Memecah ‘Mitos’ Pilgub Sulut di BMR?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Oleh : Subagio Manggopa
Penulis adalah Mantan Sekretaris Umum HMI Cabang Tondano

Tidak lama lagi kita akan melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak pada bulan Desember 2020. Dari total 270 daerah, termasuk diantaranya provinsi Sulawesi Utara yang akan menggelar hajatan lima tahunan tersebut.

Menariknya, Pasangan Calon (Paslon) yang akan maju pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Utara (Sulut) adalah tiga paslon. Yaitu: Christiany E. Paruntu – Sehan Salim Landjar (CEPSSL), Vonny A. Panambunan – Hendry Runtuwene (VAPHR) dan pasangan Olly Dondokambey – Steven Kandouw (ODSK). Dari ketiga pasangan, sama-sama memiliki popularitas dan basis massa yang jelas yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulut.

Berdasarkan garis partai politik, pasangan CEPSSL peta kekuatannya meliputi Kabupaten Minahasa Selatan, Kota Tomohon, Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Adapun kekuatan VAPHR meliputi; Kota Bitung, Kota Manado, Kota Kotamobagu dan Minahasa Utara. Sedangkan, kekuatan ODSK, di Kabupaten Minahasa, Minahasa Tenggara, Kepulauan Sitaro, dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.

Sisi menarik lainnya ketiga paslon dibekingi oleh nama-nama besar yang cukup berpengaruh di Bolaang Mongondow Raya (BMR). Pasangan CEPSSL, dibelakangnya ada Djelantik Mokodompit dan Abdul Kadir Mangkat. Di belakang VAPHR ada Sukron Mamonto. Dan pasangan ODSK ada Yasti Soepredjo Mokoagow dan Tatong Bara yang juga sebagai Bupati Bolaang Mongondow dan Walikota Kota Kotamobagu.

Sehingga, diprediksi Pilgub kali ini tak hanya pertarungan antara paslon dengan garis partai politik saja, melainkan juga pertarungan para tokoh-tokoh kuat di BMR. Eksesnya pun pada hajatan Pilkada serentak di BMR lima tahun yang akan datang.

Bagaimana kekuatan elektoral masing-masing Pasangan Calon tersebut?

Jika menilik hasil Pemilu 2019 di wilayah BMR, maka pasangan calon VAPHR dan ODSK berada di atas angin. Karena PDI-P dan Nasdem masing-masing memperoleh tiga kursi. Sayangnya, hasil Pemilu 2019 tidak bisa dijadikan acuan. Sebab, kekuatan Nasdem di Bolmong misalnya – sepeninggal YSM – menurut hemat saya – elektabilitas Parpol akan cukup berpengaruh.

Apalagi, santer dikabarkan juga Tatong Bara mendukung pasangan ODSK. Jika berita ini benar adanya, maka pasangan VAPHR akan kehilangan dukungan di dua wilayah BMR yang pada Pemilu 2019 memperoleh suara yang cukup signifikan. Padahal, untuk menutupi itu VAP harusnya meminang figur BMR, tetapi itu tidak dilakukan.

Asumsi saya, ada sejumlah alasan mengapa VAP tidak merekrut figur BMR sebagai pendampingnya. Pertama; adalah dukungan Partai politik itu jelas. Dimana, VAP diusung oleh Nasdem, sehingga seluruh kader Nasdem di seluruh wilayah Kabupaten/Kota wajib mendukungnya. Kedua; hasil Pemilu 2019 dengan menempatkan Nasdem peringkat kedua dalam perolehan suara di Sulut. Dan di wilayah BMR sendiri, Nasdem memperoleh tiga kursi menyamai perolehan kursi PDIP. 

Sehingga, pilihannya adalah Hendry Runtuwene dari kalangan agamawan sebagai pendampingnya untuk maju sebagai Wakil Gubernur Sulut. Hendry Runtuwene adalah seorang tokoh agama terkenal dari GMIM yang merupakan organisasi keagamaan Kristen terbesar di Sulut. Dengan begitu, kalkulasi politiknya, kalangan GMIM di wilayah BMR akan satu suara mendukung VAPHR dalam kontestasi Pilgub nanti.

Akan halnya, CEPSSL akan lebih diunggulkan di BMR. Kita cukup mengenal karakteristik warga BMR, dimana representasi etnik, agama dan wilayah menjadi ciri khas pemilih di BMR. Dengan majunya nama Sehan Salim Landjar sebagai Wakil Gubernur, menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat BMR. Apalagi sosok SSL atau akrab disapa ‘eyang’ selama dua periode menjadi Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow Timur dan sangat akrab dengan rakyatnya. Selain itu pula, eyang dikenal sebagai orator hebat serta memiliki kemampuan retorika yang cukup mumpuni.

Sehingga, menurut sebagian kalangan jika Eyang menjadi Wakil Gubernur, maka tidak hanya menguntungkan BMR, tetapi juga akan menguntungkan Sulut pada umumnya. Alasan inilah yang kemudian bakal mendongkrak elektabilitas Sehan Salim Landjar di wilayah BMR. Di sisi lain, pasangan CEPSSL didukung oleh partai Golkar. Dimana, kita ketahui bersama, BMR merupakan basis tradisionalnya Golkar. Kendati, pasca kepemimpinan Marlina Moha Siahaan (MMS), elektabilitas Golkar mengalami pasang-surut.

Namun demikian, seiring waktu, Golkar kini mengalami transformasi. Bahkan makin percaya diri menatap Pilkada serentak 2024 termasuk di Kabupaten Bolaang Mongondow. Bisa jadi, momentum Pilgub Sulut 2020 menjadi arena pertarungan para figur yang akan maju di Pilkada serentak 2024. Di BMR sendiri, tak hanya Kabupaten Bolaang Mongondow yang akan menyelenggarakan Pilkada serentak. Akan tetapi kemungkinan juga, Kota Kotamobagu, Kabupaten Bolmong Utara, Kabupaten Boltim dan Bolsel. Imbas dari Pilkada Serentak tahun ini.

Lalu, bagaimana kekuatan ODSK di BMR?

‘Petahana jarang sekali kalah.’ Fenomena ini kerap kali terjadi pada Pemilihan di Sulut, termasuk di BMR. Kekalahan sebelumnya pasangan ODSK pada Pilgub 2015 di wilayah BMR adalah terjadi pada periode pertama. Buktinya, setelah itu PDIP langsung berbenah. Strategi politik dan berjalannya mesin partai dibeberapa tahun terakhir ini – sejak kepemimpinan ODSK – alhasil PDIP sebagai pemenang perolehan suara terbanyak di Sulut pada Pemilu 2019 lalu.

Belum lagi, pada Pilgub kali ini ODSK mendapat dukungan dari Parpol berbasis muslim, yakni; PPP dan PKB. Bergabungnya partai muslim dalam koalisi tersebut, berdampak pada perebutan suara muslim di sejumlah daerah termasuk di BMR. Pun demikian, dukungan tokoh-tokoh BMR, seperti; Iskandar Kamaru, Depri Pontoh, Yasti Soepredjo Mokoagow dan Tatong Bara yang masing-masing sebagai kepala daerah di BMR akan sangat mempengaruhi perolehan suara di wilayah yang mereka pimpin.

Apalagi, dua nama wanita yang saya sebutkan diatas. Kehadiran dua tokoh Srikandi BMR, yakni; Yasti Soepredjo Mokoagow dan Tatong Bara bakal jadi votegetter-Nya ODSK. Kedua Srikandi ini adalah wanita hebat dan sangat diperhitungkan dalam perpolitikan di Sulut. YSM, dua periode dipilih oleh warga Sulut di DPR RI dan sekarang menjabat sebagai Bupati Bolaang Mongondow. YSM juga merupakan tandem Olly Dondokambey sewaktu di DPR RI. Keduanya memiliki konstribusi yang besar dalam pembangunan di Sulut terutama di bidang Infrastruktur.

Tatong Bara, dua periode menjadi Walikota Kota Kotamobagu sebagai bukti bahwa Srikandi ini sangat berpengaruh di wilayahnya. Tatong Bara merupakan tandem YSM, keduanya adalah paket handal yang sangat berpengaruh. Sebagai bukti, parpol Nasdem di Bolmong mampu memperoleh tujuh kursi di DPRD menyamai PDIP. Di Kota Kotamobagu, secara mengejutkan Nasdem mampu memperoleh empat kursi. Sedangkan di Provinsi, Nasdem mampu mengirim tiga utusannya ke Dewan Provinsi.

Ringkasnya, jika merunut perjalanan karir politik keduanya dan bekingan sejumlah tokoh BMR serta dukungan parpol berbasis muslim pada ODSK menunjukkan superioritasnya calon petahana di banding dua penantang lainnya. Namun, seperti sudah terbukti sebelumnya, bahwa wilayah BMR akan sulit ditaklukan. Keterwakilan etnik, agama dan wilayah begitu kuat di BMR. Sepertinya sudah menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Lalu?

Kalau sudah begini adanya, saya tidak bisa meng-konklusi apalagi berspekulasi. Biarlah saya serahkan kepada para pemain utama. Dan saya tetap jadi penonton sembari berkata “Jangan lupa 3M ( Memakai Masker, Mencuci Tangan dan Menjaga Jarak) jika kita ke TPS.” (***)

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

seventeen − eleven =

instink.net