Menjawab Coretan-coretan Panik

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Lebih baik diam tidak terlihat bodoh daripada banyak omong namun terlihat bodohnya.

Coretannya saya lihat sepintas seperti rangkaian paragraf mantra. Narasinya tak beraturan. Bunyinya komat-kamit tidak keruan. Saya berani bertaruh, sesiapa yang membaca coretan tak lebih ungkap kegelisahannya itu, ikut merasa pusing dan mual karena sulit mencernanya dengan baik.

Panik. Satu kata itu cukup menyiratkan seluruh isi coretannya. Maksud hendak menjelaskan peran BPBD Bolsel tidak lebih hanya menambah deretan kegagalan demi kegagalan. Abai dari substansi sebuah editorial “Bangun Semangat Baru” di-upaya-dayakan dengan cara-cara penuh seluk kekecewaan tak berarti.

Menjawab coretan-coretan panik Herdi Mokodompit, saya sudah bersukarela menjelaskan apa dan bagaimana muatan editorial dalam bingkai media sebelum artikel ini kembali menegaskan. Alih-alih membuatnya sadar diri. Gelap hampa isi batok kepalanya tidak mampu menjangkau makna dan esensi editorial punya tujuan. Dia berkehendak keras editorial harus berimbang laiknya sebuah berita adalah perkara yang tidak lucu.

Sedikit memberi contoh agar lebih mudah baginya berpikir seraya berharap pesan ini masuk di rongga kecil isi batok belakang kepalanya. Editorial, saya analogikan, adalah deklarasi atau pernyataan sikap oleh para aktivis pendemo yang dibacakan (suarakan) kepada lembaga pelayanan publik atas problematika. Apakah lembaga tersebut menerima atau menolaknya, bagi para pendemo sudah cukup menjelaskan eksistensi mereka bersikap di hadapan publik. Tidak perlu konfirmasi, tidak pakai wawancara. Editorial bukan reportase, lain indepth news, apalagi straight news, atau sejenisnya yang mewajibkan perimbangan informasi.

Editorial menyatakan suara sikap media “berbicara” terhadap hal-hal kompleks dengan bahasa yang jelas dan tidak ambigu dan seringkasnya untuk memengaruhi pembaca. Sampai di sini ente paham?

Sejurus, jika bukan sebab makna editorial an sich yang disoalnya kini, telah tampak jelas balik motif coretan-coretan anak Kepala BPBD Bolsel ini tidak lebih sensasi mencari panggung pembelaan semata. Bolehlah dia saat ini merasa puas menampilkan atraksi idenya nan polos. Setidaknya, editorial “Bangun Semangat Baru” dapat mewakili asbab ketika Bupati Iskandar Kamaru mengambil keputusan.

Sekali lagi yang sudah-sudah. Ihwal ketidakcakapan, hingga Kepala BPBD Bolsel sama sekali tidak menyadari bahwasanya sejumlah tugas-peran pokoknya telah diambil alih langsung oleh Bupati Iskandar Kamaru dan Wakil Bupati Deddy Abdul Hamid. Langkah ini diperani untuk menanggulangi kekakuan Kepala BPBD Bolsel yang kalap menghadapi bencana.

Tidak hanya itu. BPBD Bolsel kian kehilangan peranannya. Relawan pemuda Peredam juga secara sigap terdepan mengambil salah satu tugas BPBD Bolsel—yang tidak terpikirkan; Peredam membentuk tim Trauma Healing untuk mengobati luka trauma korban bencana alam. Penyembuhan gangguan kesehatan mental yang muncul setelah seseorang mengalami kejadian yang menyebabkan traumatik merupakan satu elemen penting tugas-tugas tanggap kebencanaan pascatrauma.

Bencana banjir dan longsor di Kabupaten Bolsel tidak hanya terjadi satu-dua kali melainkan telah menjadi siklus periodik. Dalih kekurangan tim relawan, keterbatasan tim satuan tugas, di bawah kendali BPBD Bolsel lebih menunjukkan hilangnya sikap bencana dan kesiapsiagaan pra-bencana.

BPBD Bolsel butuh leader cepat, tanggap dan tangguh disegala medan dan kondisi. Tentunya, melihat sepak terjang Daanan Mokodompit memimpin BPBD Bolsel belakangan, telah cukup memberinya pelajaran dan pengalaman berharga; untuk selanjutnya legowo memberikan ruang bagi lainnya. Saya merekomendasi Daanan Mokodompit lebih tepat berurusan dengan penanganan keadministrasian. Duduk manis di belakang meja. (Faisal Manoppo)

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

twenty − 12 =

instink.net