Murka Zuriah Loloda Mokoagow Atas Lakon “Cahaya Bidadari Minahasa”

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Sabtu, 31 Oktober 2020, bekas kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Utara, diubah menjadi teater yang mementaskan legenda Minahasa, Pingkan-Matindas. Sandiwara digagas oleh Achi Breyvi Talanggai, Direktur Institut Seni Budaya Independen Manado, sekaligus menyutradarai lakon “Cahaya Bidadari Minahasa” (judul kisah Pingkan-Matindas).

Lakon yang diperankan oleh Keyzia Rantung (Pingkan) dan Marcelino Silouw (Matindas), ikut disiarkan langsung oleh media lokal, Kawanua TV melalui saluran televisi dan juga secara streaming di akun facebook Kawanua TV Manado, kurang lebih lima jam. “Sangat puas, dan tak sabar ingin pentas lagi,” ucap Keyzia Rantung dikutip dari liputankawanua.com.

Sayangnya, ungkapan pemeran Pingkan itu silap dengan yang dirasakan oleh masyarakat di wilayah Bolaang Mongondow Raya. Beberapa adegan dalam sandiwara tersebut dinilai melecehkan leluhur etnis Mongondow, yakni raja Loloda Mokoagow. Betapa tidak, dalam penggambarannya, raja Loloda dikesankan sebagai seorang maniak seks, serta dibunuh dengan cara dipenggal kepalanya.

“Raja Loloda Mokoagow sangat sakral. Sebagai keturunan Raja Loloda Mokoagow, saya mengutuk pentas seni yang disutradai oleh Achi Breyvi Talanggai.” Ungkapan kemarahan ini dilontarkan Yasti Soepredjo Mokoagow, Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow.

Apa yang diceritakannya di teater itu sudah mencoreng kehormatan dan harga diri orang Bolaang Mongondow. Karena telah menodai nilai sejarah. Dan terpenting harus dipahami, Raja Loloda Mokoagow adalah panutan, kehormatan, harga diri seluruh rakyat Mongondow. “Sutradara tidak memiliki etika dalam menampilkan karya seni.” Begitu kata Yasti.

“Ini sungguh sangat melukai hati rakyat BMR. Harusnya sang sutradara punya etika dalam menampilkan karya seni, punya dasar alasan dalam menulis, ini pelecehan terhadap rakyat BMR, harus ada tindakan hukum terhadap karya seni yang jelas menyinggung SARA. Jangan mengangkat harkat suku lain, kemudian menjatuhkan suku Mongondow.” Meski mengaku menghargai seni, dia menolak yang dibuat para seniman untuk mendapat keuntungan. Apa terlebih seorang raja yang bagi sangat dihargai dan dihormati orang Mongondow.

Biarpun tersakiti, masyarakat Bolaang Mongondow Raya diminta tidak terprovokasi. Yasti berjanji akan membawa masalah ini ke ranah hukum.

“Seorang kawan juga bercerita kalau ia pernah menegur Achi soal risiko teater itu.” Kalimat ini dinukil dari status akun facebook Tyo Mokoagow. Nama lengkapnya, Triwardana Mokoagow.

Sebagai zuriah dari Loloda Mokoagow, anak dari Sehan Mokoapa Mokoagow (mantan wakil bupati Bolaang Mongondow) itu prihatin ketika membaca buku karangan HM. Taulu “Bintang Minahasa” dan novel “Hujan Bulan Juni” yang ditulis Sapardi Djoko Damono. (Kedua tulisan dicurigai dijadikan inspirasi pementasan teater Cahaya Bidadari Minahasa).

“Dua tahun lalu, Balai Bahasa Sulawesi Utara menyadari risiko sentimen etnis dalam narasi Taulu, lantas mengganti Loloda Mokoagow dengan “raja perompak”. Menurut Tyo, Achi punya opsi untuk mengambil versi Balai Bahasa yang tak menyebut etnis Bolaang Mongondow atau nama marga saya, Mokoagow, tapi opsi itu tidak diambil. Pun karena fiksi, Achi tentu saja bisa mengganti atau menghilangkan nama etnis dan nama tokoh tapi opsi itu tidak juga diambil, Achi justru meneruskan narasi sentimen etnis Taulu lewat teaternya.

Tyo hanya bisa menasehati Achi Breyvi untuk datang meminta ampun secara langsung ke pusara Loloda Mokoagow. Dia percaya, itikad baik selalu diberi tempat untuk dihargai. “Sebagai tetangga yang baik, tidak elok melempar batu ke rumah tetangga tapi hanya sembunyi di kolong meja rumah sendiri seraya minta maaf di media sosial dan mengundang korban Achi untuk datang ngopi di kolong meja tempat Achi sembunyi.”

Editor: Rahmat Putra Kadullah

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

six + 6 =

instink.net