Hari Pertama Pasar Genggulang: Pedagang dan Pembeli Kebingungan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Kamis (4/08) hari pertama lokasi Pasar Genggulang mulai beroperasi tidak sedikit menimbulkan ketidakpastian yang dialami oleh para pedagang. Sebagian besar pedagang belum mendapatkan lapak karena harus diregistrasi lebih dahulu oleh petugas pasar.

Pagi menjelang siang tadi, terpantau masih banyak lapak dalam bangunan yang kosong. Puluhan kios yang di bangun mengitari bangunan pendopo induk tersebut juga masih tertutup rapat.

Para pedagang tampak berkerumun di satu titik di tengah bangunan pasar. Mereka belum berjualan melainkan antre mendaftarkan jenis usahanya.

Satu per satu pedagang mendaftarkan diri untuk dilakukan pencatatan yang dilakukan oleh pengelolah pasar baru itu. Arifin Paputungan terlihat sibuk melayani pedagang yang sebagian besarnya adalah kaum ibu-ibu. Pria itu mencatat nama-nama pemilik pedagang, jenis dagangan hingga nomor lapak/kios yang bakal ditempati calon pedagang.

“Waktu bulan puasa lalu (Maret), sudah diregistrasi jumlahnya 102 pedagang. Tapi ada juga pedagang yang belum mau diregis waktu itu,” kata Arifin, pegawai dari Dinas Pasar Kotamobagu. Dia menyebut hari pertama Pasar Genggulang ini dibuka baru dilakukan pencatatan kembali para pedagang yang akan mengisi lapak dan kios yang telah tersedia.

Pedagang sayuran juga menaruh dagangannya di tepi jalan umum akses keluar masuk pasar.

Pedagang sayuran menaruh dagangannya di tepi jalan umum akses keluar masuk pasar.

Salah satu pedagang asal Bongkudai, Rabia Mamonto, mengaku belum mendapatkan lapak meski saat ini dia menaruh dagangan kue-kue tradisional buatannya di sebuah lapak beton. Rabia terpaksa harus pindah lokasi dagangnya dari Pasar Serasi, yang saat ini sedang ditertibkan.

“Saya hanya menjual kukis jadi tidak perlu pakai lapak (beton) begini. Tidak tahu juga besok mau jual di sebelah mana,” ucapnya.

Puluhan pedagang sayur dan buah-buahan memilih "lapak"nya sendiri sesuka hati.

Puluhan pedagang sayur dan buah-buahan memilih “lapak”nya sendiri sesuka hati.

Tidak beda dengan Sulasti pedagang sayuran ini. Bersama dengan pedagang lainnya ia memilih menggelar lapak tikar dan meja kayunya di selasar tangga bawah pinggir bangunan pasar. Tempat itu merupakan akses keluar masuk penjual dan pembeli. Ia sudah terbiasa berdagang di emperan pasar. Sulasti sudah bertahun-tahun berjualan di Pasar 23 Maret yang kini resmi ditutup karena tidak layak lagi.

“Belum mendaftar. Torang jualan di sini (tempat terbuka) jo daripada maso di dalam (bangunan),” kata Sulasti diiyakan seorang ibu pedagang yang tepat di sampingnya.

Hari ini baru terisi dua lapak penjual ikan di antara puluhan lapak lainnya yang masih kosong.

Di antara puluhan pedagang, Arifin Suid mungkin masih cukup beruntung. Penjual ikan laut asal Pasar 23 Maret ini sudah mendapatkan lapaknya. Menurutnya jauh hari dia sudah mendaftarkan usahanya di Dinas Pasar.

“Saya pesan dua lapak. Tapi belum tahu di sebelah mana. Untuk sementara ini di sini dulu,” aku pria asal Kelurahan Kampung Baru ini.

Namun Arifin sedikit mengeluh karena keran air yang terpasang di tiap lapak belum tersedia air. Ujung pipa saluran air juga tidak terpasang keran air. “Dorang bilang itu keran orang ada curi,” katanya mengaku mendapat informasi dari orang-orang sekitar pasar. Agar ikan tetap segar, akhirnya dia berinisiatif mengambil air dari kamar mandi di ujung selatan bangunan yang kondisinya tidak terawat lagi.

Beberapa pembeli yang dijumpai tampak kebingungan karena jenis ikan laut yang akan dibeli tidak ada penjualnya. Sebelumnya Meys mendapat kabar pedagang ikan telah dipindahkan di Pasar Genggulang. Tapi dia terlihat kecewa penjual ikan yang ada masih terbatas. “Kita so lebeih dulu datang ke sini mar cuma ada ikan cakalang,” kata Meys warga Kampung Baru.

Menurut pendapat warga, pemerintah belum siap menata dan mengorganisir para pedagang yang akan direlokasi. Sehingga tidak heran banyak pedagang yang suka-rela mengikuti aturan pemerintah justru terkesan terlantarkan.

“Seharusnya ketika sudah dipindahkan pedagang sudah mendapatkan lapak yang pasti. Pendapatan mereka kan harian. Kalau tidak berjualan hari ini, mereka dapat penghasilan dari mana?,” ucap beberapa warga saat percakapan ringan di kawasan pasar tersebut. (faisal manoppo)

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

16 − 3 =

instink.net