Edisi Spesial Untuk BPBD Bolsel

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Kabar duka menyelimuti Tanah Air. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia Minggu 7 Juli 2019, pukul 02.00 waktu setempat di Guangzhou, China.

Sutopo meniggal dalam perjuangannya melawan kanker paru-paru di tengah perjuangannya masih sempat bertugas mengawal kejadian bencana di Indonesia. Pihak BNPB mengakui sulit mengganti figur lainnya sekaliber Sutopo untuk posisi Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB. Namanya kini diabadikan jadi ruangan di gedung BNPB.

Begitu, hampir seluruh media mainstream memberikan perhatian besar kepada Almarhum Sutopo. Tidaklah mengherankan karena peranannya sangat penting dengan pemburu berita, jurnalis, memberikan informasi terkini.

Bencana air bah di Desa Pakuku Jaya dan Milangodaa Barat Kecamatan Tomini, Bolsel, sepanjang pertengahan Juli sampai Agustus lalu, bagaimana BPBD Bolsel sebagai garda terdepan mengambil peran jadi Edisi khusus bagi saya. Editorial yang telah diunggah melalui media siber Instink.net ini (Bangun Semangat Baru), belum mengupas lebih detail; sehingga alasan mengapa Bupati Bolsel Iskandar Kamaru perlu mengambil keputusan tegas dalam perombakan kabinetnya ke depan. Bencana tidak dapat diramal kapan itu terjadi. Namun bagaimana upaya penanganan bencana dan pascabencana perlu dimatangkan sejak dini.

Sedikit gambaran umum tentang tugas utama BPBD sebagai lembaga yang berperan dalam penanggulangan bencana alam. Dilansir dalam laman resmi BNPB, tugas utama BNPB/BPBD—membedakan hanya batas cakupan—memberikan pedoman dan pengarahan terhadap usaha penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan bencana, penanganan keadaan darurat bencana, rehabilitasi, dan rekonstruksi secara adil dan setara.

Saya akan menggamblangkan bagaimana kondisi nyata BPBD Bolsel mengambil peranan ketika bencana alam menerjang warga Bolsel antara Juli dan Agustus lalu.

Inti tugas BPBD pada fungsi utamanya adalah pengkoordinasian dan informasi terkini. Penanganan keadaan darurat becana, rehabilitasi dan urutannya, secara tidak langsung akan tersinergi ketika ‘perpaduan’ dan pengumpulan data riil terkini telah terpenuhi. Sebagai pemimpin di daerah, bupati dapat mengambil keputusan yang tepat dan cepat setelah mendapat hasil perpaduan dan data riil yang akurat. Dan tentu saja, tugas perangkuman tersebut ada dipundak BPBD Bolsel.

Karut-marutnya koordinasi dan pengumpulan data/informasi teranyar oleh BPBD Bolsel membuat Bupati Iskandar dan Wabup Deddy mengambil peranan langsung. Koordinasi lintas OPD dan data/informasi diperoleh langsung dari aparat desa dan kecamatan. Betapa ironi Kepala BPBD Bolsel Daanan Mokodompit hanya membungkuk dan memegang secarik kertas kosong dihadapan Bupati Iskandar di tengah bencana menerjang warga Bolsel. Data dan informasi terkini sama sekali tidak dipenuhi BPBD Bolsel. Nihil.

Pula, alangkah tragis data yang dibutuhkan oleh pemerintah untuk dilaporkan ke BNPB dalam upaya penanganan bencana harus dikerjakan sendiri oleh Bidang Protokol Bupati, Irfan Eyato.

Tim relawan becana BPBD Bolsel tidak terkoordinasi dengan baik. Hal ini tampak cukup banyak dari mereka yang parkir di posko induk lapangan Molibagu pada masa pemulihan bencana masih sedang berlangsung. Tidak ada yang salah dari tim relawan ini. Mereka bisa bergerak dengan cepat jika mendapat instruksi langsung dari Kepala BPBD.

Gambaran lain di masa bencana melanda Bolsel. Potret tajam dan cukup menjadi pusat perhatian publik tertuju pada komunitas relawan pemuda Bolsel, PEREDAM. Mereka tergerak atas nama kemanusiaan turut membantu menggalang bantuan dan menyalurkan langsung kepada warga terdampak. Data korban bencana diperoleh tim Peredam ini dengan turun langsung di lapangan. Tidak heran atas kerja keras relawan Peredam mendapat dukungan warga Sulut, Brimob Batalyon B Perlopor Bolmong akhirnya bergabung dan mendirikan posko di markas Peredam.

Dengan renteten peristiwa tersebut di atas dan belajar dari pengalaman pahit itu, Bupati Iskandar Kamaru perlu mengambil keputusan tepat sebelum gerbong kepemerintahannya berjalan pascapelantikan Februari mendatang. BPBD Bolsel patut masuk diurutan rangking pertama dalam perombakan kabinetnya.

Bencana alam yang sudah-sudah di Bolsel dapat diambil hikmahnya dan dipetik kekurangannya untuk dievaluasi kedepan. Korban dan kerusakan dampak bencana lebih dari cukup memberikan banyak pelajaran tidak ternilai. (Faisal Manoppo)

Bagikan berita ini:

Leave A Reply

7 + 14 =

instink.net