Gebyar “Mongulipot” : Sarana Mempererat Silaturahim

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

BOLMONG – Sejak dimulai pada tahun 2011, gebyar “Mongulipot” biasanya dilaksanakan pasca lebaran Idul Fitri. Kegiatan ini merupakan cara warga desa menjaga tradisi leluhur suku Mongondow yakni, memasak beras yang dibungkus dengan daun kulipot.

“Mongulipot” merupakan ide kreatif warga dalam memanifestasikan kearifan lokal untuk mengangkat kuliner khas daerah. Tak hanya itu, makanan ini memiliki pesan sarat makna. Sebab, beras yang tercerai berai, mampu disatukan oleh daun kulipot yang memiliki bau yang harum.

Sabtu (15/06/2019), di lapangan Desa Mopait, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, masyarakat setempat kembali melaksanakan kegiatan yang pada tahun ini ke-9 kalinya digelar.

Bupati saat memberikan sambutan.

Bupati Bolmong, Dra Hj Yasti Soepredjo turut hadir dengan didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Bolmong, Tahlis Gallang, dan sejumlah kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Sebelum menuju panggung utama, bupati dan rombongan dijemput  dengan tarian penjemputan tamu kehormatan yaitu tari tuitan.  Pementasan seni dan budaya turut memeriahkan gebyar “Mongulipot”.

Bupati mengatakan, “Mongulipot” bakal menjadi potensi wisata kuliner di kabupaten Bolmong. Menurutnya, kegiatan ini patut untuk terus dipelihara sebagai agenda tahunan dari pemerintah dan masyarakat Desa Mopait.

“Makna yang terkandung dalam perayaan kulipot adalah sebagai sarana untuk mempererat silaturahim, persaudaraan dan kebersamaan antar warga masyarakat, sekaligus lebih memperkuat komitmen dan tekad kita, guna lebih meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah SWT,” kata Bupati dalam sambutannya.

Anyaman bambu menjadi tempat favorit untuk berfoto.

Dirinya menginginkan tradisi ini gaungnya lebih besar lagi sebagaimana tradisi serupa yang ada di daerah lain semisal, tradisi ketupat yang ada di Tondano, Kabupaten Minahasa, dan tradisi binarundak yang biasa dirayakan warga Kota Kotamobagu. Tentunya ini menjadi motivasi tersendiri bagi masyarakat untuk menjawab tantangan pemerintah dimasa yang akan datang.

Usai disuguhi berbagai atraksi kesenian tradisional, bupati dan rombongan berjalan mengitari tenda-tenda sekitar lapangan yang telah dihias. Didalam tenda, telah tersaji berbagai penganan dengan menu utama, kulipot.

Advetorial

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

20 + 9 =

instink.net