalam tumpukan styrofoam atau gabus busa berukuran kotak persegi panjang di sebuah bangunan kecil depan rumahnya. Dia menyortir jenis dan ukuran ikan sebelum melepaskan ke pelalangan di luar daerah. Hasil tangkapan ikan dengan cara ini memberinya keuntungan besar. Membangun rumah dan tempat penampungan ikan adalah satu di antaranya selain memberikan kebutuhan berkecukupan untuk anak dan istri. Aksinya ini tergolong sukses. 

“Dapat beli motor dan modal usaha istri bikin kukis di rumah,” ucap pria dua anak ini.

Kala itu dia merasakan kejayaan dengan menjadi “nelayan” di kawasan Teluk Tomini Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Cara pragmatis mendapat ikan dengan alat tak lazim ini memudahkan dia mendapat keuntungan yang besar dalam waktu singkat. Ya, alat peledak. Hanya dengan satu kali tindakan hasilnya bisa melimpah dalam sekejap–tanpa harus membawa banyak orang atau memiliki kapal berkapsitas besar dengan modal awal yang lebih mahal.

“Setengah hari saja, saya pernah mendapat satu ton ikan. Atau sekurangnya ratusan kilo. Jenisnya macam-macam. Ada bobara, goropa dan napoleon. Hanya di bagian pantai depan situ saja,” kisahnya sambil menunjuk arah laut.

Bagaimana pengetahuan cara dia meramu bahan dan merakit menjadi sebuah “bom” didapatinya ketika masa remaja dia merantau di salah satu daerah di Provinsi Sulawesi Tengah.

“Saya bisa mendapatkan bahan peledak dari perantara teman di sana (Sulteng). Lalu merakitnya di sini,” ucapnya dengan mimik meyakinkan.

Dia juga tidak ragu menyebutkan bagaimana modus operandi hingga mendatangkan bahan berbahaya itu bisa masuk di daerahnya.

“Nama bahannya Bu**a Ma*****. Bahan itu dipesan di negara tetangga lalu dipasok ke Buton. Kemudian dimuat di kapal feri. Tiba di pelabuhan Gorontalo saya muat di perahu sampai di rumah. Pernah saya pesan sampai 10 kg,” ungkapnya.

Syahdan untuk mengantar barang tersebut sampai dengan aman di rumah, dia menyewa “jasa perlindungan” dari oknum aparat dengan memberinya upah.

“Pernah ada pak polisi pesan ikan sama saya. Dia tahu bagaimana cara saya mendapatkan ikan. (Bom) ‘dilegalkan’,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Tak ayal, kerap aksinya mengebom ikan di laut sehingga mendapat julukan “Imam Samudera” oleh sebagian masyarakat yang mengenal profesinya. Nama tersebut saat itu di mana masa konflik horisontal sedang pecah di Sulawesi Tengah dan sebagian pulau Jawa, dan nama Imam Samudera dikenal sebagai pemimpin kelompok fundamentalis yang framing disebut teroris.

“Saya juga tidak tahu (siapa yang pertama memanggilnya Imam Samudera). Muncul begitu saja. Mungkin karena ramai-ramai (berita) di televisi waktu itu,” selorohnya.

Tentu saja, seiring waku berlalu, aksinya itu tidak bertahan lama. Dia menyadari perbuatannya sangat keliru; tidak hanya merusak lingkungan di laut, aksi nge-bom ikan bisa mengantarkannya ke balik jeruji. Jika bukan hal lain itu, ledakan bom bisa menimpa dirinya atau keluarganya. Karena satu waktu, alat bom yang dia simpan pernah meledak di tempat istrinya membuat kue. Beruntung tidak ada orang di dalam rumah di siang itu.

“Saya bersyukur keluarga tidak ada yang terluka. Pernah juga saya diincar oleh polisi dan saya sempat lari sembunyi sampai beberapa lama,” kisahnya lagi.

Pertumbuhan pembangunan yang disertai dengan kemajuan teknologi komunikasi di daerah juga mengurungkan niatnya melakukan pengeboman ikan. Sebab sebelum itu, kampungnya tidak jarang diselimuti kegelapan saat malam karena listrik sering padam, juga tidak ada jaringan telepon seluler.

“Sekarang kan sudah banyak yang punya HP. Baru saya timbul dari dasar laut, polisi sudah ada. Karena pasti ada yang melapor ke polisi dengan HP, jadi cepat,” ucapnya mengandaikan.

Kini, dia kembali menjadi nelayan pada umumnya. Menangkap ikan dengan keterampilan dan perlengkapan seadanya. Bahkan saat ini, dia cukup dikenal sebagai penangkap ikan tuna yang andal. Dengan menggunakan teknik layang-layang, tangkapan ikan tuna sudah cukup menghidupi keluarganya selain dengan berkebun.

Hari mulai meninggalkan pagi, pria ini kemudian berdiri dan mengambil layang-layang yang dibuatnya sendiri. Lalu mengajak serta anak lelaki remajanya memancing ikan tuna di rakit. Saya ikut membantu mereka mendorong perahu sampai ke bibir pantai. (Faisal Manoppo)

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

sixteen − 9 =

instink.net